Mengap Pendidikan Berbasis Pengajaran Al-Quran?

Mayoritas penduduk Indonesia itu Muslim. Tetapi tidak semua Muslim di Indonesia berarti otomatis sudah bisa membaca Kitab Sucinya, yakni Al-Quran, apalagi memahaminya.

Dulu, di kampung, anak-anak biasa belajar dan mengaji Al-Quran setiap bada salat magrib. Sebagian dari mereka menambah waktu belajar dan mengaji Al-Quran usai salat subuh. Di mana mereka belajar? Ada di mushalla (tajug), atau masjid. Ada juga di rumah pribadi para ustadz di kampung yang sengaja melayani anak-anak belajar dan mengaji. Adapun anak-anak yang belajar di pondok pesantren, mereka mendapatkan kesempatan dan waktu untuk belajar dan mengaji Al-Quran lebih banyak lagi.

Dengan manajemen waktu dan cara belajar seperti itu, anak-anak Muslim zaman dulu –di kampung– hampir semuanya bisa mengaji dan membaca Al-Quran. Interaksi mereka dengan Al-Quran sangat intensif, sehingga Al-Quran telah menjadi bagian dari hidup mereka.

Bahkan, mereka juga terbiasa memiliki adab tertentu yang sangat bagus terhadap Kitab Suci ini. Mereka sangat menghormati dan mengagungkannya. Misalnya, jika mereka membawa Al-Quran, mereka meletakkannya di atas kepala. Ini penghormatan yang sangat tinggi kepada Kitab Suci. Kadang mereka membawanya dengan meletakkannya di dada. Kadang di dada sebelah kanan, kadang di dada sebelah kiri. Ini menunjukkan kecintaan hingga ke hati. Sehingga, mereka bukan hanya mengagungkan dan menghormati, tetapi juga mencintai.

Jika mereka membacanya, mereka meletakkannya di atas sebuah tempat yang lebih tinggi dari kaki mereka. Bisa di atas papan yang dibentuk sebegitu rupa. Atau di atas meja. Kadang juga di atas bantal. Atau apa saja. Yang penting, posisi Al-Quran harus lebih tinggi daripada kaki mereka.

Usai membacanya, mereka mencium Al-Quran dengan bibirnya, atau dengan hidungnya. Jika ada lembaran atau robekan mushaf Al-Quran yang tercecer atau jatuh, mereka mengambil dan menjaganya, atau menyimpannya di tempat yang aman, agar tidak terinjak, atau tersapu, apalagi terbang lalu jatuh di mana saja.

Ala kulli hal, kita dulu saat anak-anak diajari adab penghormatan dan kecintaan kepada Al-Quran begitu rupa, dan kita terbiasa melakukannya dengan sepenuh jiwa.

Namun zaman berubah. Pengalaman dan pendidikan anak-anak masa dulu berbeda dengan masa kini. Begitu pun pengalaman dan keadaban mereka terhadap Al-Quran, berbeda pula. Meskipun kegiatan belajar dan mengaji Al-Quran di masjid atau mushalla masih ada, tetapi sudah makin jarang. Perlakuan dan keadaban mereka terhadap Al-Quran juga berbeda. Dan ini tidak boleh terus berlangsung.

Beruntung mereka bersekolah. Karenanya persekolahan harus sekaligus menjadi tempat yang sangat strategis untuk membekalkan ilmu, pengetahuan dan keadaban anak-anak, termasuk berkaitan dengan tentang Al-Quran. Agar mereka bisa membaca Al-Quran, memahaminya, mencintainya, dan mengamalkan ajarannya.

Sejak masa kepemimpinan Bupati Dedi Mulyadi, Purwakarta telah menjadikan persekolahan berbasis pada pengajaran Al-Quran. Dan kebijakan tersebut dilanjutkan oleh penggantinya, Bupati Anne Ratna Mustika.

Dengan program ini, pemerintah serius ingin menjadikan semua anak Purwakarta melek Al-Quran, Di Purwakarta, tidak boleh ada anak-anak yang tidak bisa membaca Al-Quran. Mereka harus dekat dengan Al-Quran, bisa membacanya, bisa memahaminya, dan bisa mengamalkannya. Mereka dibangun akal dan hatinya, untuk mengagungkan dan mencintainya.

Pendidikan adalah proses panjang. Dan pendidikan pada masa usia dini sangat menentukan. Usia sekolah sangat fundamental untuk membekalkan ilmu pengetahuan, pengalaman, kecintaan dan keadaban, termasuk berkenaan dengan Al-Quran.

Zaman boleh berubah. Tetapi kebutuhan dan kecintaan kepada kebenaran dan kebijaksanaan, adalah langgeng. Itulah sebabnya persekolahan di Purwakarta berbasis pengajaran Kitab Suci, Al-Quran. Karena ia adalah panduan abadi bagi kehidupan.

Sampurasun….

Purwakartaku Purwakartamu. Purwakarta kita semua.

Bandung, 27 September 2018

Bagea

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.