Saling mendoakan adalah kewajiban sesama Muslim. Namun sejujurnya setiap Muslim jarang saling mendoakan khusus saat bertemu saudara Muslim lainnya. Sebagian malah ada yg saling mencaci, bahkan lbh parah lagi mengkafirkan.

Bahkan Nabi Saw pun diperintahkan Allah tuk mendoakan orang2. Mengapa? Kata AlQuran, “Sesungguhnya doamu adalah ketenangan bagi mereka. Inna shalaataka sakanun lahum.”

Karena kita jarang saling mendoakan secara khusus kepada saudara Muslim kita, maka kiranya perlu ada momentum. Dan umat manusia berkreasi menemukan momentum itu, yakni saat waktu kelahiran, miilaad. Saat ulang tahun.

Memang ada sebagian kalangan yg membid’ahkan mengucapkan selamat ulang tahun, alasannya krn Nabi tdk mencontohkannya. Ya Allah, Allah telah memerintahkan Nabi tuk mendoakan orang2 pd masa beliau, dn beliau sdh menunaikannya. Ibnu Abbas didoakan khusus oleh beliau. Ammar bin Yasir didoakan khusus oleh beliau. Abu Dzar al-Ghifari didoakan khusus oleh beliau. Salman alFarisi didoakan khusus oleh beliau. Umar bin Khaththab didoakan khusus oleh beliau.

Selain individu, beliau jg bahkan mendoakan suatu kaum. Misalnya doa beliau, Ya Allah berkahilah Syam kami. Ya Allah berkahilah Yaman kami. Tuk orang2 Thaif jg beliau mendoakan khusus.

Skrg kita memiliki tradisi saling mendoakan kebaikan saat waktu kelahiran kita. Mengucapkan selamat dn menyampaikan doa. Rasul mendoakan orang-orang dn kaum. Bukankah itu contoh yg sangat jelas (burhaan qaathi’) dari beliau?

Ttg waktunya? Bukankah Nabi tdk mencontohkan doa saat kelahiran seseorang? Lagi-lagi ini momentum dn kesempatan. Sebaiknya kita saling mendoakan setiap saat secara khusus. Tp sejujurnya, itu sulit dilakukan. Krn kita masing2 memiliki perhatian sndiri-sndiri. Dan skrg kita menemukan kesempatannya, yakni waktu kelahiran seseorang. Jangan lupa, intinya kita sdg saling mendoakan kebaikan secara khusus. Dan Nabi telah meneladankannya kpd kita.

Lagi pula, dalam AlQuran pun Allah mengucapkan salam (mendoakan keselamatan) tuk Nabi Yahya saat kelahirannya, saat kematiannya, dan saat ia dibangkitkan kelak. Salaamun ‘alayhi yawma wulida wa yawma yamuutu wa yawma yub’atsu hayyan…

Juga Nabi Isa mendoakan dirinya dalam surat Maryam, “Salam atasku pada hari aku dilahirkan, saat aku meninggal, dan saat aku dibangkitkan kelak.”

Hadits Nabi saw dn ayat2 alQuran itu sedemikian jelas. Jd, kalangan yg biasa dan mudah membidahkan sesuatu, apalagi kemudian menyebutnya sbg tradisi Yahudi, mngkn ini jadi pertimbangan.

Saling mendoakan sesama Muslim adalah ajaran dan pesan Islam yg rahmatan lil aalamiin. Lain halnya jk ada sebuah acara kelahiran kemudian ada kegiatan2 yg menyimpang dn terlarang menurut syariat. Ini sdh jelas penilaiannya. Dan itu bukan bandingannya dg kegiatan saling mendoakan kebaikan.

Saling mendoakan sesama Mukmin, saling memberi perhatian kpd sesama Muslim, saling menyayangi sesama Muslim, adalah ajaran Islam, ajaran Nabi Saw. Yg bukan ajaran Islam dan Nabi adalah mengkafirkan sesama Mukmin, mencela sesama Muslim, memfitnah sesama Muslim, mencari2 kesalahan sesama Muslim karena kebencian, apalagi melakukan bom diri di tengah2 kaum Muslimin…

Sekali lagi terima kasih atas doa2 kebaikan yg tulus dr teman2 semua. Sy tidak bisa menyebutkan satu persatu antum semua. Allah yg mahatahu kebaikan antum semuanya. Semoga Dia menganugerahi kebaikan abadi bagi semua yg mendoakan, dan jg kita semua. Keimanan yg kuat, husnul khatimah, kesehatan, rezeki yg halal, baik dn luas, kelapangan, kemudahan dn kebahagiaan… Dan lain-lain sejenisnya. Aamin yaa Ilaahal ‘aalamiin….

Salam

27 Okt 2015

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.