Beberapa bulan lalu, di beberapa grup WA yang saya ikuti beredar tulisan yang menyebutkan beberapa sahabat Nabi Saw yang datang ke Nusantara sebagai utusan Nabi untuk menyebarkan Islam. Salah satunya adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang singgah ke Garut. Mungkin Anda juga pernah membacanya di sebagian grup WA yang Anda ikuti.

Di grup terbatas untuk diskusi, yang berisi beberapa teman sesama alumni fakultas Ushuludin IAIN SGD, tulisan tersebut juga pernah didiskusikan. Ternyata tulisan yang sama juga saya dapatkan lagi di grup WA lainnya. Saya coba memberi komentar mengenainya. Barangkali bermanfaat, saya bagikan di halaman ini.

Semangat tulisan di atas bagus. Yakni untuk memperlihatkan keagungan umat Muslim masa lalu. Atau lebih jauh, semangat tulisan ini sebenarnya ingin memfalsifikasi bahwa Islam masuk ke Nusantara melalui para pedagang dari Gujarat (dan Persia), seperti yang sudah kita pelajari dari buku sejarah. Tulisan itu juga menuduh bahwa teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat itu sebagai produksi Hindia Belanda (Snock Hurgonye).

Saya melihat dalam tulisan tersebut ada beberapa “peristiwa” yang dari segi tahun menjadi musykil terjadi, sehingga bisa jadi ahistoris. Kebanggaan pada Islam perlu dan harus, tetapi harus berdasarkan kenyataan faktual dan tidak dibuat-buat.

Sejujurnya banyak yg bisa disorot dr tulisan di atas. Itu bukan artikel ilmiah, tetapi lebih sebagai ceramah yg ditranskrip sehingga peristiwa sejarahnya loncat-loncat.

Sebagai contoh:

(1) Tulisan di atas menyebut Utsman bin Affan sebagai khalifah dari Bani Umayyah. Sekalipun Utsman memang keturunan Umayyah, tetapi dalam tarikh ia tidak digolongkan sbg khalifah dari Bani Umayyah. Kekuasaan Bani Umayyah dimulai sejak Muawiyah (keluarga Utsman) di mana saat itu Utsman sudah meninggal.

(2) Di situ disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib ke Garut pada tahun 625 M, atau sekitar tahun 3 Hijrah. Pada masa itu, Nabi Saw menghadapi Perang Uhud. Kapan Ali dikirim Nabi Saw ke Garut? Sebelum perang Uhud ataukah sesudahnya?

Kalau sebelum perang Uhud, itu musykil. Karena umat Islam di Madinah sedang terancam Quraisy yang akan balas dendam atas kekalahan perang Badar sebelumnya. Ali tentu takkan dibiarkan Nabi pergi jauh apalagi ke Nusantara yang memerlukan waktu perjalanan darat bisa berbulan-bulan.

Kenyataannya, dalam Perang Uhud peran Ali sangat dominan. Bahkan ia menjadi pagar dan tameng bagi tubuh mulia Nabi dari ancaman Quraisy. Ali adalah salah satu tentara Nabi dalam Uhud, bahkan sangat vital dalam menghalau musuh yang di dalamnya ada Khalid bin Walid.

Kalau begitu, mungkin setelah perang Uhud? Jangan lupa, setahun setelah perang Uhud ada perang yang tidak kalah dahsyat dan berbahaya. Yakni perang Ahzab atau Khandaq. Kaum ahzab (koalisi) yang berjumlah 10 ribu pasukan menyerang umat Islam di Madinah.

Pada perang Ahzab ini, lagi-lagi Ali jadi pahlawan dan satu-satunya petarung saat itu, yang membunuh Amr bin Abdi Wudd dalam duel yang hanya terjadi satu-satunya dalam Perang Khandaq itu.

Dalam suasana demikian, tidak mungkin Ali jauh dari Nabi. Karena Ali (sebagai ksatria pilih tanding yang ditakuti seantero Arab waktu itu) sedang sangat dibutuhkan kehadirannya dalam perang yang menentukan ini.

Jadi tidak logis kalau pada tahun ini Sayyidina Ali ke Garut.

(3) Dalam perang Khandaq atau Ahzab ini Salman alFarisi berperan menginisiasi pembuatan parit khandaq. Jadi Salman ada di Madinah saat perang Khandaq. Salman bertemu Nabi dan masuk Islam saat Nabi sudah di Madinah. Dia dalam posisi banyak belajar pada Nabi. Jadi kalau Salman ditugaskan berdakwah hingga ke Nusantara, di awal2 dia baru masuk Islam agak musykil.

Lagi pula, pada tahun-tahun awal Nabi di Madinah, beliau membutuhkan banyak orang hebat di sampingnya karena ancaman perang yang berulang dan sering terjadi.

Pada sekitar tahun 6 H ada perjanjian Hudaibiyah. Salah satu isinya ada genjatan senjata setahun. Nabi menggunakan masa gencatan untuk mengirim ekspedisi dakwah. Seperti ke Mesir, Romawi, Persia dan Habasyah. Itu terjadi sekitar tahun 629 H. Sekarang kita lihat tahun para sahabat itu “dianggap” pergi ke Nusantara. Di bawah tahun itu, yakni saat Islam di Madinah sedang terancam perang.

(4) Tulisan di atas menyebut jarak antara wafat Sayyidina Ali dan Umar bin Abdul Aziz adalah 7 tahun. Padahal jarak antara Yazid dan Umar saja jauh. Umar termasuk raja pada masa2 terakhir dinasti bani Umayyah. Umar bin Abdul Aziz hanya dua tahun memerintah, karena dibunuh oleh keluarganya.

Kalau disebutkan bahwa dia dan anaknya ke Sriwijaya, musykil. Karena selama memerintah Umar bin Abdul Aziz melakukan gebrakan yang mengganggu tradisi Bani Umayyah. Mengapa ia dibunuh keluarganya adalah karena kebijakannya mengusik Bani Umayyah. Dengan kondisi politik dan keamanannya di tengah keluarganya seperti begitu, apa mungkin Umar ke Sriwijaya?

Demikian, wallaahu a’lam…

(Tulisan 2 tahun lalu)

Bandung, 14 Desember 2018

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *