Selamat Datang Kembali, Purwakarta

Siapa sekarang yang tidak kenal Purwakarta. Dalam sepuluh tahun terakhir ia menunjukkan kemajuan luar biasa yang mengagumkan dan membanggakan.

Tentu tidak mudah meraih capaian prestasi selama ini. Apalagi yang dibangun bukan saja fisik melainkan juga non fisik. Bukan saja material melainkan juga cara berpikir dan perilaku terhadap lingkungan sekitar. Bukan saja peradaban, tetapi juga kebudayaan.

Sudah banyak tantangan, kesulitan, bahkan gangguan, mengiringi upaya mengubah Purwakarta yang semula biasa menjadi istimewa, yang semula tak dikenal menjadi mendunia.

Purwakarta saat ini telah menjadi sebuah ikon tersendiri bagi Provinsi Jawa Barat. ia telah menjadi destinasi masyarakat luas untuk berbagai tujuan, baik wisata, kajian budaya, pendidikan, maupun solusi sosial. Ia telah menjadi referensi penting dalam berbagai hal mendasar untuk membangun sebuah negeri.

Karenanya kabupaten kecil ini selalu menjadi sorotan luas, termasuk saat masa pergantian kepemimpinan dalam ajang Pilkada Juni 2018 lalu. Publik memiliki harapan besar, sekaligus juga kecemasan. Harapan agar Purwakarta kembali dipimpin dan dikelola oleh figur yang memahami Purwakarta selama ini. Juga kecemasan jika kelak ia digenggam oleh tangan-tangan yang tidak tepat untuk mengelola dan mengurusnya.

Kepemimpinan itu sangat penting menentukan sebuah daerah atau negeri, bahkan desa kecil sekalipun. Jangankan selama lima tahun, bahkan sebulan pun bisa mengubah sebuah keadaan. Kepemimpinan yang baik bisa mengubah yang buruk menjadi baik. Sebaliknya, kepemimpinan yang buruk bisa mengubah yang baik menjadi buruk. Meskipun hanya dalam waktu sebulan.

Kemajuan yang susah payah dicapai dalam sepuluh tahun bisa rusak oleh kepemimpinan buruk yang hanya sebulan yang tidak mengerti bagaimana menciptakan kualitas dan keunggulan. Sikap abai dan tidak peduli kepada kualitas selama sebulan saja bisa menelantarkan bahkan meruntuhkan prestasi yang telah dibangun selama sepuluh tahun. Sistem keunggulan yang telah sinergis bekerja selama sepuluh tahun bisa berhenti mendadak jika tidak digerakkan oleh kepemimpinan yang mengerti dan sevisi.

Prestasi istimewa Purwakarta tidak bersumber dari kepala yang kosong, tidak mungkin lahir dari tangan-tangan yang tidak bisa bekerja dan menata. Ia hanya bisa diraih oleh akal yang cerdas, kepala yang berisi, tangan yang terampil, kaki yang lincah, dan tim kerja yang solid dan berkualitas serta terbiasa bekerja dengan baik.

Karenanya, penting memastikan siapa yang akan kembali mengurus dan menata Purwakarta lima tahun ke depan. Dan kini kepastian itu sudah didapatkan, bahkan pemimpin definitif telah dilantik kemarin, Kamis 20 September 2018. Pasangan Anne-Aming telah resmi memegang mandat menata dan mengurus negeri Sunda yang istimewa ini.

Anne Ratna Mustika yang biasa dipanggil Ambu, yang merupakan isteri dari Kang Dedi Mulyadi, mantan bupati 10 tahun di Purwakarta, tentu sangat memahami bagaimana dulu suaminya mengurus negeri ini. Ia turut menjadi saksi sekaligus pelaku sejarah bagaimana seharusnya membangun negeri Air Mancur Sri Baduga ini.

Di tangan suaminya, Purwakarta yang bukan apa-apa kini telah menjadi acuan kemajuan sebuah daerah di Indonesia. Purwakarta kini telah menjadi daerah yang berkarakter, memiliki ciri khas, dan keunggulan yang istimewa. Ia akan selalu disorot mata, menjadi berita dan diliput media.

Karenanya, Ambu paling tepat dan paling mengerti untuk melanjutkan Purwakarta Istimewa, bahkan makin istimewa. Ini slogannya: Purwakartaku, Purwakartamu, Ambu ingin mengajak masyarakat untuk melestasikan keistimewaan Purwakarta agar ia berada di track yang benar untuk mencapai kemakmuran dan kemajuan.

Kita semua peduli Purwakarta dan bangga dengan keistimewaannya. Karena Purwakartaku, Purwakartamu. Purwakara kita semua.

Selamat untuk Ambu Anne Ratna Mustika dan Haji Aming…
Memegang mandat, menunaikan amanat..
Selamat datang kembali, Ambu.
Selamat datang kembali, Purwakarta.

Wilujeng mancen tugas
Babakti ka lemah cai
Ningkatkeun wiwaha
Purwakarta Istimewa

Mulus rahayu
Maju tinangtu
Jembar ginanjar
Hibar motekar

Bandung, 21 September 2018

Bagea

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.