Mencintai Nabi Dilarang?

Ashoff Murtadha
Direktur Studi Islam Bandung

Sambil makan malam, di bulan Sya’ban. Ibu muda yang baik hati ini bercerita, “Saya punya teman. Kalau ia mendengar saya bershalawat, ia menegur saya. Tidak boleh, katanya. Peringatan maulid Nabi juga dilarang. Ia bilang, bid’ah.”

Apa yang diceritakan ibu ini bukan kejadian yang pertama. Juga bukan yang terakhir. Di berbagai tempat, masih saja ada orang yang melarang shalawat dengan mengatasnamakan Islam. Cap bid’ah selalu diarahkan kepada orang yang bershalawat yang tidak sesuai dengan caranya memahami dan mempraktekkan Islam.

Di tempat lain, ada seorang bapak yang bercerita. Seorang tetangganya suka ikut acara-acara syukuran atau pertemuan di rumah-rumah di RT nya. Dalam acara-acara tersebut shalawat selalu dibacakan. Apa yang dilakukan tetangga tadi? Ia mengingatkan kepada yang hadir bahwa shalawatan itu tidak boleh dilakukan. Tidak ada contohnya dari Nabi, katanya.

Jika tetangga itu menghadiri acara, sebisanya ia “menyadarkan” orang-orang dari bahaya bid’ah dalam acara-acara atau pertemuan. Pikirnya, para tetangga lain yang bershalawat itu adalah orang-orang yang belum mengerti, maka tugasnyalah untuk membuat mereka paham. Kalau acara diisi taushiyah atau ceramah, tidak apa-apa. Tapi kalau diisi dengan shalawatan, tidak boleh, karena tidak ada contohnya dari Nabi, katanya.

Di tengah masyarakat Muslim hingga saat ini, memang ada sekelompok orang Islam yang tidak ingin umat Islam menunjukkan kecintaan dan ikatan hatinya kepada Nabi mereka. Kelompok itu sebenarnya tahu ayat dan hadits yang memerintahkan shalawat. Tapi, karena menurut mereka Nabi tidak mencontohkan pembacaan shalawat berjamaah, maka shalawatan seperti itu mereka bid’ahkan. Bukan hanya shalawat, zikir-zikir lain secara berjamaah juga mereka bid’ahkan.

Bagi mereka, definisi operasional tentang bid’ah adalah apa saja yang tidak dicontohkan oleh Nabi Saw. Maka, kita sering dengar dalam ceramah atau taushiyah mereka, diksi ini: CONTOH NABI, atau DICONTOHKAN NABI. Bagi mereka, Islam adalah apa yang dicontohkan Nabi. Di luar itu, bid’ah, dilarang.

Setahu saya, tidaklah demikian. Justru formulanya malah begini:

“Tidak semua yang Nabi contohkan, harus kita lakukan.

Sebaliknya, tidak semua yang tidak Nabi contohkan tidak boleh kita lakukan.”

Penjelasannya begini…

Sekalipun Nabi mencontohkan, jika ada larangan, ya kita tidak boleh melakukannya. Contohnya kita sudah sama-sama tahu. Yakni, beristeri lebih dari empat dalam satu waktu. Sekalipun beliau mencontohkan beristeri lebih dari empat, namun karena beliau melarang hal yang sama bagi umatnya, maka beristeri lebih dari empat menjadi tidak boleh kita lakukan.

Berikutnya.. Sekalipun Nabi tidak mencontohkan, namun jika AlQuran atau beliau memerintahkan, ya kita harus melakukannya. Contoh, alQuran memerintahkan bersedekah terlebih dahulu bagi siapa saja yang ingin berbicara berdua dengan Nabi. “Idzaa naajaytum al-rasuula faqaddimuu bayna yaday najwaakum shadaqatan…”

Nabi tidak mencontohkan bagaimana sedekah itu dilakukan sebelum bermunajat (berbicara berdua) kepada Nabi. Sebab beliau memang Nabinya. Namun, bagi kita umatnya yang mendapatkan perintah tersebut, ya kita harus melakukannya.

Memang ada sebagian amalan yang harus berdasarkan contoh Nabi, seperti salat (ini saja pun menimbulkan ikhtilaf, perbedaan). Namun sebagian lainnya tidak harus berdasarkan contoh. Acuannya adalah adanya perintah atau larangan. Jika ada perintah, lakukan. Jika ada larangan, hentikan.

Tentang shalawat, perintahnya jelas. Terlalu jelas, bahkan. AlQurannya jelas. Haditsnya juga jelas, dan sangat banyak. Misalnya, satu saja, “Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.”

Allah selalu bershalawat kepada Nabi. Para malaikat selalu bershalawat kepada beliau. Dan Allah perintahkan umat beriman untuk bershalawat dan bertaslim kepada beliau. Kapan pun, di mana pun. Sendirian atau bersama-sama.

Selain merupakan perintahNya, shalawat adalah juga bukti ikatan kita dengan Nabi. Ikatan batin, ikatan hati, dan ikatan cinta kita dengan beliau harus dijaga. Dan di antara upaya menjaganya adalah dengan memperbanyak shalawat itu. Karena dgn shalawat kita selalu menyebut nama beliau (selain nama Allah). Dan seorang pecinta akan selalu menyebut nama kekasihnya, baik sendirian maupun di depan banyak orang.

Shalawat adalah perintah Tuhan alam semesta ini. Mencintai NabiNya juga perintah dan sekaligus ujian dariNya. Apakah menjalankan perintah Allah dengan memasukkan rasa kecintaan di hati kepada Nabi itu menjadi dilarang?

Mencintai itu berbuat lebih. Mencintai itu berekspresi lebih banyak. Mencintai itu menyebut banyak, dan lebih banyak. Mencintai itu lebih dari yang bisa dipikirkan dan dimengerti…

“Ibu, apa yang teman ibu katakan itu, disadari atau tidak, adalah upaya menjauhkan umat Islam dari Nabi mereka, dari kecintaan kepada beliau, dari ikatan batin dengan beliau. Adalah aneh jika seorang Muslim enggan banyak menyebut Nabinya, banyak bershalawat, apalagi melarang orang-orang Muslim melakukannya. Lalu, jika umat Islam dijauhkan dari Nabi mereka, dengan siapa mereka akan didekatkan?”

“Iya. Masak sih kita dilarang memperingati, mengingat dan mengekspresikan kebahagiaan atas kelahiran Nabi (mawlid), padahal kita juga suka merayakan ulang tahun kita atau anak-anak. Tentang shalawat yang teman saya larang itu, justru ia sendiri kalau bernyanyi, lagu yang ia dendangkan ya tentang percintaan dan selingkuh-selingkuh gitu. Bershalawat kepada Nabi ia larang, namun lagu cinta dan perselingkuhan ia nyanyikan dengan nyaman-nyaman saja.”***

Shalawaat…!

10 Ramadhan 1437
15 Juni 2016

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.