Urgensi Pendidikan Berbasis Pengajaran Kitab Kuning

Al-Quran diturunkan kepada Nabi Saw dalam bahasa Arab. Diturunkan secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun. Setiapkali turun ayat-ayatnya memiliki konteksnya sendiri. Para ahli ulumul Quran menyebutnya asbabunnuzul, yang artinya sebab-sebab turun (ayat atau surah) Al-Quran.

Nabi Saw menjelaskan Al-Quran melalui hadits-haditsnya. Bahkan beliau adalah Al-Quran hidup, the living Quran. Ketika ditanya seperti apa akhlak Rasulullah, Aisyah menjawab, “Akhlaknya adalah Al-Quran.” Hadits-hadits Nabi juga berbahasa Arab.

Dari Al-Quran lahirlah banyak ilmu, pengetahuan dan kebijaksanaan yang ditulis dan dikembangkan oleh para ulama terdahulu. Dan mereka menulisnya dalam bahasa Arab. Di antaranya mereka banyak menulis tafsir tentang Al-Quran.

Karena ulama sangat banyak, maka sangat banyak pula buku yang mereka tulis, termasuk dalam tafsir. Dan karena banyaknya buku tafsir, maka banyak pula keragaman penafsiran mereka terhadap Al-Quran. Keragaman tafsir tentang Al-Quran sebanyak keragaman cara pandang, perspektif, ilmu dan konteks para ulama itu sendiri.

Penafsiran para ulama itu tersimpan rapih dalam kitab-kitab berbahasa Arab, yang dikalangan pesantren biasa disebut dengan Kitab Kuning. Mengapa disebut kitab kuning? Karena dulu kitab-kitab itu dicetak dengan kertas berwarna kuning. Di kalangan pesantren, Kitab Kuning biasa dipelajari dan dikaji oleh para santri. Para santri di pesantren beruntung dapat membaca dan mempelajari ilmu dan keragaman cara pandang para ulama dalam memahami dan menafsirkan Al-Quran.

Selain belajar bahasa Arab, mereka yang belajar dan mengkaji Kitab Kuning juga akan mempelajari bagaimana luasnya ilmu-ilmu Islam dan tafsir Al-Quran yang luar biasa kaya. Banyak perspektif, banyak riwayat, banyak cara pandang, dan lain sebagainya. Ini membantu mereka memiliki cara pandang yang kaya pula terhadap berbagai hal, termasuk dalam hal keagamaan.

Orang yang memiliki ilmu dan wawasan yang kaya akan memiliki kepribadian yang siap dan matang. Ilmu akan menuntun hidupnya. Dan, tidak kalah penting, ia akan memiliki cara pandang yang positif terhadap keragaman, toleran, menghargai perbedaan, dan hal-hal positif lainnya.

Namun, berapa banyakkah anak-anak usia sekolah yang belajar di pesantren? Tentu saja tidak semua, karena mayoritas anak-anak justru tidak belajar di pondok pesantren. Padahal apa yang terdapat dalam Kitab Kuning itu sangat penting bagi tumbuh kembang anak dalam memahami agama.

Itulah sebabnya, sejak kepemimpinan Dedi Mulyadi, pemerintahan daerah kabupaten Purwakarta memiliki kebijakan memasukkan Kitab Kuning dalam kurikulum pendidikan sekolah. Para siswa (Muslim) belajar dan mempelajari Kitab Kuning di sekolah-sekolah mereka.

Setelah anak-anak terbiasa membaca dan mempelajari Kitab Kuning, bahkan pada tahun 2017 lalu, pemerintah kabupaten Purwakarta pernah mengadakan Musabaqah Tilawah Kitab Kuning. Boleh jadi, di seluruh Indonesia, musabaqah (lomba) jenis ini merupakan yang pertama kali diadakan oleh sebuah pemerintahan daerah.

Seperti yang pernah disampaikan oleh Kang Dedi Mulyadi dulu, bahwa di antara tujuan memasukkan Kitab Kuning sebagai kurikulum sekolah adalah untuk mengikis radikalisme dan intoleransi. Selain berdampak positif secara keilmuan bagi para siswa, kebijakan ini juga merupakan cara unik dan edukatif untuk menumbuhkan sikap tasamuh, toleran, saling menghargai, wasathiyah, dan sebagainya dalam diri anak. Dan ini merupakan manifestasi dari pendekatan cara budaya yang berbasis kearifan lokal.

Kitab Kuning adalah bagian dari khazanah Islam, khususnya di Indonesia, termasuk Purwakarta. Mengingat penting dan strategisnya posisi Kitab Kuning bagi tumbuh kembang dan pendidikan anak, maka program pendidikan berbasis pengajaran Kitab Kuning terus dilanjutkan dan disempurnakan oleh kepemimpinan baru, Bupati Anne Ratna Mustika dan wakilnya Haji Aming.

Dengan tekad untuk melanjutkan Purwakarta Istimewa, pasangan Anne-Aming menjadikan pendidikan sebagai aspek terpenting untuk membangun kualitas daerah. Sebab, “Kualitas seseorang berawal dan berakhir pada pendidikan.”

Purwakartaku Purwakartamu. Purwakarta kita semua…

Sampurasun…

Bandung, 28 September 2018

Bagea

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.