Nabi Saw: Manusia Paling Sempurna

Seorang Yahudi mendatangi Ali bin Abi Thalib, dan berkata, “Gambarkan kepadaku keutamaan Muhammad, Nabimu.”

Kita sering mendengar riwayat-riwayat yang menceritakan orang-orang Yahudi menemui dan berdialog dengan Nabi dan sejumlah sahabat. Selain Nabi, sahabat beliau yang diriwayatkan banyak ditanya dan berdialog dengan Yahudi, adalah Ali.

Mungkin ini karena mereka tahu kekhususan Ali dibandingkan yang lain-lainnya. Di antaranya karena mereka mendengar dan mengetahui bahwa sejak bayi Ali selalu bersama, diasuh dan dididik Nabi, serta banyak menyertai Nabi di banyak kesempatan dan mendapatkan tugas-tugas penting yang hanya diberikan dan bisa dilakukan oleh Ali.

Di antara Yahudi itu ada yang mungkin ingin mengetes, membandingkan dengan apa yang mereka yakini dari Kitab Suci atau pengetahuan mereka. Ada juga yang mungkin tulus dan hanif karena ingin menemukan kebenaran dari Nabi dan orang-orang khusus beliau. Menariknya, beliau dan juga Ali selalu menjawab pertanyaan mereka dengan baik, bahkan di luar dugaan atau melampaui harapan mereka.

Riwayat-riwayat seperti ini setidaknya menjelaskan bahwa sekalipun ada perbedaan mendasar di beberapa hal, namun seorang Muslim tetap bisa berinteraksi dengan para non Muslim mana pun,, dan harus siap berdialog atau ditanya oleh mereka, dengan memberikan jawaban-jawaban yang benar dan cerdas. Siapa tahu ini bisa menyingkapkan untuk mereka berbagai disinformasi yang mereka dengar sebelumnya.

“Baik. Bagaimana pendapatmu tentang kenikmatan dan kesenangan dunia?” jawab Ali balik bertanya.

“Kenikmatan dan kesenangan dunia? Ow… Ia sangat luar biasa, tak terbatas dan sangat mengagumkan. Semua orang menginginkannya,” jawab Yahudi ini.

“Ketahuilah,” Ali menjawab, “Dunia dan kesenangannya yang kamu anggap luar biasa itu digambarkan Al-Quran sebagai hal yang remeh saja, tidak ada apa-apanya. Qaliil. Qul mata’uddunya qaliil. Katakanlah, kesenangan dunia itu hanya sedikit saja.

Lalu bagaimana Al-Quran menggambarkan kemuliaan Nabi kami? Wa innaka la’ala khuluqin ‘azhiim. Sungguh engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung. Dunia yang menurutmu luar biasa itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemuliaan Muhammad. Dunia itu qaliil (sedikit dan remeh), sedangkan Nabi itu ‘azhiim (agung).”

Demikian jawaban Ali yang digelari Nabi sebagai Pintu Kota Ilmu Rasul ini. Lugas, singkat, tapi membuat pikiran menerawang jauh, dengan sebuah kesimpulan, “Nabi Saw adalah sosok manusia sempurna yang luar biasa. Puncak semua kesempurnaan dan kemuliaan yang melampaui seluruh kesempurnaan yang pernah dan akan dicapai oleh semua manusia.”

Maka, kita semua yang kotor dan awam ini takkan mungkin menjangkau kesempurnaan beliau. Terlalu jauh, dan tidak mungkin menggapainya. Apalagi kesaksian Aisyah menyebutkan bahwa “Akhlak beliau adalah Al-Quran. Kaana khuluquhu al-Qur’an.” Al-Quran selalu menjadi misteri makna yang tak berakhir. Maka, begitu pulalah sosok yang menjadi rahmatan lil aalamin ini.

Jika kita memahami konsep tentang kecerdasan, maka puncak kecerdasan itu adalah Rasul Saw.

Jika kita mengerti konsep tentang keluhuran akhlak, maka puncak keluhuran akhlak itu adalah Nabi yang dijuluki Yaasiin dan Thahaa ini.

Jika kita mencerna konsep tentang keberanian, maka puncak keberanian tertinggi itu adalah Muhammad al-Mushthafa.

Jika kita menyerap konsep tentang kebijaksanaan, maka puncak tertinggi kebijaksanaan adalah Kekasih Allah yang menjadi ayahanda Fathimah azZahra, yang dijuluki Bidadari Insani (Haura Insiyah) ini.

Semua puncak kesempurnaan itu utuh pada sosok Muhammad Saw. Tanpa cacat, tanpa cela, tanpa noda, apalagi lubang besar yang menganga. Sehingga, bila ada cerita-cerita yang menggores puncak kesempurnaan beliau, dalam aspek apa pun, berarti tidak bisa diterima oleh akal sehat dan menyalahi kesaksian Allah dalam Al-Quran mengenai beliau sendiri.

Beliau adalah puncak kecerdasan. Maka tak mungkin beliau pernah terlihat bodoh di seluruh kehidupannya.

Beliau adalah puncak keberanian. Maka tak mungkin beliau pernah nampak penakut dan pengecut atau sekadar gemetaran menghadapi sesuatu atau seseorang di semua kehidupannya.

Beliau adalah puncak keluhuran akhlak. Maka tak mungkin beliau pernah bersikap atau berperilaku yang meruntuhkan keluhuran budi dan akhlak beliau, meskipun hanya di sebagian kecil kehidupan saja.

Beliau adalah puncak kebijaksanaan. Maka tak mungkin beliau pernah mengambil keputusan di luar sisi-sisi kebijaksaan.

Saking sempurnanya Muhammad Saw, setiap ucapannya adalah wahyu Allah. Wa maa yanthiqu ‘an al-hawa, in huwa illaa wahyun yuuhaa.

Ketaatan kepadanya adalah bukti ketaatan kepada Allah. Ketaatan kepada Nabi Saw adalah mutlak, semutlak ketaatan kepada-Nya. Athi’ullaah wa athii’urrasuul.

Dan Allah melarang umat beriman memiliki pendapat yang berbeda dengan yang telah ditetapkan oleh beliau. Kesempurnaan agung dan puncak ini, tentu tidak datang tiba-tiba. Muhammad Saw sudah sempurna sejak lahir dan masa pertumbuhannya. Beliau sudah agung dan mulia sejak sebelum dilantik menjadi Nabi. Dan karena kesempurmaan itu pulalah Allah melihatnya pantas menjadi Nabi akhir zaman, bahkan menjadi Tuannya para nabi dan utusan.

Setelah diangkat menjadi Nabi di Gua Hira, kesempurnaan beliau kian melesat makin jauh. Sebelum diangkat beliau telah sempurna. Sesudah dilantik, beliau jauh lebih sempurna. Sehingga, pasca kenabian, takkan ada ucapan dan perilaku beliau yang menurunkan derajat kesempurnaannya.

Kenabian itu melekat pada sosok Rasul Saw, tanpa sedetik pun terlepas. Karenanya, tidak masuk akal jika dikatakan bahwa beliau boleh salah atau bertindak naif di suatu waktu dengan alasan bahwa saat itu beliau tidak sedang jadi nabi melainkan sedang jadi manusia biasa.

Kenabian dan kerasulan bukanlah jabatan atau pakaian yang bisa dilepas-pakai. Kenabian adalah kualitas capaian tertinggi yang melekat pada setiap nabi, apalagi Nabi Teragung.

Beliau berasal dari bangsa manusia. Bukan bangsa jin, bukan bangsa malaikat. Itu yang dimaksud dengan kata BASYAR. Basyar artinya bangsa manusia, biologi manusia, yang makan dan minum. Makhluk fisik yang terlihat mata dan terindera. Merasakan lelah dan mengantuk, sebagaimana umumnya bangsa manusia. Jadi, terjemahan Basyar itu bukan “manusia biasa”, melainkan “bangsa atau jenis manusia”.

Beliau memang basyar seperti kita semua. Namun beliau bukan manusia biasa. Beliau adalah manusia luar biasa. Itulah sebabnya beliau menjadi Nabi, dan menjadi manusia paling sempurna yang telah mencapai puncak segala kesempurnaan.

Kesempurnaan yang takkan dicapai oleh manusia-manusia lain, sebelum ataupun sesudahnya…

Itulah Muhammad al-Mushthafa…Yang karenanya Allah ciptakan alam semesta….

Selalu bershalawat kepadanya Allah dan para malaikat, juga umat beriman semuanya…

Lalu, masih adakah orang yang meragukan atau menodai kesempurnaannya?***

21 Ramadhan 1437
26 Juni 2016

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.