AKUI…!

Yang buruk dari teman atau golongan kita, tinggalkan dan jauhi, sekalipun kita mengidolakannya sebegitu rupa.

Yang baik dari musuh kita, akui dan ambillah, sekalipun kita membencinya setengah mati.

Jika kita merasa diri baik, mereka juga bisa berbuat baik. Bahkan dalam berbagai hal kita mungkin perlu belajar kebaikan dari mereka.

Dan jika kita merasa mereka buruk, kita juga bisa melakukan keburukan besar yang bahkan tidak mereka lakukan.

Karena, fitrah kebaikan itu manusiawi. Setiap manusia dengan perbedaan apa pun bisa melakukannya, sesuai fitrahnya.

Juga, keburukan itu penyimpangan manusiawi. Setiap manusia dengan perbedaan apa pun bisa saja terjatuh melakukannya.

Jika mereka bisa melakukan kekufuran, kita juga bisa melakukannya. Jika kita bisa mengekspresikan wujud keimanan, mereka juga bisa mempraktikkannya dalam keseharian.

Kebaikan tidak hanya milik kita. Karena siapa pun yang cenderung kepada kebaikan, ia akan bersetia kepadanya dan berjuang menjalaninya. Kita, juga mereka.

Keburukan dan kekufuran juga bukan hanya milik mereka. Karena siapa pun yang sedang tertutup hatinya, ia bisa saja melakukan berbagai laku keburukan dan kekufuran.

Larangan kufur tidak hanya ditujukan untuk mereka, tetapi juga untuk kita. Dan perintah syukur, juga bukan hanya untuk kita, namun juga untuk mereka. Kufur dan syukur bisa dilakukan oleh siapa saja.

“Jika kalian bersyukur, niscaya Kutambahkan. Jika kalian kufur, sungguh azab-Ku sangat pedih.”

Konsep syukur dan kufur adalah ajaran yang dimiliki semua kalangan, dan berlaku untuk mereka semua. Karena, ini adalah hukum yang ditetapkan-Nya, dan diberlakukan untuk semua manusia sepanjang zaman.

Akhlak baik dan buruk juga bukan monopoli suatu kaum. Keduanya bisa dipraktikkan oleh siapa saja, dari golongan mana saja.

Maka, baik dan buruk jangan dijadikan stigma pada sekelompok kaum saja. Dalam hal ini semua kaum sama.

Karenanya, jika kita merasa diri sebagai orang baik, buktikan. Jangan memalukan…!

Jika kita merasa mereka buruk, jangan tiru hal buruk. Jangan sampai berteriak keras untuk mereka, padahal teriakan keras itu mungkin lebih pantas diarahkan kepada kita.

Dan tanpa disuruh, manusia juga melihat dan menyaksikan semua perilaku yang dipertontonkan… !

Akui kebaikan, walaupun berasal dari mereka. Dan akui keburukan, kendatipun bersumber dari kita.

31 Mei 2017

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *