Ketahui setiap hal yang kaukatakan. Tapi jangan selalu katakan setiap hal yang kauketahui…

Ini terjemahan bebas dari pepatah Arab yang sudah umum dikenal. Orang yang pernah nyantri (pesantren mana pun) biasanya pernah mendengar atau menghafalnya. Jika pun ia belum sempat mendengarnya di pesantren, setidaknya pergaulannya di habitat yang relevan kemudian mengantarkannya untuk mengetahui pepatah ini, atau yang lazim disebut dengan mahfuzhat.

Ini redaksi Arabnya. “I’rif kulla maa taquulu, wa laa taqul kulla maa ta’rifu.”

Jika dipahami lebih melebar, terjemahannya bisa seperti ini pula..

“Pahami setiap hal yang kaukatakan. Tapi jangan selalu kaukatakan setiap hal yang kaupahami.”

Dalam konteks zaman ini, maksud “kaukatakan” di sini bukan hanya verbal lisan. Melainkan juga tulisan. Formulasinya bisa berupa kata-kata sendiri, bisa juga kata-kata orang lain yang dikopipaste lalu disebarkan kepada banyak orang via media-media sosial. Yakni medsos tanpa pemimpin redaksi, tanpa dewan redaksi, tanpa editor, tanpa redaktur pelaksana.

Sudah seharusnya seseorang mengetahui dan mengerti apa yang ia bicarakan atau tuliskan. Setiap ucapan dan tulisan di mana ia ada peran di dalamnya, harus ia ketahui, pahami dan mengerti. Tentu saja, ketika seseorang berbicara dan menulis, berarti ia memahami apa yang ia sampaikan. Bahwa kemungkinan ada kesalahan teknis atau kekeliruan yang bisa jadi tidak sengaja, atau lengah, atau sesuatu di luar kendali, ya harus segera diperbaiki dengan pengetahuannya…

Nah, artinya, jika saat berbicara dan menulis pikirannya sendiri saja, ia harus memahami apa yang ia sampaikan, maka apalagi saat men-share setiap tulisan, berita, informasi atau sejenisnya. Sharing juga harus berdasarkan pemahaman dan pengertian… Berbicara tidak patut sembarang. Menulis tidak layak ngasal. Nge-share juga tidak pantas asal bagikan.

Seseorang tidak hanya mempertanggungjawabkan ucapan dan tulisannya, tetapi juga share-share-nya. Apa yang ia share berarti apa yang ia pikirkan. Ia sependapat, sepikiran dengannya, meskipun di pengantar ia sebutkan “maaf ini hanya share dari grup sebelah”…

Terhadap ucapan dan tulisan sendiri, seseorang lebih mudah memahami dan menguasai. Sebab, ia sendiri produsen dan kreator dari ucapan atau tulisan itu.

Namun, terhadap share-share berupa informasi, isu, berita berkenaan hal-hal yang dianggap aktual, yang tidak jelas, tidak terverifikasi, bahkan mungkin juga lebih banyak fitnahnya ketimbang benarnya, maka ia tidak bisa sepenuhnya memahami dan menguasainya. Misalnya berkenaan dengan otentisitas isi, validitas data dan sumber, juga metodologinya. Redaksi kalimatnya bisa saja dipahami dengan mudah. Tetapi apakah isinya bisa dipertanggungjawabkan?

Tidak jarang, dalam diskusi tentang suatu tema, ada orang-orang pada zaman ini yang menjawab partner diskusinya dengan mengkopipaste tulisan2 orang, atau link2 yang mungkin mereka sendiri tidak mengerti benar. Sudah begitu, mereka merasa telah bertindak benar dan “memenangi” diskusi. Padahal belum tentu mereka paham tentang tema bahasan secara otentik dan otoritatif sekalipun dalam batas minimum.

Jelas, seseorang harus selalu mengetahui dan mengerti apa yang ia sampaikan (ucapan atau tulisan). Agar bisa ia pertanggungjawabkan.

Akan tetapi, sekalipun ia tahu banyak tentang sesuatu, tidak seharusnya pula ia menyampaikan semua yang ia ketahui itu. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, baik tentang konteks, sikon, audiens, juga waktu dan lainnya…

Memang ada sebagian orang yang merasa sedang berbuat baik saat menyebarkan berita-berita yang tidak jelas atau isu-isu yang belum tentu benar (fitnah). Apalagi jika berita itu ada subhanallah-nya, atau diiming-imingi pahala, atau sejenisnya. Mereka merasa sedang berdakwah, yang karenanya merasa akan berpahala.

Pada zaman ini, oleh sebagian orang, menyebarkan fitnah dirasakan sebagai berdakwah. Sepertinya ini aneh… Tapi ini memang terjadi saat ini. Dulu juga ada, bahkan berabad-abad silam sekalipun. Tapi fasilitas dan kecepatan teknologi zaman ini luar biasa tak tertandingi, sehingga produksi fitnah pun lebih mudah, efisien dan efektif lagi…

Jadi, ada sebagian orang yang merasa sedang berdakwah atau berjihad ketika mengkafirkan sesama Muslim, atau menyesatkannya, atau memfitnahnya, atau mengadu domba dengan sesamanya. Dan mirisnya, mereka melakukannya bahkan dengan menyelipkan ucapan takbir dan ayat-ayat suci atau hadits Nabi.

Ketika kemusliman orang yang difitnahnya sudah jelas sekalipun, sepertinya tidak ada penyesalan atau taubat karena telah mengkafirkannya. Padahal sabda Nabi, “Barangsiapa mengkafirkan seorang Muslim, berarti ia kafir.”

Entah apa sebenarnya prinsip dan konten dakwah yang sedang mereka ingin sampaikan itu. Dakwah adalah mengajak kepada kebaikan. Lalu, menyebarkan fitnah dan kebohongan, apakah itu kebaikan?

Kembali pada pepatah tadi..

“Ketahuilah setiap yang kaukatakan. Tapi jangan selalu kaukatakan setiap yang kauketahui…”

Karena….
Setiap sesuatu ada tempatnya.
Setiap sesuatu ada waktunya.
Setiap sesuatu ada konteksnya…
Setiap sesuatu ada audiensnya….

Pada saat orang-orang yang tidak tahu sesuatu banyak berbicara, ada sebagian orang yang memilih tidak berbicara. Dan itu bukan karena mereka tidak tahu, melainkan karena mereka tahu bahwa setiap sesuatu ada waktunya.. Dan sang waktu akan terus dipergilirkan di antara umat manusia…

Semoga Allah selalu menganugerahi kesyukuran atas semua kebaikan-Nya untuk kita semua…

Aamiin

Bdg, 11-11-2016

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *