Muslim Pun Bisa Kufur

Jangan merasa terbebas dari kekufuran hanya karena sudah mengaku sebagai Muslim. Karena seorang pengaku Muslim bisa saja masih kufur. Seorang Muslim, bisa saja “kafir”.

Seseorang bisa saja mengimani sekian hal penting dalam tema-tema keimanan. Namun ia bisa saja masih kufur terhadap hal-hal lain yang tidak kalah mendasar. Ia bisa saja sudah mengimani adanya (wujud) Tuhan, tetapi bisa saja ia belum mengimani kehendak (iradah)-Nya. Ia bisa saja sudah mempercayai adanya kitab-kitab suci yang Dia turunkan, tetapi bisa saja ia masih belum mempercayai isi-isinya. Ia bisa saja sudah mengimani Tuhan sebagai Pencipta, namun bisa saja ia belum mengimani Pertemuan dengan-Nya. Dan lain sebagainya.

Larangan kufur nikmat dalam Al-Quran, ditujukan kepada orang-orang yang mengimani Al-Quran, bukan kepada orang yang tidak mengimaninya. Ditujukan kepada Muslim, bukan kepada non-Muslim. Mengapa larangan kufur nikmat ditujukan kepada orang-orang Muslim? Karena kufur nikmat bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk orang-orang Muslim.

Ketika Allah menegaskan, “Jika kalian bersyukur, niscaya Kutambahkan. Dan jika kalian kafir, sesungguhnya azab-Ku benar-benar pedih,” ini ditujukan bagi orang-orang yang mengimani Al-Quran. Artinya, larangan kufur ini ditujukan bagi mereka. Sebab, kekufuran ini bisa dilakukan oleh mereka.

Dulu pada zaman Nabi Saw, ada banyak kalangan yang disebut munafik. Mereka mengaku Muslim, dan memperlihatkan diri sebagai Muslim. Mereka hidup bersama Nabi dan mengikuti majlis beliau serta mendengar dan menyimaknya. Mereka juga mengikuti berbagai peristiwa penting bersama Nabi.

Sebagian dari mereka bahkan ada yang ikut membaiat Nabi dalam peristiwa Baiat pada fase Makkah sebelum hijrah. Tetapi tarikh mencatat bahwa sebagian dari mereka kelak di Madinah ada yang menjadi tokoh utama munafik. Disebutkan, Abdullah bin Ubay bin Salul adalah salah satu yang ikut membaiat Nabi di awal-awal Islam. Namun belakangan justru ia menjadi pemimpin kaum munafik.

Munafik adalah memperlihatkan keimanan tetapi menyembunyikan kekafiran. Lahiriahnya Muslim, tetapi batiniahnya kafir. Wajahnya beriman, hatinya kufur. Itu munafik. Berbeda dengan sebaliknya: memperlihatkan kekafiran, tetapi menyembunyikan keimanan, atau lahiriahnya kafir, tetapi batiniahnya Mukmin. Yang terakhir ini bukan munafik.

Jadi, apakah seorang Muslim bisa saja kafir? Ya bisa saja. Bisa jadi banyak. Pada masa lalu, Abdullah bin Ubay itu salah satu contohnya, tokoh munafik yang mengaku Muslim. Jika masa lalu saja ada banyak munafik (padahal Nabi berada di tengah-tengah mereka), maka apalagi masa-masa sesudahnya, di mana Nabi sudah wafat meninggalkan manusia.

Karena keimanan memiliki banyak tema dan objek, karena keimanan memiliki banyak gradasi dan tingkatan, maka bisa saja seorang Muslim mengimani sebagian objek keimanan, tetapi masih mengkufuri sebagian yang lain. Kufur nikmat juga merupakan bagian dari kekufuran. Artinya, kekufuran bisa menimpa siapa, termasuk kepada Muslim.

Orang yang mengaku Muslim tidak serta merta bahwa ia otomatis terbebas dari sifat-sifat dan perilaku kufur. Mengaku Muslim itu satu hal, sedangkan berakhlak Muslim adalah hal lain. Itulah sebabnya larangan kufur dalam Al-Quran lebih ditujukan kepada orang-orang yang sudah menyatakan dirinya Muslim. Karena, Al-Quran adalah petunjuk bagi orang-orang yang beriman, bukan bagi orang-orang yang tidak mengimaninya.

Mengingat bahwa seorang Muslim tidak otomatis terlepas dari kekufuran, itulah sebabnya ia dilarang merasa diri suci, merasa diri paling Muslim, merasa diri paling benar, apalagi mengkafirkan sesama. Sebab boleh jadi kekufuran lebih mendominasi dirinya ketimbang keimanan.

Tentang kualitas keimanan diri sendiri saja kita tidak tahu, maka apalagi tentang keimanan orang lain. Karena itulah kita dilarang menilai atau menghukumi keimanan atau keislaman orang lain. Apalagi sampai mengkafirkan sesama Muslim. Mengkafirkan Muslim lain akan berakibat berbaliknya kekafiran kepada pengkafirnya. Nabi Saw bersabda, “Barangsiapa mengkafirkan seorang Muslim, maka ia kafir.”

Menjadi Muslim itu merupakan perjalanan hidup yang panjang, hingga kematian. Kualitasnya dicapai melalui usaha yang bertahap dan tidak tiba-tiba.

Karenanya, ketika seseorang mulai senang pada keislaman, itu awal yang baik. Tetapi untuk menjadi Muslim, ia masih harus melakukan perjalanan yang panjang dan tanpa ujung. Dan itu mengharuskannya rendah hati dan mawas diri. Sebab, bisa saja dalam perjalanannya itu ia malah terperosok dalam sikap-sikap kufur, dan itu malah menjauhkannya dari sikap-sikap keislaman.

Ada seorang cendekiawan Muslim tenar yang alim dalam keislaman, merasa tidak percaya diri menyebut dirinya Muslim. Bukan karena ia bukan Muslim, tetapi karena ia merasa bahwa dirinya belum pantas menjadi Muslim. Baginya kemusliman adalah kualitas ideal. Sementara perjalanan menjadi Muslim sangat panjang dan jauh, dan ia merasa perjalanannya masih sangat dekat. Bandingkan sikap cendekiawan ini dengan berbagai kalangan yang baru senang pada agama (muallaf agama) tetapi mudah menghukumi dan memvonis keislaman Muslim lain bahkan kepada kyai yang alim.

Capaian kualitas seorang Muslim itu ada di akhir kehidupannya, yakni pada saat kematiannya. Bukan saat ia masih menikmati kehidupan. Karena itulah husnul khatimah harus menjadi target setiap Muslim. Jangan merasa tenang karena sekarang menjadi Muslim, karena seseorang tidak tahu apa akhir kehidupannya. Jangan-jangan kekafiran masih lebih dominan ketimbang keimanan.

Ketimbang sibuk menilai apalagi menghakimi keislaman orang lain, lebih baik memeriksa keislaman diri sendiri. Karena tak seorang pun yang tahu seberapa besar titik keislamannya, apalagi keislaman orang lain. Jangan-jangan, justru kekafirannya lebih kuat daripada keislamannya. Sementara kehidupan seorang Muslim harus diakhiri dengan sikap berserah diri (muslim).

“Walaa tamuutunna illaa wa antum muslimuun. Dan janganlah kalian mati, kecuali kalian berserah diri.”

Semoga kita husnul khatimah… Aamiin

Bandung, 1 Nopember 2018

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.