Politik Citra, Politik Gerilya dan Politik Propaganda

Hasil Pilgub Jabar memperlihatkan satu pelajaran penting. Kita lihat di bawah ini.

Sebelum deklarasi pencalonan, survei Ridwan Kamil paling tinggi, jauh di atas para figur lain, termasuk Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi. Politik citra yang dibangun RK lewat medsos, berhasil. Seolah RK sulit dikalahkan.

Usai deklarasi, semua calon sudah berpasangan, dan semua paslon sudah berkampanye, banyak survei mengunggulkan Deddy-Dedi sebagai pemenang. Politik gerilya yang dilakukan khususnya oleh Kang Dedi, dengan mendatangi masyarakat di berbagai teritori, berhasil dan efektif.

Tersalipnya suara Rindu oleh Deddy-Dedi tidak lepas dari eskalasi tinggi dari daya jelajah Kang Dedi. Kesimpulannya, politik citra dapat dikalahkan oleh politik gerilya. Dan, hampir saja kemenangan menjadi kenyataan.

Akan tetapi, menurut saya, ada kenyataan lain yang perlu diungkap. Yakni, bahwa kemudian politik gerilya dilawan oleh politik propaganda yang masif dan terus menerus. Kampanye hitam yang mempropagandakan pasangan Deddy-Dedi dengan isu dukun jebakan, patung dan syirik, ternyata sangat ampuh.

Sehingga basis suara Demiz yang semula memilih DMDM beralih ke pasangan Asyik. Itulah sebabnya suara Asyik naik signifikan di luar perkiraan, karena basis Demiz beralih ke Asyik akibat propaganda kampanye hitam.

Ketika kultum subuh pada hari pencoblosan, 27 Juni, seorang penceramah yang kader partai Nganu, dengan semangat mengulas tentang patung. Tujuannya adalah agar jamaah tidak memilih pasangan DD, sekalipun ada Demiznya.

Jangan-jangan ini bukan satu-satunya kultum subuh yang digunakan sebagai kampanye di hari pencoblosan. Lagi-lagi masjid dijadikan ajang kampanye dan penggiringan pilihan. Sekalipun sudah ada kebijakan larangan kampanye di masjid, tapi orang-orang tertentu tetap saja nekat, bahkan mereka merasa sedang berdakwah, sekalipun memfitnah.

Hasilnya, di RW yang diisi dua TPS ini, pasangan Asyik menempati posisi kedua setelah Rindu. Deddy-Dedi berada di peringkat ketiga, dengan selisih jauh dari peringkat kedua.

Begitulah…

Politik citra bisa dikalahkan oleh politik gerilya. Tetapi, politik gerilya bisa dikalahkan oleh politik propaganda.

Jika politik gerilya mengandalkan usaha dan kerja keras kemanusiaan, politik propaganda mengandalkan kampanye hitam, fitnah dan pembodohan.

Politik citra bukan cara kita. Apalagi politik propaganda, sama sekali bukan jalan kita.

Cara dan jalan kita adalah kerja keras, membahagiakan dan memuliakan manusia. Frasa kita adalah kampanye alami, kampanye humanis, kampanye kemanusiaan.

Ingat, politik memang penting. Tetapi membahagiakan manusia jauh lebih penting. Mencerdaskan dan memuliakan sesama, itu jauh lebih bermakna…

Sampurasun…

Bandung, 30 Juni 2018

Bagea

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.