Misteri Kata

Untuk mengetahui siapa seseorang (kualitas, karakter, ilmu dan lainnya) sebenarnya tidak sulit juga. Kebanyakan kita bisa melakukannya.

Perhatikan saja kata-kata yang keluar dari lisannya, atau yang tertuang dalam tulisannya. Karena kata-kata mencerminkan pikiran. Dan kata-kata juga menuntun terciptanya sebuah perbuatan.

Kata-kata itu mencerminkan isi pikiran, rahasia tersembunyi dari sebuah kepribadian. Kata-kata juga menjelaskan sosok dan diri seseorang. Tentang kebeningan, kekeruhan, ilmu, kebodohan, hangatnya persahabatan, juga kebencian… Kasih sayang dan kemarahan. Orang bodoh bisa terlihat dari kata-katanya. Orang cerdas juga demikian.

Jika seseorang ingin tampak baik, perbaikilah kata-katanya. Karena kata-kata buruk akan menampilkan diri yang buruk. Kata-kata yang alay, menjelaskan sosok pribadi yang alay. Kata-kata yang melow, juga menujukkan diri yang mellow.

Seseorang tidak bisa menghindar dari peniliaian orang-orang berdasarkan kata-katanya. Sebab kata-kata itu menjelaskan, memperlihatkan, bahkan “menelanjangi”.

Dalam kalimat yang sangat mudah dan sederhana, Ali bin Abi Thalib merumuskannya, “Seseorang itu tersembunyi di bawah lidahnya.”

Maka, sepasang suami isteri harus hati-hati mengeluarkan kata-kata kepada pasangannya. Tidak jarang suami yang akhirnya menyesal karena mengucapkan kata-kata yang bisa dikonotasi sebagai “CERAI”, padahal ia sedang emosional. Ada juga isteri yang mengucapkan kata-kata kepada suaminya yang berkonotasi menantang cerai dan suaminya mengiyakan.

Gara-gara kata-kata yang tidak terkendali, akhirnya mereka bingung apakah keduanya masih halal atau sudah haram karena talak telah jatuh.

Memang, kata-kata yang keluar tidak semuanya bersumber dari niat yang sama dengan kata-kata itu. Mungkin karena emosi, terancam, terpaksa, tertantang, atau kondisi lainnya. Namun, begitu kata-kata sudah keluar, ia akan mengikat dan memenjara pengucapnya. Dan pendengarnya akan menyimpulkan sesuai makna dari perkataan itu.

Jadi, sekalipun tidak disertai dengan niat, kata-kata harus tetap dijaga, sebelum akhirnya menjadi pusing akibat lisan yang tidak terkendali.

Kata-kata memiliki wajahnya sendiri-sendiri. Dan setiap orang hanya ingin menemui wajah yang baik dan enak dipandang.

Kata-kata itu penting. Dalam pepatah, ada ungkapan, “Keselamatan seseorang terletak pada penjagaan lidahnya”. “Salaamat al-insaan fi hifzh al-lisaan..” Yang dimaksud kata di sini bisa yang terucap, bisa juga yang tertulis.

Kata memang sangat penting. Ia mencerminkan kualitas seseorang dan apa yang ada dalam dirinya. Namun demikian, tidak sedikit kata yang berselisih dengan hati. Ada kata-kata dusta, yang berbeda dengan jiwa. Ada jiwa yang buruk, namun berpenampilan dengan kata-kata yang baik. Sebaliknya, ada jiwa yang baik namun tidak terlalu terampil berkata-kata baik.

Kenyataannya memang ada sebagian orang yang menjadikan keterampilan berkata-kata baik untuk menyembunyikan diri yang buruk.. Bicaranya keren, penampilannya oke. Padahal akhlaknya buruk, perangainya busuk. Orang seperti ini ada, dan ini bukan pilihan… Semoga saja orang seperti ini tidak berada di dekat kita…

23 Nopember 2016

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.