Dosa yang mendekatkan seseorang kepada Tuhan, jauh lebih baik daripada kesalehan yang menjauhkan dia dari-Nya.

Perilaku kesalehan belum tentu berkorelasi positif dengan kedekatan seseorang dengan Tuhannya. Sangat banyak amal kesalehan yang dilakukan bukan karena seseorang mengharapkan-Nya.

Ada orang yang menjual kesalehan untuk kepentingan dirinya.

Ada orang yang mengutip banyak ayat dan kalam suci, untuk mendapatkan keuntungan dunia bagi dirinya…

Ada orang yang mulutnya bertasbih mensucikan Tuhan, tetapi hatinya sebenarnya sedang ingin mensucikan dirinya di mata manusia; ingin agar orang-orang melihatnya suci, baik, dan dekat kepada-Nya; ingin agar ia dianggap saleh atau tidak buruk.

Ada banyak lisan yang berzikir dan fasih menyebut Allah, tetapi hatinya sedang menzikirkan dirinya di hadapan orang-orang, agar orang-orang memandangnya suka berzikir dan menganggapnya baik, saleh, dan lainnya sehingga ia mendapatkan manfaat duniawi dari tindakannya…

Ada banyak orang yang kesalehannya telah mempedayainya sehingga mengira mereka selamat dari murka-Nya dan memasuki surga-Nya.

Ada juga orang-orang yang merasa dirinya saleh dengan mengkafirkan dan memusrikkan sesama Muslim lainnya; merasa diri sebagai Muslim yang berpegang teguh pada agama ketika mereka menyerang orang-orang lain yang tidak sepaham. Seolah mereka memiliki kewenangan untuk memastikan dirinya saleh dan orang lain pendosa. Padahal Allah-lah yang melihat siapa saja yang bertakwa dan pendosa kepada-Nya…

Secara substantif, ekspresi kesalehan belum tentu merupakan kesalehan di mata Allah, yang mendekatkan seseorang kepada-Nya.

Begitu juga sebuah dosa belum tentu menjadi keburukan bagi seseorang yang melakukannya. Sebab, ada dosa yang justru membuat seseorang mendekat dan semakin dekat dengan Tuhan.

Ada orang yang berdosa, tetapi akibat dosanya itu lalu dalam hatinya datang rasa takut kepada Allah dan berharap rahmat dan ampunan-Nya…

Ada orang yang dosa-dosanya telah menghilangkan perasaan diri sudah banyak berbuat baik, dan menempatkan dirinya hina sehina-hinanya di hadapan Tuhan. Sehingga sama sekali ia tidak terpikir untuk menjual kesucian Tuhan untuk keuntungan dirinya ..

Ada orang yang dosa-dosanya menghinakan diri di hadapan Penguasa Arasy, dan melupakan keangkuhan di halaman-Nya ..

Ada orang yang dosa-dosanya telah menggerakkannya mendekat lebih dekat lagi kepada Zat Pengampun yang Penyayang; mengharap kasih-sayang-Nya, dan mendambakan syafaat Kekasih-Nya…

Dan seterusnya, dan seterusnya.

Jelas, dosa yang mendekatkan seseorang kepada Tuhan, jauh lebih baik dari ekspresi kesalehan yang menjauhkan dia dari-Nya…

Karenanya berhati-hatilah dengan kesalehan yang dilakukan: jangan sampai kesalehan itu membuat seseorang celaka dan tertipu: bangga, ujub, sombong, memandang orang lain buruk, merasa diri saleh dan merasa diri pasti selamat dengan kesalehannya, dan lain sebagainya. Justru sebaliknya, jangan-jangan tindakan kesalehan itu membuatnya menjauh dari Tuhan, menyimpang dari-Nya dan sasar dari jalan-Nya, bahkan Tuhan murka kepadanya.

Dosa yang membuat orang sadar, jauh lebih baik dari “kesalehan” yang membuatnya sasar.

Bandung, 14 September 2014

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *