Mulailah dari Definisi

Jika membahas tentang definisi, saya selalu teringat kata-kata Voltaire berikut:
“If you wish to converse with me, define your term…”

Definisikan dulu istilah-istilah kunci yang hendak menjadi bahasan. Jangan sampai kita berpanjang-panjang berdiskusi tentang suatu hal, padahal kata-kata kunci dalam tema itu sendiri kita tidak sepikiran, tidak satu definisi… Akibatnya, terjadilah debat kusir.

Padahal, ketika definisinya telah disepakati, bisa jadi diskusinya tidak perlu sepanjang dan seheboh yang terjadi. Karena ada kedekatan pemahaman pada fase-fase diskusi berikutnya.

Definisi itu penting, sangat penting. Dalam bahasan filsafat, definisi menempati posisi yang utama. Bahasan dan uraian tidak perlu diteruskan lebih jauh sebelum definisinya dimengerti terlebih dahulu. Sebab, kesalahan dan kesalahpahaman tentang sebuah definisi bisa berakibat tidak dipahaminya sebuah konsep atau pemikiran…

Banyak berseliweran kata-kata kunci (keywords) di tengah masyarakat kita, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Dan karena ketidakjelasan definisi (atau karena memang belum terdefinisikan), maka wacana dan perdebatannya tidak juga tuntas. Terus muncul, dan muncul lagi, seolah tidak pernah selesai. Padahal untuk membahas sebuah tema saja.

Bayangkan, SEBUAH SUB TEMA saja tidak selesai-selesai didiskusikan, dan balik lagi – balik lagi, seperti tidak ada kemajuan dalam proses diskusi. Padahal, bagi yang terbiasa berpikir filosofis, radiks, komprehensif, open minded, dan sistematis, seharusnya ada progres yang kian mendekati kebenaran pemahaman… Sehingga, pijakan diskusinya sudah harus bergerak dari satu batu pijakan ke batu pijakan berikutnya…

Apa yang seharusnya kita definisikan, atau bahkan kita definisikan ulang (redefinisi)? Semuanya, menyangkut kehidupan ini. Kalau dalam bahasan filsafat, objek filsafat adalah apa saja yang bisa dipikirkan, baik yang kemarin, hari ini, maupun esok, yang terlihat atau tidak terlihat. Maka, untuk konteks ini pun, semua hal bisa kita definisikan, atau redefinisikan…

Definisi itu sangat membantu pemahaman, bahkan ia adalah kunci memahami sesuatu yang dibicarakan. Tentu, karena heterogennya isi kepala orang, maka definisi tentang sesuatu bisa variatif, bisa banyak. Akan tetapi, untuk sebuah diskusi yang asyik dan diharapkan bermanfaat, definisi tentang sesuatu perlu disepakati dulu, agar pembahasan bisa menghasilkan pemahaman yang bergerak positif dan progresif.

Jangan salah…!
Definisi itu bisa mengubah kehidupan seseorang, sebuah masyarakat, bahkan sebuah bangsa.. Definisi yang buruk, menghasilkan capaian yang buruk. Definisi yang baik, akan menghasilkan capaian yang baik pula.

Orang yang hidup tanpa definisi yang jelas, maka hidupnya juga tidak jelas. Orang yang hidup dengan definisi yang buruk, hidupnya juga buruk. Orang yang hidup dengan definisi yang baik dan progresif, maka hidupnya juga akan baik dan progresif.

Sebagai contoh, sebuah masyarakat akan menghasilkan pemimpin yang luar biasa, jika mereka berhasil mendefinisikan dengan baik siapa pemimpin yang luar biasa itu.

Umat akan memiliki ulama/kyai/ustadz yang hebat jika mereka berhasil mendefinisikan dengan baik siapa sih yang dimaksud dengan ulama, kyai, atau ustadz itu…

Bangsa akan memiliki intelektual/cendekiawan/ilmuwan/profesor/sarjana yang luar biasa jika mereka berhasil mendefinisikan siapa itu intelektual/cendekiawan/ lmuwan/profesor/sarjana…

Kualitas pemimpin, ulama/kyai/ustadz, ilmuwan, intelektual, profesor, dan lain sebagainya adalah produk dari definisi masyarakat tentang mereka. Jika mereka buruk, itu karena definisinya buruk. Jika mereka baik, itu karena definisinya baik.

Memangnya masyarakat bisa membuat definisi hebat tentang term-term tersebut? Tentu saja mereka memerlukan inisiator dan pelopor, dan itu tidak banyak. Maka, inisiator itulah yang bisa membuat definisi-definisi tersebut. Bentuknya, inisiator itu bisa berupa institusi yang otoritatif, bisa juga individu kharismatik yang suaranya didengar oleh banyak orang dan dikuti oleh mereka.

Memangnya ada institusi yang otoritatif untuk itu? Seharusnya ada. Karena kita di sini ada banyak perguruan tinggi dengan ratusan atau ribuan profesor di dalamnya. Justru seharusnya aneh jika institusi-institusi tersebut sampai sekarang belum berhasil menghasilkan definisi-definisi berkaitan dengan kata-kata kunci penting dalam masyarakat bangsa ini…

Lalu, memangnya ada individu kharismatik yang suaranya didengar dan dikuti oleh banyak orang? Kalau didengar oleh semua orang, tentu saja tidak ada. Tetapi kalau didengar dan diikuti oleh banyak orang (meskipun banyaknya relatif), tentu saja di sini tidak sedikit. Tinggal individu yang bersangkutan, apakah ia memiliki kepedulian dan wawasan terhadap definisi-definisi hebat atau tidak.

Jika nanti definisi hebat telah dilahirkan, bukan masalah jika misalnya hanya sedikit orang saja yang mengikuti dan menaati definisi tersebut. Namun, jika sedikit orang ini kemudian berhasil menjadi pioneer untuk mensosialisasikan dan mengimplementasikan definisi hebat tersebut, maka akan semakin banyak yang mengikuti definisi tersebut…

Masyarakat itu mengikuti inisiator, pelopor. Bahkan di negara demokrasi sekalipun. Bangsa besar ini sebenarnya ditentukan oleh sedikit orang saja. Bukan oleh semua masayarakat yang sangat banyak ini… Hanya oleh segelintir orang saja, dari sekian ratus juta warga. Masyarakat banyak justru mengikuti orang-orang yang sedikit itu. Dan orang-orang sedikit itu bisa berupa presiden dengan menteri-menterinya, anggota dewan dari pusat hingga daerah, para kepala daerah, para pemimpin ormas dan lembaga pendidikan, pengusaha, dan sebagainya. Dan jumlah mereka sangat sedikit saja. Padahal penduduk di sini lebih dari 250 jutaan banyaknya….

Jadi, mulailah dari definisi…
KARENA DEFINISI ITU DAPAT MEMBENTUK DAN MENGUBAH…!

20 Nopember 2016

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.