Sertifikasi bagi Para Ustadz

gonusa.com //– Bagi sebagian orang, sebutan ustadz atau ustadzah itu mungkin sebuah kehormatan. Karenanya ada yang mengupayakan dan memperjuangkannya. Bagi orang-orang tertentu, sekalipun keilmuannya tidak cukup dan pantas, sebutan ustadz yang sudah kadung disematkan kepadanya itu dengan bangga pula dijejerkan sebelum namanya.

Di negeri kita ini siapa yang disebut ustadz atau ustadzah itu tidak jelas. Sama halnya dengan sebutan ulama. Bahkan sangat mudah dan sembarangan, tanpa kriteria standar minimum yang bisa dipertanggungjawabkan. Ada orang yang baru bisa baca Al-Quran sesuai tajwid saja, oleh orang-orang sekitarnya sudah dipanggil ustadz. Orang baru bisa menyebut akhi-ukhti, abi-umi, ana-antum saja sudah dipanggil ustadz. Orang baru senang mengenakan peci putih, atau jubah dan berjenggot saja sudah dipanggil ustadz.

Dan begitu sekali sebutan ustadz disematkan kepada seseorang, maka sebutan itu akan terus diulang-ulang oleh orang-orang lain sekitarnya. Sehingga lama kelamaan orang itu lekat dengan sebutan ustadz dan terus dipercaya berceramah atau berkhutbah. Ketika kemudian ketahuan banyak yang salah dari omongannya, ada ketidakenakan untuk memintanya tak lagi berceramah.

Jika pun ada masyarakat yang mencoba mengingatkannya, mungkin masyarakat itu akan dianggap memiliki sentimen pribadi atau iri hati. Sementara orang bersangkutan sudah merasa nyaman dan terhormat dengan panggilan yang tidak pantas baginya itu. Lebih tepatnya, ia tidak mau tahu diri, sadar diri, atau memeriksakan diri.

Maka ketidakpantasan pun terus berlangsung, dan berpindah tempat, bahkan “naik kelas”. Jika semula ia hanya di lingkungan masjid atau tetangga sekitar, maka berikutnya berpindah-pindah ke berbagai tempat, komunitas bahkan media. Jika semula ia hanya di depan sebuah halaqah kecil atau di atas sebuah mimbar surau mungil, kini bahkan tampil dalam acara besar yang diliput luas.

Sepertinya belum lama kita umat Islam Indonesia dikejutkan oleh anak muda yang sudah kadung disebut ustadz dan tampil di TV. Di depan jamaah ibu-ibu yang ditayangkan sebuah stasiun TV ia menyebut adanya pesta seks di surga kelak. Lalu ada lagi orang-orang lain yang berceramah politik, serta menebar kebencian dan penyesatan, tapi kostum yang dikenakannya menyimbolkan seolah-olah mereka ustadz. Orasi politik kebencian dianggap sebagai ceramah keagamaan.

Dan sekarang kita baru saja diramaikan adanya sosok “ustadzah” yang salah menulis ayat-ayat Al-Quran dan tulisan Arab.

Ini sesuatu yang memalukan sekaligus mengingatkan masyarakat, juga media. Banyak umat saat ini sedang senang belajar Islam. Tetapi kini mereka kembali disadarkan bahwa ternyata tidak mudah menemukan siapa sebenarnya yang pantas menjadi ustadz bagi mereka. Mereka harus segera selektif terhadap orang-orang yang layak mengajarkan agama kepada umat yang sedang mau belajar ini.

Jika untuk mengendarai motor saja harus ber-SIM. Jika untuk menjadi dokter umum saja belajarnya bertahun-tahun dan harus melewati sekian ujian. Jika untuk menjadi pembuat kue saja harus ada sertifikatnya. Jika untuk mendaftar sebagai penjahit di sebuah pabrik pakaian saja harus ada sertifikatnya. Lalu, untuk mengajarkan urusan dunia akhirat kok tidak ada.

Dulu sempat dikontroversi tentang gagasan Menag berkenaan dengan sertifikasi bagi para penceramah di masjid-masjid. Bagi mereka yang paham persoalan serius keumatan, sebenarnya gagasan Menag memang sebuah kebutuhan mendesak yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat. Gagasan Menag ini ditentang oleh kalangan yang mengaitkannya secara politis.

Namun sejujurnya sertifikasi ulama itu perlu dan mendesak. Sertifikasi ustadz/ah itu juga perlu dan mendesak. Diperlukan kompetensi standar minimal untuk menjadi seorang ustadz/ah, apalagi ulama. Standarisasi minimal dan sertifikasi ini merupakan kebutuhan umat sekarang. Agar malpraktek dalam keagamaan tidak terus berulang. Sebab ini tentang sebuah peran dan tugas suci yang dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat. Karena malpraktek dalam keagamaan bisa berdampak pada tersesatnya umat manusia dalam waktu yang lama, mungkin hingga dibawa mati.

Sejujurnya kita adalah umat yang masih belum tahu banyak tentang Islam. Dan karena kita ingin selamat di dunia dan akhirat, maka kita perlu memastikan bahwa kita diajari Islam oleh orang-orang yang pantas dan layak mengajari umat. Karena Allah menuntut kita, “ayyukum ahsanu ‘amalan.” Siapakah yang terbaik amalannya.

Karena Islam adalah agama yang menghendaki superlativitas, bukan agama yang alakadarnya.

Wa maa tawfiiqii illaa billaah
alayhi tawakkaltu wa ilayhi uniib…

Bandung, 8 Desember 2017

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.