“Ketika Nabi Saw menerima wahyu pertama di Gua Hira, beliau nampak seperti bukan Muhammad yang kita kenal.”

“Maksudnya?”

“Saat usia bayi, anak-anak dan remaja, kita banyak membaca keutamaan dan tanda-tanda kenabian beliau yang sangat menakjubkan. Tentang batu yang beruluk salam dan menyapa beliau dengan sebutan Nabi saat beliau lewat (bersama paman pelindungnya, Abi Thalib). Tentang awan yang meneduhi beliau saat perjalanan ke Syam.

Tentang air deras yang memancar dari ujung jemari mulianya untuk memberi minum pamannya yang kehausan. Tentang pohon yang mendatangi Muhammad remaja dan menjuntaikan dahannya untuk memberi keteduhan bagi beliau saat perjalanan jauh ke Syiria (Syam, Suriah).

Tentang keterpesonaan Khadijah (konglomerat paling kaya seantero Arab saat itu) yang sangat kagum dengan kecerdasan, keluhuran akhlak, dan kebijaksanaan Muhammad muda yang menawan dan membuatnya kasmaran. Sosok pemuda yang dikenalnya sebagai al-Amiin (Orang Terpercaya), yang bukan saja menakjubkan semua perempuan karena ketampanannya, namun juga kesempurnaan akhlak dan akalnya.

Juga tentang kecerdasannya yang luar biasa dan menakjubkan, saat beliau mendamaikan suku-suku Arab ketika hendak menempatkan Hajar Aswad di posisinya semula. Beliau membentangkan surbannya, lalu meletakkan Batu Hitam itu di atasnya, dan meminta para kepala suku untuk mengangkat bareng dan meletakkan Hajar Aswad bersama-sama. Saat itu beliau 35 tahun, 5 tahun menjelang penobatannya sebagai Nabi. Peristiwa yang membuat orang-orang Arab waktu itu sangat ridha dan puas dengan kecerdasan al-Amiin ini.”

“Iya, kita tahu itu semua. Beliau sangat cerdas dan luar biasa sejak kecil. Kita pernah mendengar dan membacanya, bahkan meyakini kisah tersebut. Terus, kenapa? Lanjutkan..!”

“Gambaran kita tentang beliau sebelum di Gua Hira itu, pokoknya luar biasa. Sosok yang sangat agung dan menakjubkan. Sangat cerdas, pemberani, dan tak tertandingi segala-galanya. Tanpa cela, walaupun setitik paling kecil. Sangat matang sebagai sosok manusia agung, bahkan paling agung di antara seluruh nabi dan rasul sekalipun.

Pas seperti yang dirumuskan dalam 4 Sifat Wajib Bagi Nabi Dan Rasul. Yakni, FAST. FATHANAH (Cerdas), AMANAH (Terpercaya), SHIDQ (Benar, Jujur, Tidak Berdusta), dan TABLIGH (Menyampaikan). Semua nabi dan rasul pasti memiliki empat sifat yang niscaya ini. Dan Muhammad al-Mushthafa sempurna di atas semuanya.

Namun, gambaran sosok agung yang telah terbentuk kuat sebegitu rupa itu, mendadak hancur justru saat beliau dilantik, diangkat, dan dinobatkan sebagai Nabi di Gua Hira, saat menerima wahyu pertama. Pengangkatan sebagai nabi tentunya merupakan pengakuan Allah atas keunggulan agung tanpa cela yang beliau miliki itu. Pengangkatan tersebut adalah semacam wisuda dan penobatan atas capaian agung yang telah beliau tunjukkan sebelumnya.”

“Memangnya, hancur kenapa? Tolong jelaskan…!”

“Ya iya. Bagaimana tidak. Kita dengar dari ceramah2, juga baca dari buku2, bahwa saat beliau menerima wahyu pertama, beliau didatangi Jibril di Gua Hira. Pertama, beliau sangat ketakutan, gemetaran. Sosok yang keberaniannya mengungguli semua nabi ini, di sini malah terlihat sebaliknya. Sampai-sampai Jibril memeluk beliau beberapa kali untuk menenangkan dan menguatkan hati beliau.

Saat Yusuf yang masih anak-anak, di dasar sumur tempatnya dibuang oleh kakak-kakaknya, ia menerima wahyu Allah, dan tidak menampakkan ketakutan sebegitu rupa. Saat dalam gendongan ibundanya, Isa yang baru lahir itu dengan tenang dan mantap mengenalkan dirinya sebagai hamba dan nabi Allah, kepada kaumnya. Tidak ada cerita bahwa ia takut saat menerima wahyu kenabiannya.

Bahkan Maryam seorang perempuan yang bukan nabi saja tidak ketakutan saat Jibril pertama kali mendatanginya. Maryam malah menegurnya, dan berdialog dengannya. Bahkan Hannah (ibunda Musa) pun tidak ketakutan saat Jibril datang menyuruhnya menghanyutkan Musa Bayi ke sungai Nil.

Kedua, Jibril menyuruh Muhammad Agung mengikuti apa yang dia sampaikan, yakni IQRA (Bacalah) dan beberapa ayat berikutnya. Namun, Muhammad Saw tidak memahami maksud Jibril. Beliau malah berkata sambil gemetaran, bahwa beliau tidak bisa membaca. Sehingga Jibril mengulangi sampai tiga kali. Pada kali ketiga, barulah Nabi Saw memahami apa yang harus beliau lakukan, yakni mengikuti membaca wahyu seperti yang Jibril sampaikan.

Muhammad Saw perlu tiga kali untuk memahami sebuah perintah dari Jibril. Padahal Yusuf langsung paham saat wahyu pertama kali turun kepadanya di dasar sumur. Begitu pun dengan Isa bin Maryam. Begitu pula Yahya bin Zakaria. Dan lain-lainnya.

Lalu, bagaimana kita memahami makna sifat niscaya Fathanah (cerdas) yang beliau miliki? Apalagi beliau mengungguli semua nabi dan rasul di semua kesempurnaan dan keagungan.”

“Ketiga, setelah Jibril menghilang dari pandangan, Nabi Saw langsung lari terbirit-birit meninggalkan gua. Saking takutnya yang luar biasa. Sesampainya di rumah, dalam ketakutan, beliau meminta Khadijah menyelimutinya. Khadijah menghiburnya dan membesarkan hatinya. Berikutnya Khadijah mengajak Nabi Saw menemui seorang pendeta tua yang buta, Waraqah bin Naufal, ahli kitab yang masih tersisa saat itu.

Waraqah yang pendeta itu menghibur Nabi Islam, dan mengajari beliau tentang siapa sosok yang telah mendatangi beliau di gua Hira. Nabi yang sangat agung itu diberitahu tentang kenabiannya, tentang Jibril yang mendatanginya, tentang hijrah yang kelak akan dijalaninya, oleh seorang pendeta yang seharusnya belajar dari beliau. Di antara tugas seorang nabi adalah mengajar manusia. Tapi dalam kasus ini, justru beliau malah diajari, oleh seorang pendeta pula. Beliau yang memiliki sifat Shidq itu seperti belum membenarkan Jibril saat kedatangannya yang pertama.

Dan lainnya. Cerita tentang awal mula turunnya wahyu seperti di atas terus menerus dituturkan, terutama saat Ramadhan, khususnya saat bahasan dalam peringatan Nuzulul Quran. Di atas mimbar-mimbar, di forum-forum pengajian, cerita ini biasanya akan diulang lagi. Sebagian lengkap, sebagian hanya sekilas.

Nah, dengan cerita saat turunnya wahyu pertama seperti di atas, apakah ini tidak kontradiktif dengan penggambaran saat-saat beliau belum menerima wahyu pertama?

Apakah itu tidak meruntuhkan keagungan, kemuliaan, keluhuranbdan kesempurnaan Rasulullah Saw? Apakah itu tidak kontradiktif dengan Empat Sifat Niscaya bagi seluruh nabi dan rasul, yakni FAST itu?

Mohon penjelasannya…!”

?????? Oh begitu… ***

14 Ramadhan 1437
19 Juni 2016

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *