Nyinyiri Kasus Rutan Brimob, Nurani yang Pergi

Tubuh yang masih berjiwa manusia takkan mungkin berlaku keji kepada sesamanya sebegitu rupa. Itu bukan manusia. Bahkan iblis pun tidak bisa melakukannya. Tubuh tersebut bahkan lebih buruk daripada binatang buas.

Jika Al-Quran menyebutkan bahwa membunuh satu jiwa tanpa hak sama dengan membunuh semua manusia, maka apalagi mengenai pembunuhan secara keji. Bukan saja kuantitas, tetapi bahkan kualitas dosanya mengerikan.

Tindakan sadis itu jelas kejahatan, di luar kemanusiaan. Bahkan saat berperang, Islam melarang menebang pohon. Agama apa yang dianut oleh para pembunuh itu?

Menuduh tragedi ini sebagai pengalihan isu atau sandiwara adalah keterlaluan. Tidak berperikemanusiaan. Lima nyawa yang dibunuh mengenaskan, dan satu sandera yang disiksa, dianggap sandiwara? Apalagi mengatakannya tanpa simpati dan empati? Duh, ini mencerminkan hilangnya hati nurani.

Apalagi, menyematkan pelaku sadis itu sebagai mujahid, itu lebih jahat lagi, karena membawa-bawa Islam untuk membenarkan sadisme kejahatan.

Seolah-olah mereka tidak pernah mendengar bahwa Islam adalah agama kedamaian, agama kemanusiaan, agama keberadaban, agama yang menjunjung tinggi kehidupan. Dalam Islam, karena menghargai kehidupan, maka balasan bagi pembunuh adalah qishash. Mata dibayar mata, gigi dibayar gigi, nyawa dibayar nyawa. Lalu, bagaimana bisa pembunuh sadis disebut mujahid? Ajaran agama apa yang mereka anut?

Janganlah mencemarkan Islam dengan kebodohan dan kebencian. Jika hendak membenci pihak yang lain, janganlah bawa-bawa Islam sebagai pembenar kebencian. Karena Islam tidak mengajarkan kebencian. Jika mau berpikir bodoh dan menyebarkan kebodohan, janganlah seret-seret Islam untuk melegitimasi kebodohan. Karena Islam tidak pernah mengajarkan kebodohan dan penyesatan.

Kalau mau bodoh, silakan saja. Mau jadi pembenci abadi, silakan. Mau tersesat, silakan. Mau kehilangan kemanusiaan, juga silakan. Tetapi jangan pakai simbol-simbol dan diksi agama, apa pun agamanya. Kalau mau jadi buruk, jadilah diri sendiri.

Sebaiknya lihatlah hati nurani, dan periksalah. Jangan-jangan hati nurani itu sudah tertutup, atau berubah wujud. Atau, malah jangan-jangan ia sudah pergi karena sudah tidak kuat menempati tubuh-tubuh penuh kebencian yang entah kapan akan berakhir. Kebencian yang terus dipelihara, karena kekecewaan sebegitu rupa, sehingga lupa memiliki jiwa.

Sesekali benci boleh saja, asal ada alasannya, proporsional, dan berkeadilan. Dan tetap wajar. Tetapi jika kebencian sudah dijadikan ideologi, maka periksalah jangan-jangan tubuh yang berjalan tegak ini sudah ditinggalkan hati.

Jika pun suatu waktu pernah bertindak bodoh, atau membenci seseorang, maka janganlah kebodohan dan kebencian itu menyebabkan hilangnya hati nurani. Untuk pintar tentu butuh kecerdasan. Tetapi, kecerdasan bukan syarat memiliki hati nurani.

Karena untuk memiliki hati nurani, cukuplah jadi manusia…

#kikishabisterorisme
#islamagamaberadab
#dukungpolriamankannegeri

Bandung, 10 Mei 2018

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.