Zat yang menjadi Tuhan itu adalah Tuhan untuk semua makhluk, untuk semua realitas, untuk semua wujud. Baik makhluk yang nampak maupun tersembunyi, baik yang fisik maupun non fisik, yang jasmani maupun ruhani.

Dia bukan hanya menjadi Tuhan bagi sebuah entitas makhluk saja, apalagi bagi sekelompok orang tertentu saja. Dia adalah Tuhan untuk semuanya, menjaga semuanya, mengurus semuanya, mengingatkan semuanya, juga menyentil semuanya.

Ketika Al-Quran menegaskan “Rabbul Aalamiin”, itu artinya bahwa Allah adalah Tuhan untuk semua semesta jagat, segenap semesta alam. Ketika ditegaskan bahwa Dia adalah “Rabb al-samaawaat wa al-ardhi”, itu artinya bahwa Dia Tuhan bagi alam luhur dan alam rendah, alam atas dan alam bawah, alam jauh dan alam dekat, dan sejenisnya. Dan ketika disebutkan bahwa Dia adalah “Rabb al-arsy al-azhim”, itu artinya bahwa Dia adalah yang menggenggam kekuasaan agung, arasy yang agung.

Karena Dia adalah Tuhan untuk semuanya, maka Dia tidak menjadi objek klaim bagi sebuah makhluk, apalagi klaim bagi sebuah kelompok kecil dari species manusia. Dia tetap menuhani semua manusia, baik yang mukmin maupun kafir, yang muslim maupun non-muslim.

Itulah sebabnya rahmat dan kasih sayang-Nya dianugerahkan kepada semuanya: semua makhluk dan manusia. Murka dan azab-Nya juga bisa ditimpakan kepada siapa pun. Apa pun jenisnya, generasinya, etnisnya, bangsanya, bahkan agamanya. Jika seseorang atau suatu kaum melakukan suatu kebajikan, maka Dia akan menganugerahinya kebaikan, apa pun agamanya. Dan jika seseorang atau suatu kaum melakukan kesombongan dan kezaliman, maka Dia akan menimpakan keburukan kepada mereka, apa pun agamanya.

Orang yang mengaku Muslim bisa mendapatkan rahmat dan murka-Nya. Orang yang bukan Muslim juga bisa mendapatkan rahmaniyah dan ghadhab-Nya. Ayat “Jika kalian bersyukur, niscaya Kutambahkan (nikmat) untuk kalian. Jika kalian kufur, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” ditujukan bukan hanya untuk sekelompok orang, tetapi mencakup semuanya. Pesan ayat ini adalah sunnatullah atau ketetapan Allah yang berlaku untuk semua orang, siapa pun mereka.

Tuhan bukan hanya klaim milik sekelompok orang. Dia bukan milik sekelompok orang tertentu dengan busana tertentu, dengan teriakan tertentu. Hukum dan ketetapan Allah (yang berupa rahmah dan gadhab) berlaku untuk semuanya. Siapa pun mereka.

Sehingga, jangan sampai seseorang merasa sudah otomatis akan disayang Tuhan hanya karena merasa sudah mengucapkan syahadat, atau sekadar berpakaian yang dianggap ciri orang saleh, sementara mulut dan tubuhnya menyakiti dan mengganggu sesama, apalagi keburukannya itu dilakukan dengan mengatasnamakan agama dan Tuhan.

Sekadar mengaku Muslim, atau mematut-matut diri dengan tongkrongan identitas simbolik keislaman, tidaklah cukup untuk mendapatkan kasih sayang Allah. Ayat “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik” itu merupakan ketetapan Allah yang berlaku kepada semua orang, apa pun perbedaan aksidensialnya. Jadi, siapa pun yang berbuat baik, akan dicintai Allah, yang dampaknya melahirkan kecintaan dari sesama manusia. Sebaliknya, siapa pun yang berbuat buruk, akan dimurkai oleh-Nya, yang dampaknya akan melahirkan kemurkaan dari sesama juga.

Menjadi Muslim itu kenikmatan dan anugerah besar, sekaligus tanggung jawab besar. Karenanya setiap Muslim harus memantaskan dirinya layak sebagai Muslim yang keberadannya menjadi keselamatan, keamanan, dan kenyamanan bagi orang-orang sekitarnya. Menjadi contoh keteladanan bagi sesama Muslim, dan juga non-Muslim.

Kalau kita membaca sebuah riwayat, menjadi Muslim ideal itu sangat berat. Karena kata riwayat tersebut, seorang Muslim yang ideal adalah orang yang lebih baik dari 1000 (seribu) orang semisalnya. Artinya, kalau seseorang masih belum lebih baik dari 1000 manusia, berarti ia belum menjadi Muslim yang ideal.

Sekarang mari kita periksa diri sendiri, apakah kita sudah lebih baik dari 1000 orang, bahkan dari 10 orang atau kurang? Siapa yang berani menjawab ya?

Khusus kalangan non-Muslim, takkan mungkin mereka membaca kitab suci Al-Quran atau hadits-hadits Nabi (kecuali sedikit orang yang mau meneliti). Karenanya mereka takkan berkesempatan melihat keagungan dan keindahan Islam dari kitab suci dan hadits Nabi, atau tarikh Nabi. Mereka hanya akan bisa menemukan keindahan dan keluhuran Islam itu dari akhlak dan perilaku umat Islam di tengah-tengah mereka.

Karenanya, keharusan berakhlak baik itu bukan ditujukan untuk orang-orang lain di luar sana, tetapi yang pertama harus menerapkannya adalah umat Islam sendiri. “Sesunguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia”, sabda Nabi, ini maksudnya adalah akhlak semua orang. Yang akhlaknya harus baik itu bukan hanya mereka kepada kita, tetapi juga kita kepada mereka.

Siapa saja yang menerapkan akhlak mulia, berarti dia telah menyambut baik misi risalah Rasul, telah bersesuaian dengan misi bi’tsah Nabi, meskipun ia berasal dari keturunan orang biasa bahkan jelata dalam agama. Dan sebaliknya, siapa saja akhlaknya buruk, berarti dia telah membelakangi misi kenabian dan tugas kerasulan, meskipun ia berasal dari keturunan mulia atau membungkus tubuhnya dengan simbol kesalehan.

Ketika seseorang sudah bertuhankan Allah yang serbamaha, jangan sekali-kali ia merasa bahwa DIA pasti akan membelanya dan berada di pihaknya dan memusuhi orang-orang yang berbeda. Jelas, Allah itu maha adil kepada siapa pun, Dia juga maha rahman kepada siapa pun. Jangan sampai seseorang tertipu oleh halusinasi sendiri: merasa Tuhan mencintainya padahal Dia membencinya.

Maka, seseorang jangan menganggap Tuhan sebagai milik sendiri, yang harus mengikuti nafsu dan pendapatnya sendiri, yang harus sesuai dengan cara berpikir, pemahaman dan pilihan hidupnya sendiri. Jangan sampai bertukar posisi, yakni Tuhan dijadikan suruhan dirinya, sementara diri sendiri dijadikan majikan bagi Tuhan.

Kalau kita yakin Tuhan itu Esa, dan hanya satu-satunya tanpa yang lain, maka jelas Tuhan itu bukan milik suatu kaum. Karena Allah Swt adalah Tuhan untuk semuanya. Karenanya kasih sayang dan keadilan-Nya juga berlaku untuk semua makhluk-Nya. Tanpa kecuali… Kita, juga mereka…!!

Bandung,
Jumat, 20 Nopember 2020

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *