Seberapa penting masa lalu bagi seseorang? Sangat penting. Sepenting masa depan… Dengan catatan, masa lalu itu berkaitan dengan nasib masa depan…

Memangnya ada masa lalu yang tidak berkaitan dengan nasib masa depan? Ada. Malah banyak. Yakni berupa pengalaman-pengalaman hidup biasa yang rutin yang tidak mempengaruhi atau mengesankan, atau membekas, seperti makan minum tidur dan sebagainya….

Kalau masa lalu yang menentukan masa depan, apa contohnya? Contohnya, keyakinan yang menuntun hidup ini. Termasuk keyakinan yang telah terlembagakan dalam sistem agama.

Ada yang bilang, sejarah Islam itu masa lalu. Baik sejarah baik maupun buruknya. Karena masa lalu, ada yang bilang, maka tutup lembaran-lembaran itu, dan lupakan. Terutama sejarah hitamnya, jangan kauungkit-ungkit lagi, bahkan untuk penelitian kebenaran.

Saya masih ingat, dulu sekali, seorang cendekiawan senior yang sangat saya hormati, di UIN Bdg (dulu IAIN), mengingatkan (bilmakna), “Untuk apa sih kita membahas-bahas sejarah Islam masa lalu yang merah dan hitam. Lebih baik kita fokus pada rencana baik masa depan.”

Nasihat ini ada benarnya, yakni pada kalimat terakhir. Tapi kalau mempelajari sejarah masa lalu dianggap tidak perlu atau sia-sia, tidak benar. Sebab AlQuran sendiri banyak berkisah tentang masa lalu, termasuk yang buruk-buruk. Ada banyak figur atau kaum buruk yang disebut dan dikisahkan berulang-ulang. Baik namanya disebut secara eksplisit, maupun hanya diceritakan perilaku dan karakternya.

Kalau tidak penting, untuk apa AlQuran mengisahkannya dan kita terus membacanya? Kalau masa lalu dianggap tidak penting, agama yang dibawa oleh Nabi Saw juga pewahyuannya terjadi pada masa lalu. Dan agama yang kita pegang ini menentukan nasib masa depan kita semua. Karenanya, jelas penting mengetahui dan mempelajari sejarah Islam masa lalu. Sangat penting mengetahui dan mempelajari sejarah dan sirah Pembawa Islam, Nabi Saw. Bahkan sifat pentingnya sangat utama dan mendesak.

Yang merasakan pentingnya mempelajari sejarah Islam masa lalu bukan hanya peneliti sejarah, sarjana sejarah, dosen sejarah, pemerhati kajian keislaman saja, tetapi khalayak umum dengan kadar dan kedalaman yang bervariasi.

Untuk para peneliti dan pengkaji, sarjana, dosen dan mahasiswa, tidak perlu mencari alasan untuk malas mengkaji dan meneliti masa lalu Islam… Apalagi sampai menyatakan bahwa masa lalu yang buruk dari sejarah Islam harus dilupakan… Bahwa di sana ada kelemahan metodologi, kemiskinan referensi, kecacatan modal awal ilmu, ketiadaan dana, dan lain sejenisnya, ya itulah tantangannya. Mereka harus membuka semak-semak belukar yang dulu pernah dibuka oleh para pendahulu namun kini rimbun dan tak terurus lagi….

Sebab, jika kalangan seperti mereka saja malas mempelajarinya, atau tidak mau untuk mampu, mana mungkin kita berharap banyak dari kalangan umum yang tidak menyiapkan diri.

Ketika sekarang kita melihat sejumlah orang awam yang tidak berilmu berani berfatwa, menyalahkan orang lain, menyesatkan sesama Muslim, bisa jadi itu karena para peneliti dan mutafaqqih malas untuk mendalami bahasan2 penting dalam disiplin ilmu mereka secara menyeluruh, radiks dan tuntas…

Bagi orang yang memandang penting masa depan agamanya, imannya, keyakinannya, maka mereka memerlukan panduan yang valid, otentik dan mendekati kebenaran sedekat mungkin, dari masa lalu mereka, dari Pembawa Wahyu dan generasi terdekatnya…

Tidak perlu alergi pada sejarah. Terutama bagi para pengkaji yang tulus ingin menyingkap makna. Sebab ini memang tugas kebudayaan, tugas peradaban, tugas kemanusiaan, sekaligus tugas keagamaan.

Yang perlu dicatat, mempelajari masa lalu bukan untuk mengungkit keburukan, melainkan untuk menempatkan penggalan-penggalan sejarah secara proporsional, pada tempatnya. Agar puzzle sejarah bisa dipasang sesuai tempat yang semestinya. Agar kita bisa melihat puzzle itu terpasang tuntas dengan benar… Agar puzzle itu bisa menjadi panduan peta untuk meniti masa kini dan mendatang…

Dalam konteks ini, maka masa lalu itu penting, sepenting masa depan. Karena masa kini dan masa depan hanya bisa dilalui dengan pijakan masa lalu….

Dan sejarah, bukan sekadar catatan masa lalu. Sejarah adalah masa depan…!

Bandung,
19 September 2016
18 Dzulhijjah 1437

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *