Memperjuangkan Visi Tanpa Henti

Kata kyai, “Hidup sekali, hiduplah yang berarti.” Karena waktu takkan kembali, karena usia tidak bisa ditarik mundur, karena hidup takkan berulang, karena hidup di dunia hanya sekali, maka setiap orang harus menjadikan hidupnya berarti dan bermakna: berarti bagi semua diri, bermakna bagi sesama.

Allah menganugerahi hidup bagi setiap orang dengan sebuah misi dan tujuan. Tidak ada sebuah kehidupan yang diberikan oleh-Nya sia-sia. Dan melalui Nabi-Nya Dia menegaskan bahwa manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

Secara alami, setiap orang hidup dengan lingkungannya. Ia hidup bersama alamnya dan juga dibentuk olehnya. Ia hidup dan dibentuk oleh “papat kalima tunggal, papat kalima pancer.” Ia hidup bersama dan dibentuk oleh empat unsur kehidupan yang tunggal dalam alam ini, yakni unsur tanah, air, api, dan udara. Manusia dan alam itu satu kesatuan. Keduanya menyatu dan saling membutuhkan. Manusia dan alamnya akan harmoni dan saling menjaga jika manusia menerapkan konsep papat kalima tunggal dan papat kalima pancer tersebut.

Agar bermanfaat bagi sesama, maka manusia mesti dengan serius dan benar membangun dan mengelola alam di mana ia hidup dan tinggal. Jika alam terawat, manusia akan makmur. Jika alam rusak, ia ikut hancur.

Karena manusia dan alamnya itu satu kesatuan, maka visi pembangunan mesti berorientasi pada pembangunan yang berbasis lingkungan, berbekal pada potensi-potensi yang ada di dalamnya, mengeksplorasi sumber-sumber daya yang terkandung dan tersedia dalam lingkungan tersebut, serta menghidupkan nilai-nilai yang berkembang di situ. Bukan malah mengadopsi hal-hal dari luar yang tidak cocok dengan lingkungan di mana mereka tinggal.

Jangan sampai “jati kasilih ku junti”. Jangan sampai yang asli disingkirkan dan dibuang, sementara yang palsu malah diakui, dimuliakan dan membentuk kehidupan. Jangan sampai “nu lain di-enya-enya, nu enya di-lain-lain.” Jangan sampai, yang benar disalahkan, dan yang salah dibenarkan. Kalau yang asli disingkirkan dan yang palsu dimuliakan, maka yang terjadi adalah manusia akan tercerabut dari lingkungannya, terjadi disharmoni dan ketidakseimbangan dalam hidup, masalah sosial banyak muncul dan bereskalasi, dan seterusnya.

Oleh sebab itu, apa yang menjadi perjuangan di Jawa Barat ini adalah membangun negeri ini berlandaskan pada jati diri Jabar itu sendiri. Jawa Barat yang loh jinawi ini harus dibangun sesuai dengan karakteristiknya yang asli, dengan alamnya yang khas, dengan kekayaannya yang melimpah, dengan nilai-nilai luhur yang hidup dan tumbuh berkembang di dalamnya. Dalam bahasa Kang Dedi Mulyadi, inilah yang disebut dengan visi Jabar Sajati.

Visi inilah yang harus terus diperjuangkan, terus disosialisasikan, terus disuarakan lewat media-media yang dimiliki, dan terus dikembangkan. Sekalipun awalnya dilontarkan oleh Kang Dedi, namun sekarang visi ini telah menjadi visi bersama yang menjadi kewajiban semua orang untuk mewujudkannya. Sehingga, potensi, peran dan posisi apa pun yang saat ini orang-orang miliki mesti dikerahkan untuk menjadikannya nyata.

Bagi orang-orang yang telah memahami visi Kang Dedi, dan memiliki kesamaan visioner untuk membangun negeri ini, maka visi Jabar Sajati adalah perjuangan kolektif yang menyatukan semuanya untuk terus bekerja, berperan dan membuktikannya di tengah-tengah masyarakat. Sebab, sebagaimana kita, mereka juga mengharapkan visi ini terwujud.

Saat ini, perjuangan visioner itu baru saja dimulai. Proses sounding dan sosialisasi sudah mulai menyebar ke dalam alam pikiran masyarakat, serta membentuk impian dan imajinasi kehidupan mereka. Maka, mengupayakannya terwujud adalah perjuangan kita semua.

Memang, visi ini bisa diwujudkan secara efektif, massif dan akseleratif jika dilakukan oleh kepemimpinan yang menggenggam kewenangan dan kekuasaan. Akan tetapi, kekuasaan hanyalah kesempatan yang Allah pergilirkan.  Dan kita tidak boleh berpangku tangan hanya karena sedang tidak menggenggam kekuasaan. Ada banyak cara lain, ada kesempatan lain.

Kekuasaan itu bersifat struktural. Selain struktural, masyarakat masih memiliki kekuatan lainnya, yakni kultural. Selain secara struktural, visi bisa digerakkan dan dilakukan secara kultural. Ada dua jenis kepemimpinan di tengah masyarakat, yakni struktural dan kultural. Dalam kaitannya dengan visi Jabar Sajati, Ki Sunda Dedi Mulyadi masih tetap memimpin secara kultural untuk mewujudkan visi bersama yang menjadi kebutuhan dan harapan kita semua.

Perjuangan visioner ini adalah tugas sejarah setiap orang yang hidup dan tumbuh besar di negeri ini. Ini perjuangan tanpa henti, perjuangan tanpa akhir. Selagi kita masih hidup, kita tetap berkewajiban untuk memperjuangkannya. Dan perjuangan ini merupakan manifestasi dari pengamalan sabda Nabi agar kita menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi sesama dan lingkungannya…

Terus berjuang mewujudkan visi, tanpa henti…. Agar hidup yang cuma sekali ini, menjadi hidup yang berarti…

Salam rahayu…

Bandung, 3 Agustus 2018

Mahya Lengka

 

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.