Terus Berbakti, Membangun Negeri

Bekerja adalah ekspresi gerak. Orang yang bergerak berarti ia hidup. Orang yang tidak bergerak, berarti mati. Kalau orang ingin hidup, ia harus bekerja, harus beraktivitas. Karena dengan bekerja dan beraktivitas, ia bisa membuktikan dirinya hidup.

Diam itu mati. Di Cina, menganggur itu kejahatan. Pelakunya menerima hukuman. Untuk hidup, orang harus bekerja. Untuk baik, ia harus melayani. Agar awet muda dan bahagia, ia harus bekerja dan mengabdi dengan cinta.

Bekerja juga merupakan fitrah dari kehidupan ini. Orang yang tidak bekerja, berarti ia meninggalkan fitrahnya. Orang yang tidak menjalani fitrahnya berarti sedang menyimpang dari kemanusiaan yang harus ia jalani dalam kehidupan. Dan orang yang menyimpang dari fitrah hidupnya berarti ia tidak normal.

Karenanya, kalau orang ingin hidup dengan normal sesuai fitrahnya, dan tetap hidup dalam hari-harinya, ia harus terus bekerja, terus beraktivitas. Apa pun posisi dan peran yang ia miliki.

Bagi sebagian orang, bekerja mungkin melelahkan. Tetapi berdiam saja justru lebih melelahkan. Lagi pula, kelelahan habis bekerja bisa dihilangkan dengan beristirahat sebentar atau berpindah kegiatan. Tetapi kelelahan karena berdiam diri malah kian membuat kepala pusing, jiwa murung, dan tidak menghasilkan apa-apa.

Akan tetapi, bagi orang-orang tertentu yang menikmati setiap pekerjaan dan aktivitasnya, bekerja itu hanyalah kebahagiaan saja. Tidak melelahkan, malah menyehatkan dan menyegarkan. Saat ditanya apakah dirinya tidak cape terus ke sana kemari menemui dan membantu warga di berbagai daerah, hingga belasan titik kunjungan dalam sehari, Kang Dedi menjawab, “Seperti ikan yang terus-menerus berenang dalam air, tidak berhenti, tanpa lelah dan cape. Mengapa? Karena berenang adalah pekerjaannya, dan air adalah kehidupannya. Begitulah pula saya. Berjalan dan menemui orang adalah pekerjaan saya. Sedangkan masyarakat adalah kehidupan saya.”

Dari dulu hingga sekarang kita saksikan Ki Sunda yang terus melangkah. Aktivitasnya tidak ditentukan oleh posisi struktural yang ia emban. Selesai dari suatu pekerjaan atau perhelatan, ia sudah sibuk lagi dengan aktivitas lain yang menjadi kebiasaannya.

Saat kecil dulu ia pernah menjadi budak angon, penggembala kambing. Pernah menjadi tukang ngarit (penyabit rumput untuk kambing peliharaan) dan pencari tutut untuk dimakan bersama keluarganya. Pernah menjadi tukang ojeg dan juga buruh pabrik. Tetapi siapa sangka kemudian ia menjadi anggota DPRD Purwakarta dan menjadi anggota dewan termuda saat itu. Siapa sangka pula kemudian ia menjadi wakil bupati Purwakarta selama 5 tahun, dan akhirnya menjadi bupati di kabupaten yang sama selama 10 tahun.

Semua fase hidupnya ia jalani karena dorongannya untuk terus bekerja dan melayani masyarakat. Dan prestasi kepemimpinannya diakui oleh banyak kalangan, bahkan melampaui prestasi berbagai daerah dan kota lainnya yang secara modal anggaran dan modal politik seharusnya lebih baik.

Bagi orang yang menjadikan pelayanan dan pengabdian sebagai jalan dan pilihan hidupnya, maka posisi dan peran apa pun akan menjadi istimewa dan dijalankan dengan kesungguhan. Tidak peduli seberapa besar anggaran dan modal sosial-politik yang ia miliki. Itulah yang diterapkan oleh Dedi Mulyadi. Baginya, visi dan inovasi jauh lebih penting untuk menjadi modal dalam membangun sebuah negeri. Dan itu terbukti…!

Ketika Juni 2018 yang lalu mengikuti kontes Pilgub Jabar, dan belum berhasil mendapatkan mandat untuk memimpin Jawa Barat, langkahnya tetap ia ayunkan panjang dan lebar. Ia tetap berkunjung ke lintas daerah dan membantu warga di daerah-daerah berbeda. Sekalipun secara administratif ia berdomisili di Purwakarta, tetapi ia tetap mengunjungi Tasikmalaya, Bekasi, Karawang, bahkan Jakarta. Mengapa? Karena mengabdi dan melayani adalah jalan hidup yang ia pilih.

Saat ini sosok yang saya sebut sebagai Ki Guru ini sedang menjalani takdir berikutnya, yakni maju sebagai calon anggota DPR RI dari Dapil Purwakarta-Karawang-Bekasi, melalui jalur partai Golkar di mana ia sebagai ketuanya di DPD Jawa Barat. Ini diambil untuk menguatkan upaya pengabdian dan pelayanannya selama ini, untuk memuliakan rakyat. Figur seperti Ki Guru hanya membutuhkan ruang untuk bisa terus bekerja dan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Empat komitmen yang menjadi tekad Ki Sunda dalam perhelatan politik Pileg 2019 ini, yakni:

Pertama, menghibahkan seluruh penghasilannya sebagai anggota DPR RI untuk pendidikan anak yatim dan pembangunan rumah rakyat miskin. Kedua, menyiapkan fasilitas pengobatan gratis, ambulance gratis untuk warga yang membutuhkan di wilayah Purwakarta, Karawang dan Bekasi. Ketiga, mendorong pembangunan infrastruktur jalan, kesehatan, irigasi, sekolah, puskesmas, dan rumah layak huni di wilayah Purwakarta, Karawang dan Bekasi. Keempat, memberikan beasiswa untuk hafizh Al-Quran dan anak berprestasi dari keluarga miskin untuk mengikuti jenjang pendidikan S1, S2, dan S3.

Dalam kondisi saat ini, rakyat memerlukan banyak sosok yang benar-benar bisa bekerja, memperhatikan dan memuliakan manusia. Dan salah satu sosok terbaik Jawa Barat yang track recordnya sudah teruji dan terbukti itu adalah Kang Dedi Mulyadi. Sosok yang selalu siap membangun negeri. Mengabdi dengan hati…!

Mengabdi adalah jalan hidup orang-orang merdeka. Melayani adalah akhlak kaum bijak waskita.

Salam rahayu, Ki Guru dan Ki Sunda..

Bandung, 4 Agustus 2018

Bagea

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.