Ulama Bertamu ke Gereja

Bagaimana Islam bisa menyebar ke semua manusia yg beragam agama dan keyakinan, jika ulamanya bertemu non Muslim di rumah ibadah mereka saja dipermasalahkan… ?

Jika ulama Islam saja dipersoalkan karena masuk gereja dan bertemu orang-orang non Muslim, lalu siapa yang akan menyampaikan Islam kepada mereka.

Dulu para wali dan penyebar Islam awal menemui banyak orang yang beragam, dengan karakter, perangai dan keyakinan yang bermacam-macam. Mereka mendatangi berbagai tempat, baik tempat yang dianggap baik maupun buruk (maksiat). Mereka ikut berbaur dengan kehidupan manusia pada masa itu, berada di tengah-tengah mereka. Hasilnya, berkat mereka, negeri Nusantara ini kini mayoritas Muslim.

Jika menemui orang-orang berbeda keyakinan di tempat ibadah mereka dianggap sebagai sebuah kesalahan, lalu yang benar seperti apa: menyuruh mereka memasuki masjid? Nanti kalian protes lagi.

Kata sebagian orang, “Memasuki tempat ibadah non Muslim akan mempengaruhi keimanan seorang Muslim.” Lha, jika kalimat itu ada benarnya, mungkin itu berlaku bagi orang-orang awam yang baru tahu Islam sekadar baca huruf hijaiyah. Tetapi, masak itu juga berlaku bagi seorang ulama?

Lagi pula, cobalah periksa keimanan kita. Jika bertemu non Muslim saja kita takut iman kita tercemar dan terpengaruh, maka silakan pertanyakan lagi kualitas iman kita. Pada saat keimanan mereka tidak terpengaruh kendati setiap hari mendengar azan lima kali dekat dengan telinga mereka, masak keimanan kita terganggu hanya karena sesekali bertemu mereka di rumah ibadah mereka?

Silakan pertanyakan lagi kualitas keimanan kita, yang selalu salat minimal lima kali sehari semalam ini. Lalu bandingkan dengan keimanan mereka yang beribadah hanya sekali dalam seminggu dan menyaksikan peribadatan Muslim setiap hari.

Jangan-jangan, salat lima kali sehari kita, tilawah Al-Quran harian kita, shaum sebulan Ramadhan kita, umrah-haji kita, dan lain-lainnya selama ini tidak memberi dampak positif apa-apa bagi penguatan keimanan kita. Dan bila itu terjadi, betapa malangnya kita hingga hari ini, dalam usia saat ini.

Hanya orang lemah yang takut pada pengaruh orang. Orang kuat takkan terganggu oleh kondisi orang lain, sekalipun orang lain itu dianggap kuat. Perasaan lemah adalah ekspresi dari keyakinan yang lemah. Maka silakan periksa di mana tingkat keimanan kita.

Dan jika pun kita adalah orang-orang yang lemah keyakinan, maka jangan anggap bahwa Muslim lain sama-sama lemahnya dengan kita, apalagi Muslim lain itu sosok ulama. Kecuali jika orang yang kita anggap ulama itu sebenarnya adalah orang awam yang baru belajar baca Al-Quran tingkat paling pertama, bahkan alif bata pun belum bisa.

Bandung, 16 Oktober 2018

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.