Si Mungil Dedi Mulyadi

Perawakannya kecil. Posturnya sedang. Kurus tidak terlalu, tapi jauh dari gemuk. Limabelas tahun memimpin Purwakarta tidak ia gunakan untuk menggendutkan tubuh. Pendek tidak, tinggi juga tidak. Sedang-sedang saja. Kalau dibandingkan dengan kebanyakan figur lain, ia cenderung kecil dan mungil.

Tapi lihat dan perhatikanlah sosok si Mungil ini. Kalau berjalan, ia seperti sedang berlari kecil. Jika Anda ingin berjalan bersamanya, bersiaplah “kagugusur”. Tapi ada hikmahnya, orang yang biasa jalan lambat, bisa mendadak terbawa cepat. Kalau mau berolah raga yang berkeringat, cukup temani si Mungil ini berjalan.

Geraknya lincah dan ringan. Refleksnya spontan. Teu hese ngalengkah. Orang yang lebih dulu berjalan di depannya bisa segera ia susul.

Kalau berbicara, suaranya nyaring. Bahasanya egaliter. Kalau berbincang, sering bernada canda. Gesturnya juga tidak dibuat-buat. Ia lebih terlihat sebagai rakyat biasa ketimbang seorang panggede.

Sering diledek bahkan dibully. Tapi ledekan bahkan hinaan dihadapinya dengan santai. Bahkan serangan tidak digubrisnya.

Pekerjaannya sehari-hari adalah menemui masyarakat, orang-orang kecil, mendengar keluhan dan curhat mereka, di gubuk-gubuk emak tua, menemui pedagang kecil, berlumur lumpur sawah, dan pasir pantai.

Karenanya ia jadi idola banyak kalangan dan usia. Dari gadis hingga janda. Dari anak kecil hingga nini-nini. Kemana pun ia menemui orang-orang, mereka ramai ngariung dan ngabring bersamanya. Saat ini ia sudah jadi magnet masyarakat Jabar, yang kekuatannya bahkan sudah mengalahkan magnitudo sosok yang mau dicapreskan.

Ia bukan hanya sudah diidolakan masyarakat. Bahkan sudah memasuki tahap dicintai. Banyak orang yang rela berkorban dan berjuang untuknya, sekalipun belum pernah bertemu sama sekali. Semakin sering ia “diserang”, justru ia semakin dibela dan dicintai. Justru makin populer dan melekat.

Kakinya biasa tidak mengenakan alas. Alasannya, “karena saya ingin kaki dan kulit saya bersentuhan dan menyatu dengan tanah yang menjadi asalnya.”

Jika sedang berbicara, kalimat-kalimatnya keluar lancar, tanpa tersendat seperti orang baru belajar berbicara. Tetapi pembicaraannya berisi, kata-katanya merepresentasikan gagasan berkelas yang sudah akrab di kepala dan lisannya.

Ya, itulah Dedi Mulyadi, pemimpin jaman kiwari. Tidak bauan, tidak jaim, suka tutulung suka tatalang. Dekat dan akrab dengan siapa saja. Mudah bergaul dan merangkul kalangan mana saja.

“Nu jauh urang deukeutkeun…
Geus deukeut urang layeutkeun…
Geus layeut urang paheutkeun…
Geus paheut urang silih wangikeun… ”

Itu sebagian kalimatnya yang sering ia sampaikan…

Bagea, Kang Dedi…

#pilihnomor4
#deddydedi
#pemimpinjabar

(silakan share dan like halaman ini, Bagea Kang Dedi)

Bandung, 6 April 2018

Bagea

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.