Nyarekan Golkar

Pujian lebih sering melenakan. Sedangkan kemarahan bisa menggerakkan orang yang diam, atau lelet, atau orang yang santai-santai dalam menghadapi pekerjaan besar.

Golkar partai besar, iya, itu dulu, saat partai hanya tiga, dan saat sosiopolitik bersifat monolitik dan dipegang oleh satu kekuatan hegemonik.

Tetapi lain ceritanya sekarang, saat negara kita menganut sistem multipartai, saat orang-orang berkualitas tersebar di banyak partai, saat tuntutan dan tantangan berbeda jauh, saat keterbukaan makin lebar dan tak terbendung. Kompetisi makin ketat, sehingga menuntut inovasi, terobosan dan otak besar.

Gaya dan cara pandang berpartai harus berbeda, harus berubah. Slogan –sebagus apa pun–tidak berpengaruh kuat untuk menambah suara. Modal politik memang diperlukan. Tetapi politik modal bukan saja tidak dibenarkan tetapi juga malah meruntuhkan reputasi dan kepercayaan publik.

Kasus korupsi atau yang berbau korupsi menimpa banyak partai. Tak terkecuali Golkar. Kasus Papah Minta Saham sudah terlanjur jadi keyword yang mengarah pada salah satu sosok yang sempat mengendalikan Golkar dan kini dipenjara. Perubahan kepemimpinan diwujudkan. Slogan Menuju Golkar Bersih dipublish, dan rakyat akan menuntut dipenuhi.

Pileg sudah di depan mata. Sangat dekat. Persaingan antar partai sangat ketat dengan waktu yang terbatas. Begitu pun persaingan internal antar sesama caleg dalam satu partai. Apa yang diandalkan oleh para kader Golkar untuk merebut simpati dan suara publik? Mengandalkan figuritas regional dan nasional? Itu bukan tipikal Golkar. Golkar bukan partai figur. Partai ini mengandalkan sosok-sosok lokal yang bersentuhan dengan rakyat. Jika sosok lokal tidak dekat dengan rakyat, jangan harap mereka mendapat simpati dan suara.

Secara regional, Golkar Jabar memiliki tantangan besar. Selain menjadi barometer politik nasional, Jabar menjadi pertaruhan penting bagi semua partai, terutama Golkar. Karena Jabar sejak dulu merupakan basis dan lumbung suara yang diandalkan Golkar, maka memenangkan Jabar adalah perjuangan besar. Apalagi ada sejumlah partai yang juga kuat di Jabar.

Jika para pengurus, kader, caleg dan simpatisan partai ini tidak solid, tidak satu suara, tidak kreatif berbuat baik kepada rakyat, atau malah bersikap masing-masing, memiliki pilihan politik berbeda dengan institusi partai, maka siap-siap saja ditinggalkan rakyat. Caleg yang berbeda pilihan capres dengan partainya –apalagi secara terbuka– bisa akan merugikan diri sendiri dan partai. Publik akan melihat dan menilai, lalu akhirnya memutuskan.

Bulan ini Golkar Jabar menyelenggarakan acara menarik, berupa Lomba Stand Up Comedy. Temanya unik dan menantang, “Nyarekan Golkar”. Hadiahnya menarik. Juara tiga mendapat 5 juta, juara dua 7 juta, dan juara pertama 10 juta.

Kalau Anda mempunyai unek-unek atau kritik, atau mau memarahi Golkar tapi tidak akan dimarahi pengurus, ikut saja lomba ini (lihat ketentuannya). Sulit mendapatkan kesempatan seperti ini. Hadiahnya besar lagi. Jutaan, barudak…!

Tentu saja, nyarekan di sini maksudnya adalah untuk tujuan membangun. Agar yang santai menjadi bergerak. Agar yang masih leha-leha menjadi lincah. Agar yang culang-cileng jadi fokus. Agar yang masih bengong menjadi solid dan bervisi. Agar yang semula bekerja tidak strategis menjadi strategis dan taktis, teu mawa karep sorangan.

Kalau disederhanakan, barangkali ungkapannya begini: “Carekan Golkar, ngarah Golkar menangkeun Jabar.”

Ohya, saya menulis ini juga karena peduli dengan partai yang di Jawa Barat dipimpin oleh Kang Dedi Mulyadi. Sosok inspiratif yang kiprah visionernya sangat diharapkan.

Tulisan saya di atas mah bukan “nyarekan” nya…? Ulah dianggap. Da saya mah teu ngiringan lomba… Hehe… Buat yang ikutan lomba stand up komedi ini, selamat ya… Jangan lupa hadiahnya…!!!

Sampurasun Jabar…

Bandung, 11 Oktober 2018

Bagea

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.