Nabi Rahmah dan Azab Allah

Nabi Muhamad Saw adalah Nabiyyurrahmah, Nabi yang membawa rahmat. Beliau diutus untuk menjadi rahmat bagi alam semesta, rahmatan lil aalamiin. Bukan saja bagi makhluk manusia, tetapi bagi seluruh makhluk, aalamiin. Dan bukan hanya untuk zaman di mana beliau masih hidup, tetapi berlaku hingga akhir zaman, bahkan di akhirat kelak. Di akhirat kelak, berupa syafaat.

Ada keistimewaan khusus yang dianugerahkan Allah kepada beliau, dan tidak kepada nabi-nabi sebelumnya.

Di antara keistimewaan itu adalah berkaitan dengan nasib umat beliau. Untuk nabi-nabi sebelumnya, jika kaum mereka ingkar dan bermaksiat, maka Allah turunkan azab dan menghancurkan mereka yang tetap kufur itu saat masih di dunia. Allah mengazab mereka setelah menyelamatkan para nabi-Nya dan orang-orang beriman bersama mereka. Seperti kaum Ad (Nabi Hud), kaum Tsamud (Nabi Soleh), kaum Sodom (Nabi Luth), Firaun dan tentaranya (Nabi Musa) dan lain-lain.

Berbeda dengan umat Nabi Muhammad Saw. Karena syumuliyah (komprehensivitas) rahmat beliau, maka Allah tangguhkan azab dari umat beliau hingga di akhirat kelak. Di antara hikmah penangguhan azab itu adalah agar umat mendapatkan kesempatan untuk bertaubat dan kembali kepada-Nya. Setelah menyimpang, diharapkan bahwa mereka akan kembali mengikuti Nabi-Nya menuju jalan-Nya.

Ada dua penyebab Allah menangguhkan azab atas umat Nabi. Yakni pertama, keberadaan Nabi Saw, di mana rahmah beliau bersifat komprehensif, dan kedua, terus beristighfarnya kaum.

“Allah tidak akan mengazab mereka sementara engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka. Dia juga tidak mengazab mereka ketika mereka tetap beristighfar. ” (QS al-Anfal, 8:33).

Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan bahwa Allah sebenarnya hendak mengazab suatu kaum. Namun karena di tengah-tengah kaum itu masih ada yang beristighfar, berbuat kebajikan, maka Allah tangguhkan untuk mereka azab-Nya. Masih adanya istighfar sebagian orang di tengah suatu kaum akan menangguhkan azab bagi kaum secara keseluruhan. Apalagi syumuliyah rahmat Nabi Saw juga berlaku hingga akhir zaman, sehingga azab untuk umat beliau ditangguhkan.

Dulu pada masa Nabi hidup, malaikat menawari beliau untuk mengazab kaum Thaif yang telah menyakiti beliau. Tetapi Nabi tidak menghendakinya. Beliau bersabda bahwa kaum itu tidak mengerti, dan beliau berharap kelak keturunan mereka beriman.

Beliau diutus bukan agar umatnya diazab. Beliau diutus untuk menjadi rahmat bagi semua alam, sepanjang zaman. Rahmat termasuk bagi para pendosa di kalangan umatnya. Peluang hidayah lebih diharapkan ketimbang turunnya azab. Karena di antara karakteristik beliau adalah “hariishun alaykum bil mukminiina ra’uufun rahiim”. Sangat menginginkan (keselamatan) kalian, lagi penyantun dan penyayang kepada orang-orang beriman.

Tentang fenomena alam berupa gunung meletus, gempa, tsunami dan lainnya, adalah fenomena yang pernah terjadi sebelum adanya kehidupan manusia, sebelum adanya pengingkaran dan kekufuran manusia. Fenomena alam adalah sunnatullah yang harus terjadi sebagai wujud keadilan Allah kepada semua alam. Ketika dorongan magma di dasar bumi sangat kuat dan besar, maka adalah keadilan dan kehendak Allah untuk membuat gunung meletus. Kelak dari letusan gunung itu akan tercipta kehidupan, kesuburan dan kebaikan. Kebaikan bagi makhluk hidup, dan makhluk yang tidak bernyawa.

Fenomena dan gejala alam itu merupakan sesuatu yang thabi’i (natural), bagian dari sunnatullah. Kapan ia dirasakan sebagai bencana? Jawabnya adalah ketika fenomena itu dikaitkan dengan manusia dan makhluk hidup. Ketika fenomena itu terjadi jauh dari kehidupan manusia, dan tidak membahayakan keselamatan makhluk hidup, fenomena itu tidak dipandang sebagai bencana. Ketika membahayakan mereka, barulah disebut sebagai bencana. Karena berasal dari fenomena alam, maka bencana itu dinamakan dengan bencana alam.

Lain ceritanya dengan bencana kemanusiaan akibat perang, penggundulan hutan, gunung longsor, banjir di pemukiman penduduk, kebakaran hutan, pencemaran laut dan lainnya yang merupakan andil dari tangan manusia. Itu baru bencana akibat ulah tangan manusia. Bencana yang seperti ini merupakan ekspresi kekufuran atau ketidaksyukuran manusia atas nikmat Tuhan. Dalam konteks inilah berlaku ayat “zharahal fasaadu fi al-barri wa al-bahri bimaa kasabat aydinnaas”. Telah muncul kerusakan di darat dan laut akibat ulah tangan manusia.

Ala kulli hal, ada perbedaan antara bencana sebagai fenomena alam, dan bencana sebagai akibat dari ulah tangan manusia. Perbedaan keduanya mengharuskan cara bersikap dan mensolusinya juga berbeda. Program penanggulangan dan pembangunannya juga berbeda. Untuk musibah banjir dan kebakaran hutan, misalnya, tidak bisa diatasi hanya dengan doa. Begitu seterusnya.

Apakah orang-orang yang terdampak bencana alam itu sedang terkena azab? Begini. Di setiap daerah di mana pun tentu ada saja orang-orang yang berdosa dan melampaui batas. Tetapi di tengah-tengah mereka tidak sedikit pula orang yang baik dan saleh. Bahkan kita dengar atau lihat, di antara yang menjadi korban gempa dan tsunami itu ada juga yang sedang melakukan salat berjamaah. Apakah orang-orang saleh itu terkena azab juga seperti para pendosa? Dalam ayat di atas Allah menegaskan bahwa Dia takkan mengazab suatu kaum ketika mereka masih beristighfar (mustaghfiruun). Jadi, kalau bencana itu disebut sebagai azab, apa tidak berlebihan?

Di sisi lain, banyak kota besar di dunia ini yang penuh dengan kemaksiatan dan keburukan. Namun mereka aman dari bencana alam, karena memang mereka jauh dari kategori daerah yang rawan bencana. Lalu, apakah mereka dianggap kalangan bertakwa hanya ketika mereka tidak sedang ditimpa bencana?

Allah juga menegaskan, “Sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertakwa niscaya Kami bukakan untuk mereka keberkahan-keberkahan dari langit… dst” Di dunia ini banyak kota dan negeri yang maju dan makmur secara material serta aman dari berbagai bencana, sekalipun penduduknya bukan orang-orang Mukmin. Apakah mereka termasuk yang dimaksud dalam ayat ini? Ataukah mereka orang-orang yang sedang menjalani istidraj (kehancuran pelan-pelan)?

Kembali pada bencana alam. Ketimbang memandang bahwa bencana alam yang menimpa saudara kita itu sebagai azab, lebih baik kita berpikir bahwa jangan-jangan kita yang aman-aman ini justru yang sedang diberi jalan istidraj. Sedangkan mereka para korban justru sedang diberi ujian oleh-Nya untuk dinaikkan derajatnya. Jangan sampai kita menyebut ujian saat kesulitan menimpa kita atau kelompok kita, tetapi menyebut azab saat kesulitan menimpa orang lain.

Semoga Allah melindungi kita semua dari kekufuran dan kemaksiatan, menjauhkan kita dari kejahatan dan keburukan hidup, menjaga kita dari perasaan diri suci sambil menyebut orang lain buruk. Semoga saudara-saudara kita yang sedang mengalami ujian ini diberi kesabaran dan kekuatan, serta kemudahan untuk segera pulih dan bangkit. Yang meninggal dari mereka semoga kembali kepada-Nya dalam keadaan husnul khatimah.

Dan apa pun yang terjadi pada kita dan mereka semua makin mendekatkan diri kepada Pemilik hidup dan mati. Karena di situ atau di sini, kematian tetap dekat dan kian merapat. Semoga syafaat dari Sang Nabiyyurrahmah dianugerahkan kepada kita kelak di akhirat ..

Aamiin

Bandung, 30 September 2018

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.