Apakah orang yang mengaku bertuhan berarti telah menemukan Tuhan?

Apakah orang telah bersyahadat tauhid berarti telah menyaksikan Tuhan?

Apakah orang yang fasih menyebut dan memanggil Tuhan berarti telah berhasil menghadirkan-Nya?

Apakah orang yang telah salat dan bersujud berarti telah menjumpai-Nya dan berserah diri kepada-Nya?

Apakah orang yang mengaku telah menemukan Tuhan berarti telah menemui-Nya?

Apakah orang yang banyak berkata-kata tentang Tuhan berarti orang yang paling mengenal-Nya…?

Sebaliknya, apakah orang yang tidak terdengar berucap kata Tuhan berarti tidak pernah mengingat-Nya?

Apakah orang yang tidak mengucapkan syahadat secara verbal berarti tidak mengakui dan mengesakan-Nya?

Apakah orang yang tidak memperlihatkan kebertuhanannya berarti tidak merasakan kehadiran-Nya?

Apakah orang yang mulutnya jarang mengucapkan kata Tuhan berarti tidak suka mengingat-Nya…?

Siapakah TUHAN?
Apakah DIA adalah yang selalu dipanggil namanya dengan teriakan keras, dengan tatapan tajam dan kepalan tangan?

Ataukah, DIA adalah yang selalu dirasakan kehadiran-Nya dengan kelembutan dan kedekatan, sekalipun nama-Nya tak terucapkan dan tak diperdengarkan..?

Siapakah TUHAN?
Apakah DIA adalah yang selalu diperlihatkan kemana-mana dengan ancaman, perselisihan, kebencian, permusuhan, bahkan kematian…?

Ataukah, DIA adalah yang selalu menggerakkan hati kepada kebaikan, persaudaraan, dan saling berbagi kearifan dan kebajikan…?

Siapakah yang berhak bersuara atas nama Tuhan, meneriakkan nama-Nya, memegang mandat-Nya, dan bertindak mewakili-Nya…?

Apakah yang berhak itu adalah orang yang paling keras suaranya, paling tinggi mengacungkan tangan, paling erat mengepalkan tangan, paling putih mengenakan pakaian, paling fasih menyebutkan kata-kata suci, paling indah dalam berpenampilan, paling banyak memamerkan kealiman dan kemegahan cita rasa religiusitasnya, serta mengaku alim…?

Ataukah, yang berhak itu adalah orang yang cukup mengerti dalam diamnya, sunyi kata-katanya, lebih banyak menyimak daripada berteriak, yang merasa dirinya tidak tahu apa-apa dan merendah, yang cukup menasehati dengan memberikan keteladanan…?

Dulu kaum khawarij lantang meneriakkan ayat suci ke hadapan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, dan menyuruh beliau berpegang kepada Al-Quran. Seolah-olah mereka (anak-anak muda yang baru mengenal Islam itu) lebih paham daripada Khalifah yang bahkan saat bayinya ditimang dan dididik langsung oleh Nabi Islam, yang sepanjang sejarah peperangan Islam selalu menjadi pahlawan, yang seluruh hidupnya berisi hikmah, keberanian dan keteladanan…

Mereka menganggap Ali telah menyimpang dari Islam, dan memandang diri mereka sebagai paling paham Islam dan mewakilinya… Kemudian mereka bersekongkol untuk membunuh beliau. Dan, akhirnya salah satu dari mereka kemudian berhasil membunuh Ali dengan tebasan pedangnya, di mihrabnya yang terakhir… Orang yang baru akil baligh dalam beragama itu merasa lebih alim ketimbang sosok agung yang sering menemani Nabi Saw hingga wafat…

Apakah yang berhak mewakili Islam itu kaum khawarij yang berteriak-teriak menyuarakan Al-Quran dengan lantang dan keras disertai kepalan tangan dan acungan pedang, ataukah Ali yang bersuara lembut dan halus, zuhud dan menyantuni, yang menerjemahkan Al-Quran dengan perilaku dan akhlaknya?

Sepanjang sejarah, sosok khawarij ternyata tidak eksklusif hanya ada pada sebuah masa atau generasi. Sebelumnya, tipe khawarij telah muncul saat Nabi masih hidup. Kepada beliau, orang bertipe seperti mereka pernah menegur dan menyuruh Nabi untuk bertindak adil. Seolah-olah beliau tidak berlaku adil. Padahal perintah Tuhan tentang keadilan diturunkan kepada beliau terlebih dahulu sebelum kepada yang lain-lainnya, dan beliau selalu mengamalkannya sebelum menyampaikannya…

Begitu pun pada zaman ini. Sejumlah orang yang baru mengenal dan belajar agama itu dengan gagah menyebut munafik bahkan sesat kepada orang-orang alim yang jauh lebih lama mendalami agama. Hanya karena pandangannya berbeda dengan mereka, atau hanya karena mereka belum mengerti apa yang disampaikan oleh orang-orang alim tersebut…

Mereka berteriak dengan gagah. Mereka mengarahkan telunjuk dengan amarah. Mereka menatap orang-orang yang berbeda paham itu dengan sumpah serapah…

Nama Tuhan diteriakkan, sambil menebar kebencian. Nama Tuhan dikibarkan, sambil mengacungkan ancaman. Nama Tuhan ditakbirkan, sambil melakukan kezaliman…

Apakah Tuhan itu sangat jauh di langit ke sekian, sehingga harus diteriakkan dengan keras, ataukah sangat dekat dalam hati setiap orang, sehingga cukup dihadirkan dalam keindahan perilaku dan akhlak….?

Apakah Tuhan itu berada jauh di dasar bumi sehingga harus dikibarkan tinggi-tinggi, ataukah Dia selalu ada di setiap diri, mengaliri setiap tetesan darah dalam tubuh, dalam pikiran, dalam jiwa, dan dalam keindahan perilaku…?

Di manakah Tuhan, saat nama-Nya diteriakkan tetapi kezaliman terjadi justru dengan mengatasnamakan-Nya?

Di manakah Tuhan, saat nama-Nya dikibarkan namun yang dipersaksikan adalah penistaan atas ajaran-ajaran suci-Nya…?

Kata ahli hikmah, ketika seseorang kehilangan sesuatu, maka ia akan mencarinya. Ketika ia menyebut-nyebut sesuatu, berarti sesuatu itu tidak sedang bersamanya. Sebaliknya, ketika sesuatu itu sedang bersamanya, maka ia tidak mencari-carinya. Wujud yang paling nyata bahwa sesuatu itu bersamanya, adalah sesuatu itu memberi pengaruh bagi dirinya…

Sekarang lihatlah diri sendiri… Sudah berapa lama hidup dan menikmati suka dukanya? Sudah berapa banyak menyebut Tuhan, namun sudah berapa dekat DIA hadir dalam kehidupan…

Sudah berapa sering membungkukkan tubuh dalam ruku, dan menyungkurkannya dalam sujud serendah-rendahnya kepada-Nya, namun seberapa besar kesombongan merasa diri paling suci, paling mengenal Tuhan, paling alim, merasa mewakili Islam, sambil memandang orang lain musyrik, munafik, sesat, su’ atau kafir, bahkan kepada orang yang dalam berbagai hal lebih baik…

Kata Al-Quran, Tuhan sangat dekat, lebih dekat dari urat nadi setiap orang. Namun tidak semua orang bisa menemukan-Nya, apalagi merasakan-Nya, termasuk orang yang sering meneriakkan dengan keras nama-Nya…

Tuhan adalah kebutuhan setiap orang. Tak seorang pun yang tidak membutuhkan-Nya. Bangsa mana pun, generasi apa pun, dan kapan pun. Bahkan seorang yang mengaku ateis sekalipun, ia membutuhkan-Nya. Kendatipun mulutnya menolak-Nya, walaupun pikirannya menentang-Nya, namun jiwa fitrinya tetap merindukan-Nya. Setidaknya saat sakit atau sulit, saat ia merasakan ketakberdayaan dan kelemahannya, ia mengharapkan Kekuatan Lain menolongnya…

Karena Tuhan adalah kebutuhan dasar, maka siapa pun harus mencari dan menemukan-Nya. Dan upaya menemukan Tuhan adalah proses panjang yang tidak tahu di mana batasnya berakhir… Karena selama hidup, setiap orang harus terus berupaya menemukan-Nya, sesuai kemampuannya. Agar ia bisa menemui-Nya…

Dan DIA berjanji, ketika hamba-Nya mendekat satu jengkal, DIA akan mendekat satu hasta.Ketika hamba-Nya mendekat sambil berjalan, DIA akan mendekat sambil berlari. DIA akan bertindak dan memberi lebih daripada hamba-hamba-Nya…

Maka, setiap orang harus terus mencari dan menemukan TUHAN-nya. Menemukan-Nya, untuk menemui-Nya. Dan DIA akan selalu membentangkan tangan menyambut siapa pun yang berusaha mendekat…

Temukan dan temui Tuhan, agar tetap menjadi manusia…
Semoga…!

Allahummahdi qalbii…
Dan anugerahkan kemurahan-Mu untuk mendekati dan menemui-Mu…

Aamiin

Jumat, 18 Nopember 2016

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *