Kematian adalah peristiwa biasa. Dalam sehari terjadi ribuan hingga puluhan ribu kematian di muka bumi ini. Begitu pun di sekitar kita, banyak terjadi dan tersaksikan. Kematian terus berulang di setiap zaman, generasi dan lokasi. Dan hampir seluruh kematian adalah kejadian yang biasa-biasa saja.

Akan tetapi, dari seluruh kematian yang terjadi, ada sedikit kematian yang tidak biasa. Jika kematian yang biasa adalah kematian yang memindahkan jiwa seseorang dari alam materi ke alam non-materi, maka kematian yang tidak biasa adalah kematian yang menandai perginya eksistensi seseorang dari kehidupan. Dan kematian jenis ini sedikit sekali, sangat sedikit.

Jika kematian yang biasa membuat seseorang dilupakan, maka kematian yang tidak biasa akan membuat seseorang selalu dikenang dan “hidup”. Kematian eksistensial akan meninggalkan jejak yang lama bagi orang-orang yang masih hidup. Bagi figur-figur tertentu, bahkan kematian eksistensialnya bisa “menggerakkan” dan “menghidupkan” orang-orang yang masih hidup.

Ada beberapa orang yang telah meninggal berabad-abad. Tetapi namanya bukan saja masih tetap disebut-sebut orang zaman ini, melainkan juga eksistensinya masih menerangi dan menginspirasi umat manusia. Bahkan perjuangan sebuah bangsa, bisa digerakkan karena jejak seseorang yang memiliki eksistensi diri yang sangat dahsyat.

Dalam sebuah doanya, Nabi Ibrahim memohon kepada Allah agar ia menjadi lisana shidqin (pembicaraan yang benar dan baik) bagi generasi kemudian. Dan doanya dikabulkan. Selain namanya selalu disebut-sebut oleh umat manusia hingga sekarang, bahkan banyak tindakannya dipraktekkan oleh jutaan manusia Muslim hingga sekarang dan akhir zaman. Baik prosesi haji maupun ibadah qurban. Dan kelak keturunannya pun demikian.

Jejak-jejak eksistensial Nabi Saw dan orang-orang terpilih sesudahnya terus menginspirasi dan menggerakkan umat manusia yang mencintai mereka. Sekalipun sebagian dari jejak fisik para beliau itu telah dihancurkan oleh dinastinya yang menguasai tanah kelahiran beliau, namun jejak spiritual dan eksistensial beliau masih terus terpelihara dalam keseharian umat beriman, yakni shalawat. Dan bagi umat beriman, shalawat inilah jejak batin yang sangat mengikat dan mengingat.

Perjuangan meraih kematian eksistensial adalah perjuangan setiap orang secara individual. Ia tidak bisa diwakilkan, atau dipindahtangankan. Kematian ini dirindukan oleh setiap orang, sekalipun sedikit saja yang bisa meraihnya. Bahkan seburuk-buruknya orang pun menginginkan kematian jenis ini. Kita semua juga menginginkannya.

Tentang kematian eksistensial ini, saya teringat sebuah mahfuzhat yang mudah dihafal, “Kun haditsan hasanan liman wa`aa…” Jadilah bahan perbincangan yang baik bagi orang yang mengerti…”

Kepada siapa pun yang telah berpulang menghadap Tuhan:

Assalamu alaikum ahlal qubuur, ahladdiyaar minal mukminiin innaa insyaallah bikum laahiquun.

Innaa lillaahi wa innaa ilayhi raajiuun.

“Wahai jiwa yang tenang..

Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.

Masuklah di kalangan hamba-hamba-Ku…
Dan masukilah surga-Ku…”

Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa alaa aali sayyidina Muhammad…

Bandung,
Ahad, 6 Agustus 2017

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *