Mengapa Bulan Haji Jadi Bulan Nikah?

Di negeri kita, bulan Dzulhijjah bukan saja dikenal sebagai bulan qurban. Ia bukan hanya dikenal sebagai bulan haji. Ia juga bukan hanya biasa dipanggil dengan bulan Rayagung. Bahkan bulan Rayagung ini juga dikenal sebagai bulan pernikahan. Karenanya banyak orang Muslim menikahkan anak atau keluarganya di bulan ini.

Jika seseorang ditanya, “Kapan anakmu menikah?” Biasanya, terutama para orang tua dulu, jawabannya adalah, “Insyallah Rayagung tahun ini atau tahun depan.” Atau “Insyallah bulan haji yang akan datang.” Malah ada lagu dangdut yang mengisahkan si Buyung, yang sebagian liriknya berbunyi, “Bulan haji yang akan datang, panggil pak penghulu datang…dst.”

Kesimpulannya, bulan Rayagung lazim dijadikan bulan pernikahan banyak orang di kalangan umat Muslim, khususnya di negeri kita. Ini sudah menjadi tradisi turun temurun, dan masih dilestarikan oleh banyak umat Islam. Pertanyannya, mengapa bulan Dzulhijjah disebut sebagai Bulan Nikah?

Kalau bulan Dzulhijjah dinamai bulan haji, tentu mudah ditebak. Yakni karena pada bulan ini umat Islam (yang memiliki istitha’ah) berhaji ke Tanah Suci. Ketika ia disebut bulan qurban, juga mudah dimengerti, karena pada bulan ini diselenggarakan hari raya qurban, yakni hari di mana orang-orang biasa menyembelih hewan qurban dan dibagikan kepada masyarakat. Lalu, mengapa mereka biasa menyelenggarakan pernikahan di bulan ini? Uraian ini semoga bisa menjelaskannya.

Pada tahun 2 Hijriah, tepatnya pada bulan Ramadhan, terjadi perang Badar antara kaum Muslimin dengan kaum Quraisy. Kaum Muslimin diikuti oleh 313 pasukan, dan kaum musyrik Quraisy diperkuat oleh 1000 pasukan. Dalam pertempuran yang sangat menentukan itu, umat Islam menang. Dari pihak Islam gugur 13 orang, dan dari pihak kafir Quraisy terbunuh 70 orang. Dari 70 orang itu, setengahnya terbunuh di tangan Ali bin Abi Thalib, dengan pedangnya yang sangat terkenal, Dzulfiqar.

Ali bin Abi Thalib menjadi pahlawan dalam perang ini. Hingga saat itu terkenal ungkapan, “Laa fataa illa ‘Ali, wa laa sayfa illaa dzul fiqar,” Artinya, tidak ada pemuda (ksatria) kecuali Ali, tidak ada pedang kecuali dzulfiqar.”

Perang pun usai. Umat Islam kembali ke Madinah dengan kemenangan besar. Peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadhan, bulan diwajibkannya shiyam bagi umat beriman. Pada saat pulang itulah Nabi Saw bersabda kepada para sahabatnya, “Kita baru saja pulang dari jihad kecil menuju jihad besar. Raja`naa minal jihaad al-ashghar ilal jihaad al-akbar.”

Dua bulan kemudian, Nabi Saw menikahkan puterinya, Fathimah dengan Ali. Fathimah digelari al-Zahra, dan Ali digelari al-Murtadha (yang diridhai). Kapan keduanya dinikahkan? Tepatnya pada tanggal 1 Dzulhijjah tahun 2 Hijrah. Saat pernikahan agung tersebut, Nabi mendoakan kedua mempelai ini dengan kebaikan. Dan hari di mana keduanya menikah, oleh sebagian kalangan Muslim, disebut sebagai Hari Cinta, Yawmul Mahabbah.

Bertabarruk (mengambil berkah) dengan pernikahan agung dua manusia mulia ini, belakangan, umat Islam mentradisikannya sebagai bulan pernikahan. Jika mereka ingin menentukan bulan pernikahan, bulan haji selalu diprioritaskan. Bahkan, ketika khutbah nikah, di antara doa yang dibacakan adalah sebagai berikut:

“Allahumma allif baynahuma kamaa allafta bayna Ali al-Murtadha wa Fathimah al-Zahra.” Ya Allah, satukanlah kedua mempelai ini sebagaimana telau Kausatukan Ali al-Murtadha dengan Fathimah al-Zahra.

Untuk doa nikah, sebelum itu biasa juga diawali dengan kalimat “kamaa allafta bayna Muhammad al-Mushthafa wa Khadijah al-Kubra, sebagaimana telah Kausatukan Muhammad al-Mushthafa dengan Khadijah al-Kubra.”

Jadi, mengapa bulan Dzulhijjah dijadikan bulan nikah? Jawabnya, karena umat Islam ingin mengikuti jejak Nabi Saw yang telah menjadikan bulan ini sebagai bulan pernikahan puterinya dengan sepupu yang diasuhnya sejak bayi. Ini merupakan amalan tabarruk (mengambil berkah) dari tindakan mulia Rasulullah.

Mungkin selanjutnya muncul pertanyaan, boleh tidak jika menikah atau menikahkan di luar bulan Dzulhijjah, yakni pada bulan-bulan lainnya? Jawabnya, tentu saja boleh. Yang tidak boleh adalah “jika menikah setiap bulan.” (haha)…

Ohya, lalu mengapa ya bulan Dzulhijjah disebut dengan bulan Rayagung? Di kampung saya hingga sekarang (tentu saja kampung saya bukan satu-satunya contoh) bulan haji selalu disebut dengan bulan Rayagung, sebagaimana bulan Ramadhan biasa disebut dengan bulan Puasa, dan bulan Muharram biasa disebut dengan bulan Syuro.

Mengapa bulan Dzulhijjah juga disebut sebagai bulan Rayagung, yakni Hari Raya Agung…? Mudah-mudahan suatu saat bisa kita tuliskan…

Bandung, 10 September 2017

19 Rayagung/Dzuhijjah 1438 H

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *