# 9 : Mencintai Tuhan Lewat Perempuan (Resensi Buku)

Mencintai manusia itu konkret. Sedangkan mencintai Tuhan itu abstrak.

Semakin tinggi kualitas cinta seseorang, maka cintanya akan semakin abstrak; objek cintanya juga semakin abstrak. Untuk memahami yang abstrak, seseorang perlu memahami yang konkret. Karena itulah, untuk memahami bagaimana kita mencintai Tuhan, seseorang bisa memahaminya dengan kecintaan kepada perempuan.

Konsep tentang cinta kepada perempuan bisa mengantarkan kepada pemahaman tentang cinta kepada Tuhan. Kisah Layla Majnun bisa menjadi jembatan untuk memahami kecintaan kepada Tuhan, cinta sejati dan abadi.

Tidak ada cinta sejati, kecuali cinta Tuhan. Tidak ada yang abadi, selain cinta Ilahi. Kecintaan kepada manusia ada batasnya. Seringnya pertemuan bahkan bisa melahirkan kejemuan seorang pecinta. Mengapa? Karena, jemu sesungguhnya adalah fitrah manusia.

Akan tetapi, mencintai Tuhan takkan pernah menjemukan. Alasannya? Karena, berbeda dengan manusia yang bisa dilihat secara langsung dan konkret, maka Tuhan tidak. Tuhan adalah Zat yang Tersembunyi (al-Bathin). Keindahan Teragung-Nya selalu tersimpan rapih dan belum tersingkap. Jika semua keindahan di dunia ini baru satu persen saja, maka Keindahan Teragung yang masih tersimpan masih sembilan puluh sembilan persen lagi. Jadi, bagaimana kita akan jemu mencintai Tuhan yang memiliki seratus keindahan, padahal satu keindahan-Nya saja yang tersebar di seluruh dunia ini pun masih amat sangat luas dan belum tersingkap… Maka, berbahagialah menjadi pecinta Tuhan, pecinta abadi…

Pecinta sejati adalah orang yang melakukan transformasi cinta. Ia bergerak dari kecintaan kepada makhluk, menuju kecintaan kepada Tuhan. Selanjutnya, dari kecintaan kepada Tuhan, menuju kecintaan kepada makhluk, dengan Tuhan. Ia akan selalu bersama-Nya, baik di tempat sunyi maupun ramai.

Menjadi pecinta Tuhan berarti menjadi pembebas kemanusiaan. Menjadi kekasih-Nya berarti mengajak manusia untuk merasakan dan menikmati keindahan-Nya. Mencintai Allah berarti melepaskan belenggu-belenggu yang menjerat leher manusia, agar mereka semakin mudah untuk menuju-Nya…

Buku ini ingin mengantarkan kita kepada cinta. Cinta yang teramat luas, tak bertepi. Ditulis karena cinta, dengan cinta, dan untuk cinta. Ditujukan kepada orang-orang yang ingin meniti perjalanan cinta yang indah, tak menjemukan. Cinta yang menggetarkan, hidup dan menghidupkan… Inilah buku yang ditulis dengan bahasa cinta yang sejuk bagai embun, namun membara bagai api, bergemuruh bagai gelombang, berhembus bagai angin, dan halus menembus bagai cahaya….

Buku karya Ashoff Murtadha ini diterbitkan oleh AL-SHAFA, Bandung Indonesia
Harga: Rp 35.000 (plus ongkos kirim)

Untuk pemesanan, silahkan hubungi:

  • SMS : 02270901074
  • Email : arabmudahcenter@yahoo.com
News Reporter
Penulis

4 thoughts on “# 9 : Mencintai Tuhan Lewat Perempuan (Resensi Buku)

  1. Salam kenal juga Mbak Jeng Ida… Cinta adalah cinta, karena ia bukan ranah logika; ia berada dalam ranah rasa. Namun logika masih bisa berperan, dengan menyumbangkan basis pengetahuan. Pengetahuan inilah yang diharapkan menuntun seseorang agar tidak salah jalan, atau menyimpang… Terima kasih… dan salam sukses…!!!

  2. Buku ini sarat dengan cinta…mencipta Cinta yg abstrak menjadi benar2 nyata….kahartos …karaos dan buktos…begitu kira2…..diantos karya2 Indah berikutnya….

  3. Syukran Bu Lela… Itu memang yang diharapkan hampir semua orang… “kahartos, karaos, sareng buktos”…

Comments are closed.