Semua Manusia Tertidur. Ketika Mati, Mereka Terbangun

Judul di atas adalah terjemahan dari hadits Nabi Saw. Redaksinya singkat, mudah diingat, dan maknanya padat. Bahasan mengenainya bisa berpanjang halaman, dan berbanyak sudut pandang. Dan apa yang akan saya tulis di bawah ini hanyalah berupa sedikit ulasan sebagai apresiasi atas hadits Nabawi yang saya nilai luar biasa ini.

Sebagai sebuah hadits, tentu saja redaksi aslinya berbahasa Arab. Inilah redaksinya. “Al-naasu niyaam, idzaa maatuu intabahuu..” Jika diterjemahkan secara sederhana, makna hadits ini adalah sebagai berikut: “Manusia itu sedang tertidur. Ketika mereka mati, barulah mereka terbangun.” Menurut hadits ini, manusia yang saat ini sedang hidup, sejatinya sedang tidur. Lalu kapan mereka tersadarkan atau terjaga dari tidurnya? Jawabanya: saat mereka sudah mati, memasuki alam keabadian.

Memang, tentang kapan saat manusia disebut tidur dan terbangun, mimpi dan terjaga, bisa relatif. Tergantung dari mana melihat, perspektif apa yagn digunakan. Dalam sebuah perspektif, misalnya, kita pernah mendengar sebuah lagu yang menyebutkan bahwa kematian adalah tidur panjang. Kita juga acapkali mendengar ungkapan bahwa orang yang mati itu sedang berada dalam peristirahatan yang terakhir. Dan orang-orang yang mengantarkan jenazah disebut sedang mengantarkan mereka menuju peristirahatan yang terakhir pula.

Ada juga yang menyebut kematian sebagai awal perjalanan menuju keabadian. Kematian adalah saat seorang meninggalkan dunia yang fana, menuju akhirat yang baqa. Kematian juga dilihat sebagai sebuah persinggahan. Dalam hadits yang lain, Nabi Saw pernah menyebutkan bahwa kematian adalah akhir persinggahan (manzil) dunia, dan awal persinggahan akhirat.

Di sisi lain, kematian juga dilihat sebagai awal keterjagaan seseorang dari tidur sekian lama. Perspektif inilah yang dimaksudkan dalam hadits ini. Dengan begitu, Nabi pun memandang kematian dari berbagai perspektif. Yakni, kematian dilihat sebagai awal keterjagaan dari tidur panjang.

Nah, jika sekarang orang-orang yang tengah hidup ini dianggap sedang tidur, berarti sebelum hidup di dunia ini mereka pernah terjaga. Dan akan terjaga lagi saat mereka mati nanti. Sehingga di antara dua masa keterjagaan itu terdapat masa ketiduran, dan itu terjadi dalam kehidupan dunia ini. Jadi, dulu sebelum lahir, manusia itu sudah terjaga. Saat lahir dan hidup di dunia, mereka tertidur. Dan kelak, saat mati, mereka terbangun kembali.

Lalu, apa yang menyebabkan kondisi tidur di alam dunia? Karena, dunia adalah alam materi ini, alam fisik, alam jasmani. Dan fisik itulah yang menghalangi orang-orang dari keterjagaan. Alam materi itu penghalang ruh dari keterjagaan dan kesadaran. Semakin tebal fisikalitas seseorang, maka semakin dalam dan nyenyak tidur dia. Orang seperti sulit dibangunkan dan disadarkan, dan sangat asyik dan terlena dalam ketaksadaran mereka.

Sebaliknya, ketika fisikalitasnya tipis, minim, maka dalam kondisi tidur pun ia bisa merasakan kesadaran dan keterjagaan. Semakin tipis dan minim lagi, maka semakin bagus pula tingkat keterjagaannya. Dalam kaitan inilah Nabi Saw pernah menyatakan, “Kedua mataku tidur, tetapi hatiku tidak.” Ini untuk menggambarkan bahwa dalam kehidupan yang disebut sebagai tidur itu pun, seseorang bisa menghidupkan hatinya agar tetap terjaga. Bagaimana agar hatinya tetap hidup dan terjaga, jawabnya adalah dengan mengurangi kepekatan fisikalitas dan memperdalam spiritualitas.

Dulu di alam arwah, semua ruh bersaksi atas Ketuhanan Zat Yang Tak Terhingga, Tuhan. Dalam ayat Al-Quran disebutkan mengenai kesaksian mereka, “Qaaluu balaa syahidnaa”. Mereka berkata, “Ya, kami bersaksi.” Mereka bukan hanya mengetahui, namun juga menyaksikan kebenaran dan realitas yang sesungguhnya. Kebenaran tersingkap tanpa penghalang, tanpa hijab.

Begitu mereka menjadi makhluk fisik-biologis di dunia, terlahir ke alam materi, mereka tidak tahu apa-apa lagi. Mereka lupa semua yang telah disaksikannya di alam ruh. Sehingga untuk mengetahuinya lagi mereka harus belajar, mencari dan berupaya menemukan kembali.

Karenanya, proses belajar di dunia ini adalah proses untuk menemukan kembali apa yang sudah diketahui dan disaksikan dahulu di alam ketersingkapan (alam al-kasyf), atau alam kesaksian (alam al-syahadah) Sejauh yang mereka usahakan dan dapatkan, sejauh itu pulalah yang bisa mereka ketahui lagi. Dalam pemahaman Plato, pengetahuan yang kita raih di dunia ini merupakan upaya mengingat kembali terhadap apa sudah kita ketahui di alam ruh itu. Plato menyebutnya alam idea. Karenanya, pemikirannya ini disebut dengan Idea Platonisme.

Sebagian dari yang diketahui lagi di alam materi ini, bisa jadi benar-benar kebenaran yang sesungguhnya, bisa jadi juga palsu. Itulah sebabnya manusia memerlukan media dan bimbingan untuk menemukan-Nya. Sebagian ada yang mencoba menemukan hanya melalui akalnya, sebagian lagi melalui wahyu dari Nabi-Nya, dan sebagian lagi melalui keduanya: akal dan wahyu… Baik akal dan wahyu, sebenarnya bisa beriringan, dan menemukan Kebenaran yang satu. Keduanya bahkan saling menguatkan. Nabi bahkan mengungkapkan bahwa “Agama adalah akal. Tidak beragama orang yang tidak berakal.” Lebih dari itu, bi tangan pemikir yang benar, akal pun bisa menemukan Tuhan, atau Kebenaran.

Setiap orang berusaha untuk menemukan dan mencapai Kebenaran yang dulu pernah diketahui dan disaksikan di alam ruh. Semampunya, sebisanya. Sebagian ada yang benar-benar menemukannya, dan sebagian lagi hanya merasa telah menemukannya padahal tertipu.

Kelak, saat mati, semua orang akan terjaga kembali. Dan apa yang dulu terhijab di dunia itu akan kembali terungkap dan tersingkap. Karena mereka sudah terjaga dari tidurnya. Penghalang-penghalang fisikal itu telah terlepas dengan sendirinya, ditinggalkan di alam dunia yang material. Maka, pada saat itulah pandangan mereka sangat tajam lagi, bisa melihat kembali apa-apa yang dulu sempat diihat sebelum lahir namun sempat terhalang saat berada di dunia sekian masa. Kini, dengan  kematian, mereka kembali terjaga dan awas. Tentang hal ini Al-Quran menyebutkan dalam salah satu ayatnya, “Fa basharauka al-yawma hadiid“. Maka pada hari ini pandanganmu tajam.

Begitulah ulasan sedikit mengenai keterjagaan dalam kematian. Hadits ini sangat membekas dalam ingatan saya. Setiap membahas mengenai kematian, salah satu yang teringat adalah redaksi dan konten hadits ini.

Ohya, hadits di atas pertama kali saya menemukannya dari membaca tulisan seorang perempuan peneliti Barat yang sangat apresiatif dan mencintai Islam. Bahkan seluruh hidupnya dipersembahkan untuk meneliti dan mengkaji Islam, lalu membagikannya kepada dunia keilmuan, termasuk umat Islam akademis banyak yang mendapatkan pencerahan darinya.

Luar biasanya lagi, di batu nisan yang menandakan kuburannya, tertulis pula hadits hebat itu dalam huruf Arab. “Al-naasu niyaam, idzaa maatuu intabahuu..”

Dialah Annemarie Schimmel.. Peneliti produktif yang hanif dan mencintai Islam dan Nabinya. Suatu saat ia pernah berkata, “Barat jangan ajari Islam tentang HAM. Karena Islam lebih paham dan merasakannya, dan setiap tahun selalu menghidup-hidupkannya…”

Bagi para pengkaji Islam kontemporer, nama Annemarie Schimmel bukanlah sosok asing. Sama halnya seperti sosok Sachiko Murata, William Chittick, Fritjof Schuon, dan beberapa yang lainnya. Mereka telah memiliki catatan indah dalam keilmuan dan khazanah pengetahuan. Mereka telah mempersembahkan usianya untuk kemanusiaan dengan memberikan pencerahan dan pemahaman…

Dan siapa pun, apa pun latar belakang sosio-kultural dan teologisnya, selalu bisa berkontribusi kepada kemanusiaan, memberikan pencerahan dan penyadaran…*

5 Pebruari 2017

AM

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.