Dulu ketika masih berusia SD, di sebuah desa perbatasan Majalengka-Cirebon-Indramayu, kami biasa membaca bersama kitab al-Barzanji. Sebuah kitab yang biasa dibaca di kalangan kaum Nahdhiyyin (NU).

Di situ kami membaca shalawat, ziarah, dan sirah Nabi Saw dalam bentuk syair atau prosa yang puitis. Anak-anak kecil seusia atau sezaman biasa mengikuti kegiatan ini secara rutin, pada setiap malam Jumat.

Pada usia itu tentu saja kami tidak mengerti arti syair dan narasi dalam kitab tersebut –dan baru bisa memahaminya setelah belajar bahasa Arab di pesantren beberapa tahun kemudian. Namun karena sering membacanya, sebagian dari syair itu sudah hafal di “luar kepala”, artinya sudah masuk dalam alam bawah sadar, sehingga sulit dilupakan hingga sekarang.

Di antara bait syair yang hingga sekarang masih hafal itu berbunyi:

Hafizha al-Ilaahu karamatan li Muhammad..
Aabaaahu al-amjaad shawnan li ismihi… Tarakuu al-sifaah falam yushibhumaaruhu…
Min Adam wa ilaa abiihi wa ummihi…

“Untuk kemuliaan Muhammad,
Allah memelihara para nenek moyangnya yang agung
sebagai perlindungan bagi namanya (Muhammad)…

Mereka (nenek moyang beliau) meninggalkan perzinaan (sifaah), dan tidak terkenai aibnya…
Sejak Adam hingga ayah dan ibunya…”

Dalam keyakinan Islam, Nabi Saw adalah hamba Allah yang ma`shum, terpelihara dari dosa, sejak dilahirkan hingga wafatnya. Bukan hanya beliau saja. Bahkan para leluhurnya pun terbebas dari amalan-amalan Jahiliah yang dilakukan orang-orang jahili pada masa mereka masing-masing, semisal perzinaan, penyembahan berhala (syirik), dan amalan jahiliah lainnya.

Para leluhur beliau terpilih menjadi pemimpin kaum pada masanya masing-masing di antaranya karena kualitas moral dan integritas spiritual mereka. Mereka adalah para pemegang millah hanifah yang diwariskan oleh moyang mereka, yakni Bapak Tauhid, Nabi Ibrahim as.

Keterjagaan silsilah Nabi itu sejak ayah dan bundanya (Abdullah bin Abdul Muththalib dan Aminah Binti Wahb), hingga kakek buyut ke atas seluruhnya, baik dari pihak ayah maupun ibunda. Silsilah Abdullah dan Aminah bertemu pada Kilab –Abdullah berasal dari sulbi Qushay (kepala kaum), sedangkan Aminah berasal dari sulbi Zuhrah. Qushay dan Zuhrah, keduanya adalah putra Kilab. Kilab anak dari Murrah, dan Murrah anak Ka`b.

Ka`b adalah keturunan dari silsilah Adnan, dan Adnan adalah silsilah dari Ismail as bin Ibrahim as. Begitu seterusnya, hingga silsilah Ibrahim berakhir pada Adam as. Termasuk ayahanda Ibrahim…

Bagaimana dengan Azar, yang disebut sebagai abi Ibrahim? Bukankah dia pembuat patung untuk disembah? Dalam sebuah versi sejarah disebutkan bahwa Azar bukanlah ayah biologis Ibrahim. Sebutan “abi” tidak selalu bermakna ayah biologis. Karena kata “Abu/abi” biasa digunakan untuk seseorang yang mempunyai kaitan tertentu dengan orang atau hal tertentu.

Misalnya, orang yang menyayangi kucing digelari dengan Abu Hurairah; orang yang suka tidur disebut dengan Abu Nawm; orang yang mencintai dan mengasuh anak yatim disebut dengan Abu al-Yatama; orang yang suka bersujud di atas tanah disebut dengan Abu Turab; dan lain sebagainya…

Selain kata abu, ada kata lain yang dimaknai sama, yakni kata waalid. Keduanya diartikan sebagai ayah atau bapak. Ketika kedua kata itu dibentuk dalam mutsanna (bermakna dua), waalidaani-abawaani atau waalidayn-abawayn, keduanya diartikan sebagai “kedua orang tua”..

Namun ada juga perbedaan antara kata abu dengan waalid… Kalau abu tidak hanya digunakan untuk ayah biologis, maka waalid digunakan untuk merujuk pada ayah biologis. Seperti ungkapan abu al-yatamaa untuk Rasulullah, itu bukan berarti bahwa belau adalah ayah biologis untuk para anak yatim. Untuk maksud yang sama, Nabi Saw tidak disebut sebagai Walid al-Yataama. Hanya dengan ungkapan Abu al-Yataama…

Oleh sebab itu, bagi yang berpegang pada teori Keterpeliharaan Silsilah Nabi Saw hingga Adam as itu, penafsiran kata abu untuk Azar tidak dimakna sebagai ayah biologis.. Sedangkan ayah biologisnya adalah figur lain –dan figur ayah seorang nabi tidak selalu harus disebutkan dalam nash. Dengan ini maka teori keterpeliharaan tersebut tidak bertentangan dengan nash ayat tentang Azar…

Karenanya, konsisten dengan teori keterjagaan silsilah Nabi Saw, maka sebutan abi untuk Azar dalam ayat Al-Quran, tidak bermakna sebagai ayah biologis, melainkan orang yang memiliki hubungan tertentu dengan Ibrahim. Misalnya karena Azar adalah saudara ayah Ibrahim yang telah banyak mengasuh Ibrahim, atau hal-hal lainnya semacam itu…

Lalu siapa ayah biologis Ibrahim? Dalam kitab al-Shahih Min Sirah al-Nabiyy al-Mushthafa, disebutkan bahwa ayah biologis beliau adalah Tarukh.

Alhasil, konsisten dengan teori keterpeliharaan sisilah Nabi Saw, maka silsilah beliau –sejak ayah dan bundanya hingga Nabi Adam itu– semuanya terjaga dari amalan-amalan jahiliyah. Dan Allah telah menjaga silsilah tersebut karena penghormatan, kecintaan dan pemuliaan untuk Kekasih-Nya, Muhammad Saw.

Dan ketika Allah mencintai seorang hamba, apalagi hamba itu adalah Nabi-Nya yang paling agung, yang karenanya alam semesta ini diciptakan, maka Dia akan memberikan yang terbaik untuk hamba tercintanya…

Allahumma shalli ala Sayyidina Muhammad wa alaa aali Sayyidina Muhammad…

Bandung, 22 Januari 2014

Ashoff Murtadha

–Dengan Cinta, Merindu al-Mushthafa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *