Mewadahi Visi Kang Dedi

Dedi Mulyadi adalah sosok yang senang mengembara, ngalalana. Turun gunung, mipir gawir. Nyucruk lembur, milang desa. Apruk-aprukan, aprak-aprakan. Persis seperti cerita raja-raja masa lalu di negeri ini, yang menjadikan pengembaraan sebagai kebiasaan dan keharusan.

Sekalipun domisilinya berada di kabupaten Purwakarta, di mana ia memimpin sebagai bupati, tetapi langkah kaki Kang Dedi sudah jauh menyambangi semua belahan negeri di seantero Jawa Barat. Dari 5962 desa se-Jawa Barat, sekitar 1.200 an desa telah ia kunjungi. Dari ujung utara hingga selatan. Dari ujung timur hingga barat provinsi dengan penduduk terbanyak di negeri ini.

Dengan ringan ia berjalan di atas galeng-galeng pesawahan, memasuki gang-gang sempit dan lorong-lorong kecil. Ia salat di masjid-masjid desa dan perkampungan, memasuki rumah-rumah masyarakatnya, tanpa pandang bulu, teu cacah teu menak. Ia biasa tampil berbicara di atas panggung-panggung mereka, membantu mengobati orang-orang yang sakit, memberi mereka modal usaha, dan membeli barang dagangan mereka.

Tak segan ia membayarkan biaya sekolah anak-anak orang dan persalinan orang-orang yang belum ia kenal, menghadiahi mereka hewan peliharaan. Ia juga sering menemui para kyai dan santri di berbagai pesantren, menghibur orang-orang yang sedang ditimpa masalah dan musibah, mendamaikan yang sedang berselisih, dan lain sebagainya.

Di atas panggung, terkadang ia berbicara sebagai seorang kyai yang sedang menjabarkan keislaman dan keagamaan. Terkadang sebagai seorang budayawan yang menguraikan nilai-nilai luhur budaya Sunda dan Indonesia. Terkadang sebagai enternainer yang menghibur ribuan warga. Terkadang sebagai orator yang sedang membakar semangat audiens. Terkadang sebagai dosen yang sedang memberikan kuliah umum secara akademis. Dan lain sebagainya.

Begitulah langkah dan kiprah Ki Sunda. Semua orang sudah mengetahui dan mengenali akhlaknya yang suka tutulung dan tatalang ini.

Bahkan di balik perawakannya yang terbilang mungil ini, kakinya sudah menyambangi mancanegeri. Seperti ke Amerika Serikat, untuk berbicara di atas podium PBB di New York, mengenalkan Purwakarta, Jawa Barat dan Indonesia. Juga membuka cabang sate maranggi dengan nama OMG, Original Maranggi Grill. Ke Hongkong untuk berbicara di hadapan ribuan TKI di sana. Ke Filipina untuk berbicara mengenalkan Sunda-Jabar-Indonesia di forum internasional. Juga ke Saudi Arabia untuk membantu TKI yang sedang ditimpa masalah.

Itu semua ia lakukan pada saat ia “hanya” seorang bupati dari kabupaten terkecil kedua di Jawa Barat, yang bernama Purwakarta. Dalam kacamata produktivitas, baru menjadi seorang bupati saja ia sudah melakukan banyak langkah penting dan luas, maka apalagi jika posisinya lebih dari itu. Karenanya, ketika kemarin ia turut mencalonkan diri sebagai cawagub dalam Pilgub 27 Juni 2018, itu tidak lain adalah untuk memperbesar ruang pengabdian dan pelayanan bagi masyarakat secara lebih luas dan leluasa.

Sekarang, ketika ia tidak lagi memegang kewenangan struktural baik lokal maupun regional, namun justru ia tetap seperti dulu. Ia tetap bekerja dan melayani, menyapa dan mengunjungi, menebar kebaikan dan kasih sayang, memberikan perlindungan dan pencerahan. Langkah kakinya tetap diayunkan. Kedua tangannya tetap dibentangkan lebar-lebar. Ia tetap berbuat baik tanpa batas, baik batas waktu maupun batas ruang. Dan kita semua menyaksikan hal ini.

Karenanya, untuk memastikan perluasan dan pelipatgandaan manfaat kebaikannya, maka sebagai seseorang yang sangat berharap terwujudnya visi-visi KDM, saya memandang perlu kiranya dibentuk sebuah wadah yang menampung dan mengorganisasikan seluruh aktivitas Kang Dedi selama ini, minus aktivitasnya di bidang politik. Wadah inilah yang diharapkan bisa membantu mewujudkan visi-visi KDM secara akseleratif, massif, dan berkelanjutan.

Saat ini Kang Dedi bukan lagi seorang sosok pribadi. Ia sudah menjadi sebuah visi itu sendiri. Dalam kacamata saya, kalau menyebut atau mendengar nama Dedi Mulyadi, maka yang terbayang adalah imajinasi dan visinya tentang Jawa Barat dan Indonesia ini. Baik dalam pendidikan, kebudayaan, keberagamaan, sosial, dan lain sebagainya. Yang tergambar dalam pikiran saya adalah tentang negeri yang subur, rakyat yang makmur, kemanusiaan yang akur, dan kebudayaan yang luhur. Itulah visi, yang pastinya tidak mudah diwujudkan, tetapi harus dibuktikan. Visi yang wujudnya banyak diharapkan oleh orang-orang.

Wadah ini sama sekali tidak mengurusi aktivias Kang Dedi di bidang politik, karena politik memiliki wadah dan salurannya sendiri. Namun wadah ini bergerak dan mengorganisasikan aktivitasnya di bidang pendidikan, kebudayaan dan sosial.

Sebagai seorang konseptor dan eksekutor pendidikan, Kang Dedi memiliki terobosan dan kebijakan sendiri dalam pendidikan, terbukti saat ia menjadi bupati. Karenanya wadah ini bisa membangun persekolahan khas Dedi Mulyadi. Sebagai budayawan, ia juga memiliki konsep dan implementasinya sendiri di bidang kebudayaan. Wadah ini bisa mensosialisasikan nilai-nilai kebudayaan yang selama ini Kang Dedi usung.

Dan sebagai sosok yang suka tutulung dan tatalang, wadah ini juga memfasilitasi semua jiwa yang sama memiliki keinginan dan kesenangan untuk membantu sesama. Dengan Kang Dedi sebagai pioneernya, wadah ini bisa mengelola akhlak tutulung-tatalang sebagai tradisi dan budaya bangsa.

Entah apa nama yang tepat untuk wadah ini. Yang jelas ia dibangun untuk mewadahi dan mengorganisasikan visi dan narasi besar Kang Dedi Mulyadi. Mungkin saja ia diberi nama Yayasan Dangiang Ki Sunda. Mungkin juga Yayasan Jabar Sajati. Atau, mungkin juga dinamakan dengan Yayasan Dedi Mulyadi.

Salam karahayuan…

Bandung, 2 Agustus 2018

Bagea

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.