Sekalipun ia harus memulai adu balap dari posisi paling belakang, posisi 26 (akibat sanksi), tetapi ia tetap memacu dirinya sangat cepat dan berusaha menjadi yang terbaik. Tetap semangat dan berusaha keras, menyusul semua pesaing di depannya.

Kendatipun akhirnya ia tidak mampu memimpin di posisi terdepan, tetapi ia telah berhasil menyalip 22 pembalap hebat yang tentu saja bukan orang-orang yang mudah untuk dikalahkan. Ia berada di posisi 4. Dan ia harus mengakui ada 3 orang yang berada di depannya, dan tidak bisa ia lewati,

Tetapi dengan mengalahkan 22 pembalap hebat, tentu saja itu hanya bisa dilakukan oleh pembalap superhebat. Dan ia tetap membuktikan dirinya pembalap hebat di mata dunia, terutama di mata para pendukungnya. Sejak awal ia tidak lantas loyo, pundung (ngambek), kalah sebelum bertanding dan berbagai mentalitas buruk lainnya.

Melainkan ia tetap ngotot, pantang menyerah, mengerahkan segenap kekuatan terbaik, dan menyalip semua rintangan. Dan ia berhasil sangat besar. Kekurangannya adalah karena ia tidak bisa berada di posisi satu. Tetapi dunia memandangnya wajar. Karena bahkan Lorenzo yang juara itu pun belum tentu bisa melewati 22 pembalap hebat seperti Rossi.

Seandainya adu balap itu ditambah satu atau dua putaran lagi, mungkin akan beda cerita akhirnya. Tapi pertandingan memang bukan sebuah pengandaian.

Kita pun sering mengikuti lomba, sejak SD, bahkan mungkin sebagian dari kita sekarang masih mengalaminya. Apa pun jenis lombanya. Mungkin dari sekian lomba itu, kita merasa ada peraturan atau keputusan yang tidak “beres” dari panitia, yang seolah hendak menjegal kita dari prestasi tertinggi.

Ketika kita merasakan dan melihat itu, jika kita tetap bermental juara, maka kita tetap akan menunjukkan upaya terbaik, bekerja keras, ngotot, dan mengikuti lomba dengan kekuatan dan konsentrasi penuh. Sekalipun misalnya akhir dari lomba itu kita bahkan harus “dikalahkan” oleh keadaan, kita tidak peduli. Toh kita sudah menunjukkan semangat lomba dan upaya kita yang bisa dinilai tersendiri.

Atau mungkin anak-anak kita sendiri. Mereka ikut perlombaan, olimpiade, atau lainnya. Setelah kita semangati dan dukung perjuangan mereka berlomba, lalu misalnya ada ketidakadilan panitia olimpiade yang mereka alami (dan ketidakadilan itu dirasakan pula oleh gurunya), maka pesan kita untuk mereka adalah agar mereka tetap semangat dan menunjukkan capaian terbaik.

Nilai versi juri panitia akhirnya tidak lagi dianggap penting. Melainkan nilai-nilai positif yang bisa dihayati dari perlombaan itu sendiri. Kerja keras, kejujuran, semangat lomba, melakukan upaya terbaik, dan lainnya, itu yang lebih penting.

Selagi masih ada kesempatan berada dalam track perlombaan, go ahead! Tidak usah pedulikan penghalang-penghalangnya. Dan tetap bersemangat tinggi hingga perlombaan benar-benar berakhir.

Siapa tahu suatu saat mereka dapat mengikuti lomba atau sayembara yang sebenarnya, yang fair dan profesional, yang mungkin menjadi tempat lomba yang terbaik bagi para achiever-climber yang bermental juara. Di sinilah tempat persaingan yang diharapkan oleh para pemburu keunggulan…!

Semangat Rossi, Semangat juara….!

Selasa, 10 Nopember 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *