Tidak Ada Nabi yang Disakiti seperti Aku Disakiti

Tidaklah seorang manusia dipilih Tuhan sebagai Nabi kecuali karena ia adalah manusia istimewa dan luar biasa. Makin tinggi kualitas seorang nabi, maka ia makin istimewa dan makin luar biasa.

Allah takkan sembarangan mengamanatkan risalah agung-Nya kepada manusia yang tidak memiliki keistimewaan deferensiatif dan keunggulan superlatif. Apalagi, untuk wahyu dan risalah yang luar biasa, tentu saja Dia hanya akan pilihkan hamba-Nya yang juga luar biasa.

Anugerah kecil hanya akan diberikan kepada orang kecil. Anugerah besar besar hanya akan diberikan kepada orang besar. Amanat terberat juga hanya akan diserahkan kepada manusia dengan kaliber yang sangat berat. Sesuatu hanya akan menempati wadah yang tepat baginya.

Untuk al-Musthafa, Allah telah karuniakan segalanya yang paling utama, karena beliau adalah hamba-Nya yang paling utama. Bahkan karena kecintaan kepada Sang Nabi Saw, Dia ciptakan alam semesta ini.

“Sekiranya bukan karena engkau (hai Muhammad), niscaya takkan Kuciptakan jagat semesta ini,” firman Allah dalam sebuah hadits qudsi.

Manakah pernyataan yang benar: Nabi Saw itu mulia karena wahyu turun, ataukah wahyu turun karena Nabi mulia?

Karena sesuatu diberikan sesuai kapasitas penerimanya, maka tentu saja beliau sudah mulai sejak wahyu belum diturunkan. Kenabian paling agung turun untuk Sang Yasin Muhammad karena beliau pantas menerimanya. Jadi, wahyu turun karena Nabi sudah mulia. Dan beliau makin mulia setelah wahyu dianugerahkan kepadanya.

Hanya manusia luar biasa, yang mendapatkan kecintaan yang luar biasa, dari Zat yang Maha Luar Biasa…

Arti “basyar” itu bukan “manusia biasa”, melainkan jenis makhluk bernama manusia, bangsa manusia, yang biologis fisiknya manusia: lahir, tumbuh, besar, tua, makan, minum, tidur, mengantuk, lelah, duduk, berdiri dan berjalan. Memakan makanan dan berinteraksi dengan kehidupan. Sekali lagi, basyar itu berkaitan dengan dimensi fisik biologis, bukan bermakna “manusia biasa” yang diucapkan sebagian orang.

Menyebut Nabi Saw sebagai manusia biasa, setidaknya menjerumuskan diri pada dua keburukan yang tidak patut dilakukan oleh seorang Muslim yang mukmin, yakni: (1) merendahkan Nabi, dan (2) menganggap diri sederajat sama dengan beliau. Yang pertama menghinakan Nabi, dan yang kedua menyombongkan diri.

Nabi itu suci sejak diciptkan, terjaga sejak dilahirkan, terpelihara saat tumbuh berkembang, terpuji saat mengukir sejarah kehidupan, dan mulia saat kembali menghadap-Nya pulang. “Dan telah Kami tinggikan untukmu sebutanmu, wa rafa’naa laka dzikrak,” (QS al-Insyirah ayat 4).

Namun, dalam kemuliaan dan keagungannya, beliau tetap saja menerima perlakuan tidak sepantasnya dari sekelompok orang yang bahkan mengaku umatnya. Hingga akhir kehidupan nanti.

“Tidak ada nabi yang disakiti (oleh umatnya) seperti aku disakiti (oleh umatku),” sabda beliau suatu ketika.

Shalluu ala al-Nabiyy Muhammad…!!!

Bandung, 10 September 2018
29 Dzulhijjah 1439

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.