Siapa pun yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, siapa pun yang mengaku Muslim dan Mukmin, harus mencintai Rasulullah Saw. Mencintai beliau adalah wajib bagi setiap Muslim. Shalawat yang telah Allah Swt perintahkan kepada orang-orang beriman itu adalah bukti bahwa setiap Mukmin harus mencintai beliau. Shalawat adalah ikatan yang menyatukan antara umat Islam dengan Nabi mereka. Selagi mereka masih bershalawat kepada beliau, mereka pantas mengaku sebagai umatnya. Jika tidak, lalu apa bukti kecintaan mereka kepada beliau?

Mencintai Nabi Saw adalah fardu bagi setiap Mukmin. Begitu pula, mencintai orang-orang yang dicintai oleh beliau juga wajib. Apalagi disebutkan dalam sebuah ayat Al-Quran bahwa mencintai orang-orang yang beliau cintai itu adalah “upah” atas risalah beliau. Ayat itu berbunyi, “Qul laa as`alukum `alayhi ajran illa al-mawaddata fi al-qurbaa“.  (–Katakanlah (hai Muhammad), “Aku tidak meminta upah kepada kalian atas risalah ini kecuali kecintaan kepada keluarga (-ku).”

Setiap Mukmin harus mencintai apa yang dicintai oleh Nabi mereka, dan membenci apa yang dibenci oleh beliau. Mereka mesti bahagia apa yang menjadi kebahagiaan beliau, dan bersedih atas apa yang menjadi kesedihan beliau.

Di antara orang yang sangat dicintai oleh beliau adalah kedua cucunya, yakni al-Hasan dan al-Husain, keduanya putra dari Ali bin Abi Thalib bersama putri beliau, Fathimah al-Zahra. Berdasarkan hadits dari Ummu Salamah, keempat orang inilah (Ali, Fathimah, al-Hasan dan al-Husain) yang disebut dengan Ahlul Bayt Nabi, atau keluarga beliau, atau al-qurba beliau. Mereka berempat adalah orang-orang yang sangat dekat, dan paling dekat dengan beliau. Jika ditambah dengan Rasul Saw, empat orang ini menjadi berjumlah lima orang.

Di kalangan kaum Nahdhiyyin ( NU), 5 orang ini sering disebut-sebut dalam syair pujian yang sangat dikenal dan banyak dihafal oleh kalangan mereka. Dulu, saat kecil, saat masih duduk di sekolah dasar, saya sering mendengar kakek saya di rumah beliau menyanyikan syair pujian ini. Kakek saya adalah seorang kyai NU yang memiliki pesantren di sebuah desa perbatasan antara Majalengka, Indramayu dan Cirebon.

Pada usia kanak-kanak itu saya sering ke rumah beliau; melihat beliau sedang mengajar para santri di mushalla. Ketika beliau sedang mengajar para santri itu, atau saat beliau sedang beristirahat, saya suka melihat-lihat dan membaca kitab-kitab dari lemari buku beliau, seringkali tanpa sepengetahuan beliau.  Dari beliaulah pertama kali saya mendengar dan akhirnya menghafal syair pujian ini. Ini salah satu pujian yang saya dapatkan dari beliau. Syair lainnya yang saya dapatkan adalah tentang nama-nama pemuda Ashhabul Kahfi.

Semula saya tidak paham apa makna dari syair tentang 5 orang itu. Namun, saat saya sudah bisa berbahasa Arab, saya segera tahu bahwa syair pujian itu bercerita tentang 5 orang kekasih Allah itu. Ketika beranjak remaja, saya sempat tidak mendengar lagi syair itu dibacakan, terutama setelah kakek saya wafat. Bahkan sepertinya saya juga lupa bahwa saya menghafalnya. Namun, beberapa tahun belakangan saya teringat kembali saat syair itu dinyanyikan oleh Sulistiyowati (Sulis), dengan suara yang amat indah dan menyentuh.

Syair itu berbunyi sebagai berikut:

Lii khamsatun uthfii bihaa..
Naar al-jahiim al-haathimah..
(versi lain: harra al-wabaa` al-haathimah)

al-Mushthafa wa al-Murtadha
wa ibnaahumaa wa Fathimah…

“Aku mempunyai 5 orang…
Dengan mereka aku padamkan
api neraka Jahim yang membakar
yaitu: al-Mushthafa (Muhammad Saw),
al-Murtadha (Ali bin Abi Thalib),
Fathimah dan kedua puteranya..”

Belakangan saya juga mendengar bahwa kalangan warga NU di Madura, biasa membacakan syair pujian ini menjelang salat fardu mereka. Mungkin sebagian kalangan Nahdhiyyin di berbagai wilayah yang lainnya juga sama.

Saya bersyukur telah mengenal syair ini. Bersyukur kepada-Nya, juga kepada almarhum wal maghfur lahu, kakek saya, KH. Ma’shum yang telah mengajarkannya kepada saya, dan almaghfur laha nenek saya, Hj. Marjonah. Sepanjang yang saya saksikan, sebagaimana lazimnya para kyai NU, beliau dan isteri beliau, atau nenek saya, adalah pecinta Nabi Saw dan keluarganya. Setiap bulan mawlid, setiap tahun, keduanya selalu mengajak para tetangga dan keluarga untuk bershalawat bersama-sama di masjid depan rumahnya, memperingati Nabi Saw, dan bersedekah makan untuk para hadirin majlis mawlid tersebut. Dan ini adalah saat yang membahagiakan bagi kami para anak kecil.

Semoga Allah Swt kelak membangkitkan kedua beliau dan kita semua dalam golongan para pecinta Nabi Saw dan keluarganya, bersama-sama Nabi Saw dan keluarganya. Semoga Dia menganugerahi kedua beliau dan kita semua syafaat Nabi Saw dan keluarganya.. Aamiin…

Kembali tentang kedua cucu beliau ini… Terbayang, saat Nabi Saw yang agung ini salat, sedang bersujud, kedua cucu beliau, al-Hasan dan al-Husain, menaiki pundak beliau. Begitu cintanya beliau kepada kedua cucunya ini, sampai-sampai beliau tahan sujudnya hingga lama, sampai kedua cucu ini turun dari pundak beliau. Ketika keduanya turun dari pundak suci itu, beliau baru bangkit dari sujudnya.

Diakhir salat, Rasul Saw. bersabda, “Sebaik-baik orang yang dinaiki adalah aku. Dan sebaik-baik orang yang menaiki adalah mereka berdua. (Ni`ma al-markuub ana, wa ni`ma al-raakibaani humaa).”

Suatu hari, al-Hasan dan al-Husain mendatangi Nabi Saw. Mereka berdua baru saja berlomba menulis bagus, dan hendak memperlihatkan hasilnya kepada kakeknya, Nabi Saw. Keduanya menemui beliau dan bertanya siapakah di antara mereka berdua yang tulisan tangannya paling baik. Karena beliau tidak mau menyakiti salah satu dari kedua, maka beliau tidak menjawab pertanyaan mereka, dan mempersilahkan mereka menemui ayahnya, Ali bin Abi Thalib.

Keduanya pergi menemui ayahnya,  Ali bin Abu Thalib, dan mengajukan pertanyaan yang sama. Ali tahu bahwa Nabi Saw tidak memberikan penilaian kepada kedua puteranya ini karena takut menyakiti perasaan salah satunya. Maka, Ali pun sama. Ali juga tidak mau memberikan penilaian. Dan Ali menganjurkan mereka untuk bertanya kepada ibundanya, Fathimah al-Zahra.

Al-Zahra tahu apa yang terjadi. Ia pun sama, tidak mau memberikan penilaian secara langsung. Namun ia menegaskan bahwa yang tulisannya terbaik adalah yang paling banyak mengumpulkan biji kalungnya. Ternyata masing-masing dari keduanya mendapatkan 3 butir biji. Saat biji ketujuh belum ada yang mengambil, Allah Swt perintahkan Jibril untuk membelah biji ketujuh tersebut menjadi dua yang sama besar. Sehingga masing-masing dari keduanya juga mendapatkan bagian yang sama.

Rasul Saw, Ali, Fathimah, bahkan Allah tidak mau menyakiti perasaan salah satu dari keduanya, bahkan untuk urusan yang sederhana itu. Betapa besar kecintaan beliau dan mereka kepada kedua cucunya ini. Dan, jika beliau dan mereka saja sangat mencintai kedua cucu ini, lalu bagaimana dengan kita, umat yang mengharapkan syafaat dari beliau ini?

Saat berkunjung ke rumah puterinya, Fathimah, Rasul Saw menanyakan di mana kedua cucunya. Saat keduanya telah berada di sisi beliau, beliau menyelimuti keduanya dengan selimutnya. Fathimah meminta izin untuk masuk dalam selimut. Kemudian Ali juga masuk dalam selimut beliau. Mereka berlima berada dalam satu selimut yang mulia. Demikian seperti diceritakan dalam hadits riwayat Ummu Salamah. Tentang kedua cucunya ini, beliau pernah menyebutkan bahwa keduanya adalah “Sayyida Syabab Ahli al-Jannah“, Dua Penghulu Pemuda Ahli Surga.

Alhasil, Nabi Saw sangat mencintai kedua cucunya ini, al-Sibthayn. Akan tetapi, malang nian…! Keduanya mengalami keadaan yang tragis dan menyedihkan saat wafatnya. Al-Hasan meninggal karena diracun oleh isterinya atas perintah Muawiyah bin Abu Sufyan. Al-Hasan yang saat itu menjadi khalifah umat Islam, wafat dalam kondisi tubuh hijau akibat racun yang luar biasa menyerang dan merusak tubuh sucinya.

Sedangkan al-Husain, adik dari al-Hasan, lebih tragis lagi, lebih memilukan dan menyayat hati…! Orang sehat dan normal mana pun takkan kuasa menyaksikan penderitaan dan pembantaian yang dialami oleh al-Husain di Padang Karbala itu. Ditemani 70 orang keluarganya yang terdiri dari beberapa lelaki, kebanyakan perempuan dan anak-anak kecil (termasuk bayi), al-Hasan menghadapi 3000 pasukan yang siap membunuh beliau. Oleh mereka beliau dibunuh, lalu dipenggal.  Jika tubuh suci al-Hasan hijau karena pengaruh racun yang ganas, maka tubuh suci al-Husain merah karena darah yang melumuri sekujur tubuhnya. Para lelaki lain dari keluarganya telah lebih dulu dibunuh, termasuk putranya yang masih bayi dalam gendongan. Sementara para perempuan ditawan.

Inilah kebiadaban paling kejam sepanjang sejarah. Dan yang lebih tragis lagi, kebiadaban itu dilakukan oleh orang-orang itu kepada orang yang sangat dicintai oleh Nabi Saw. Padahal sebagian mereka mengaku beragama dengan agama Muhammad, kakek al-Husain. Mereka mengaku bernabikan Muhammad, namun mereka membunuh cucunya yang sangat dicintainya, bahkan dengan cara yang sangat sadis.

Nabi Saw adalah Nabi Islam, Nabinya kaum Muslimin, Nabinya orang-orang yang beriman. Ali, Fathimah, al-Hasan dan al-Husain adalah Ahlul Bayt yang sangat dicintai oleh beliau. Mencintai mereka adalah ajaran Islam. Mencintai Nabi dan mereka bukan hanya milik mazhab tertentu, bukan hanya milik Syiah. Mencintai beliau dan Ahlul Bayt adalah hak dan kewajiban seluruh umat Islam yang mengaku sebagai Muslim, yang bernabikan Muhammad, bertuhankan Allah, mengimani hari akhir. Apa pun mazhab mereka.

Karena itu, berduka cita atas syahidnya al-Husain, pada tanggal 10 Muharram, adalah duka cita umat Islam di seluruh dunia sepanjang zaman, sampai hari kiamat. Nabi Saw sendiri telah mengenang terbunuhnya cucu beliau ini, jauh sebelum peristiwanya terjadi, yakni saat al-Husain baru saja lahir dan digendong oleh beliau. Saat al-Husain lahir, Nabi Saw menangis, karena Jibril telah mengabari beliau apa yang kelak akan terjadi pada cucu yang suci ini. Menjelang wafatnya, Fathimah juga mengingatkan puterinya, Zainab, tentang tragedi yang akan menimpa al-Husain (kakak Zainab). Demikian pula Ali bin Abi Thalib dan al-Hasan. Mereka semua telah mengingatkan sebuah tragedi yang akan menimpa al-Husain ini. Dan mereka berduka cita untuk peristiwa ini.

Maka, jika Nabi Saw dan Ahlul Baytnya berduka cita atas wafatnya al-Husain; jika mereka bersedih atas tragedi yang menimpa al-Husain; jika mereka mengutuk orang-orang yang telah membunuh dan memperlakukan begitu buruk al-Husain, maka demikian pulalah seharusnya umat Islam.

Al-Husain, Penghulu Para Syuhada (Sayyid al-Syuhada) ini, membawa panji kebenaran dan kesucian. Pada tanggal 10 Muharram, atau Asyura, di Padang Karbala, pesan kesucian dan kebenaran yang dibawakannya itu terus abadi melintasi ruang dan zaman, semua generasi. Di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di kampung saya dulu (saat kecil), tragedi ini dikenang di antaranya dengan membuat bubur merah dan putih pada setiap 10 Muharram (Asyura). Merah pada bubur itu adalah simbol darah al-Husain yang ditumpahkan manusia-manusia terkutuk; sedangkan putih adalah simbol kesucian dan kebenaran yang dibawakan oleh al-Husain, pewaris kakeknya. Dengan ini maka kita diingatkan akan tragedi kemanusiaan ini.

Kepala al-Husain dipenggal, dan terpisah dari tubuhnya. Dan sejak kepala suci beliau itu terpisah dari tubuh, kepala tersebut melewati perjalanan yang memberikan pelajaran yang luar biasa. Kepala suci itu dibawa oleh pembunuhnya menuju istana Yazid. Dan setelah menerimanya, Yazid memperlakukan kepala cucu Rasulullah ini dengan buruk. Selama 40 hari lamanya kepala beliau terpisah dari tubuhnya, sampai akhirnya kembali dipersatukan, di Karbala.

Bagaimanakah perjalanan menakjubkan dari kepala suci al-Husain ini? Secara tidak sengaja saya mendapatkan link video Youtube ini. Tentang Kisah Perjalanan Kepala Cucu Rasulullah Saw tercinta, Sayyid al-Syuhada, al-Husain a.s. setelah dipenggal oleh tentara Yazid bin Muawiyah di Karbala. Disampaikan oleh Ustadz Muhammad Alwi.

Klik di sini

Semoga ini semakin menumbuhkan kecintaan kita kepada Rasulullah dan keluarganya, mengikatkan batin dan hati kita kepada mereka. Kita berbahagia dengan kebahagiaan mereka. Kita bersedih dengan kesedihan mereka. Semoga kelak kita mendapatkan syafaat dari mereka semua. Allahumma shalli `alaa Muhammad wa aali Muhammad. Aamiin..

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.