Menjadi Muslim adalah sebuah proses yang terus menerus, tanpa akhir, never ending process. Proses tanpa henti dalam pemahaman, keyakinan, dan keberagamaan..

Apa yang dipahami tentang teks-teks dan narasi keislaman, adalah sebuah pemahaman yang baru bisa dimengerti saat ini, berdasarkan informasi dan logika nalar yang dimiliki pada saat yang sama, dan itu jelas masih sangat terbatas..

Apalagi ilmu2 dasar fundamental keislaman pun masih terbatas dipelajari sedikit orang saja, elitis. Terlebih lagi, tradisi intelektual dalam meneliti, mengeksplorasi, dan mengkaji masih sangat terbatas, bahkan di kalangan akademisi…

Tradisi intelektual yang dimaksud adalah sebuah sikap dan kebiasaan intelektual yang sistematis, koheren, logis, profesional dan berkonsekuensi logis…

Salah satu sikap intelektual yg tidak profesional adalah, mengambil kesimpulan yang salah (sekalipun bisa jadi telah menjalani proses dengan benar). Yang lebih parah lagi, menolak kesimpulan dari hasil penelitian yg telah melewati sekian proses dengan benar.

Apakah sikap tidak profesional secara intelektual ini mungkin terjadi di kalangan akademisi? Kita berharap ini tdk terjadi. Tapi jelas tidak ada jaminan bahwa ini tidak terjadi.. Bagi yang mengamati dunia intelektualitas, hal seperti ini bisa terlihat dan dirasakan..

Ya, itu mungkin bagian dari keterbatasan manusia. Namun intinya, jika pemahaman terbatas bisa terjadi di kalangan akademisi atau para pengkaji, termasuk orang2 yang diulamakan atau diustadzkan, maka apalagi kalangan awam yg mendapatkan informasi keislaman hanya dari “kata orang”, “kata ustadz anu”, “kata ulama anu”, “kata murabbi anu”, “kata doktor anu”, “kata profesor anu”, apalagi dari media sosial, dari situs2 tertentu yg jelas tidak membekalkan sikap dan tradisi intelektual yg kritis dn skillful.. Tentunya pemahaman yg dihasilkan akan lbh terbatas lagi.. Bahkan sangat terbatas..

Karena menyadari terbatasnya pemahaman ttg keislaman, maka sikap tawadhu, toleran dan curious (selalu mencaritahu) harus lebih diutamakan dan menjadi sikap keberagamaan.. Al-iimaanu al-shabru wa al-samaahatu, iman adalah bersabar dan bersikap lapang dada..

Seseorang harus melakukan sesuatu berdasarkan pemahaman yg benar dan baik. Namun ia harus terus mendialogkan pemahamannya itu, tanpa akhir. Sangat mungkin masih ada yang salah atau belum tuntas. Karenanya tdk perlu merasa diri paling benar, apalagi dg mengaggap yg lain pasti salah..

Untuk itu, selain mengakses informasi instan, yg lbh penting dan mendasar adalah belajar dulu ilmu2 dasar fundamental keislaman yg dulu menjadi tradisi para tokoh ulama terdahulu.. Semisal filsafat, logika, ushul fiqh, ulumul quran, ulumul hadits, kalam, muqaranah al-madzaahib, bahasa arab dn lainnya…

Ini sangat penting agar pemahaman seseorang memiliki fundamen dan konstruksi yang jauh lebih baik.

Semangat keislaman harus dinaikkan kelasnya, bukan hanya sebatas semangat emosional, tetapi harus naik menjadi kelas intelektual yang spiritual..

To be divine and wise… !
To elevate and raise God’s love…!

Bandung, 29 Maret 2015

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *