Orang Kalah Suka Fitnah

Setelah jagoannya kalah dalam debat kedua, berbagai fitnah dan manuver mereka arahkan kepada Jokowi. Berikut ini beberapa fitnah yang mereka ciptakan segera setelah debat usai.

1. Mereka memfitnah Jokowi menggunakan earpiece dan pulpen pintar.

Karena jawaban dan ulasan Jokowi dalam debat kemarin luar biasa dan telak, mereka memfitnah Jokowi menggunakan alat komunikasi. Mereka tidak terima fakta kalau Jokowi itu pintar bahkan lebih pintar dari jagoannya.

Maklum, mereka kaum fiksi, sehingga tidak mau hidup dalam fakta. Kitab suci saja mereka fiksikan, apalagi keunggulan orang yang mereka benci. Mereka gusar kalau Jokowi pintar.

Dan pulpen seharga Rp 29.000 itu mendadak populer di tangan Jokowi. Pulpen biasa itu pun dituduh canggih hanya karena dipegang oleh sosok Jokowi.

2. Mereka memfitnah Jokowi menyerang pribadi pesaingnya, dengan membeberkan kepemilikan tanah 340 ribu hektar

Lho, bukankah jagoannya bilang kepada Jokowi bahwa tanah dan air harus dikuasai oleh negara. Kata-katanya ini tentu saja ditujukan sebagai kritik kepada Jokowi, seolah Jokowi tidak berpikir sama.

Makanya Jokowi membeberkan fakta dan menegaskan kebijakannya. Ini bukan menyerang pribadi, melainkan berkaitan dengan kebijakan pemerintahan.

Justru Jokowi sangat menjaga tanah dan air agar dikuasai negara. Adapun dia memberikan tanah kepada rakyat kecil agar diproduktifkan, agar meningkatkan kesejahteraan mereka. Itu kebijakan yang pro rakyat. Sehingga kebikannya tidak akan memberi lahan luas kepada orang-orang besar.

Jokowi ingin agar orang kalau berbicara itu harus benar, harus satu antara kata dan perbuatan. Jangan sampai mulutnya bilang demi negara, padahal perbuatannya demi pribadi. Jokowi ingin agar orang jujur pada dirinya.

3. Mereka memfitnah Jokowi mempermalukan pesaing dengan menanyakan tentang unicorn.

Kok merasa dipermalukan? Bukankah itu tema relevan dengan bahasan tentang kemajuan bisnis milenial? Apalagi kata unicorn sudah biasa diucapkan orang-orang zaman sekarang, di media dan lainnya.

Jadi Jokowi juga berasumsi bahwa lawan debatnya itu sudah familiar dengan istilah tersebut. Ketika ternyata lawan debatnya belum paham istilah unicorn, kok Jokowi yang disalahkan bahkan dianggap mempermalukan?

Yang namanya debat itu forum untuk menguji gagasan di depan publik dengan hak waktu yang sama. Beda dengan orasi atau pidato tunggal. Ketika jagoan mereka tidak banyak mengeksplorasi gagasan dan bahasan, kok mereka bilang bahwa jagoan mereka ewuh pakewuh, tidak mau mempermalukan.

Bukankah saat orasi atau pidato di depan pendukungnya, jagoan mereka selalu mengkritik Jokowi dengan lantang? Lalu, mengapa saat debat malah diam dengan alasan ewuh pakewuh dan tidak mau mempermalukan di depan publik.

Kalau benar alasannya itu, mengapa jagoan itu selalu teriak lantang mengkritik Jokowi di depan publik? Mengapa di situ ia tidak merasa ewuh pakewuh dan tidak takut mempermalukan di depan publik?

Forum debat adalah saat terbaik untuk saling menguji dan meyakinkan publik. Kalau mau mengkritik, di situlah saatnya biar dijawab dan dibahas, diuji dan diulas seberapa benar kritikannya. Sebab, kritikan tidak selalu benar. Karena ada kritik yang asal kritik.

Alhasil, kalau mau debat, debatlah yang benar dan baik. Gunakan waktu dan forum tersebut untuk menjelaskan gagasan dan strategi. Jangan sampai karena merasa kalah dalam debat sehingga pemenangnya malah dilaporkan ke KPU dan Bawaslu.

Jadilah ksatria, jangan memelas kasihan. Akui keunggulan orang lain, sambil memperbaiki diri agar ke depan tampil lebih baik dan meyakinkan.

Jangan sampai karena merasa kalah lalu menyebar fitnah…

Bandung 19 Pebruari 2019

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.