Membayangkan Indahnya Kematian

Life is beautiful. Bagi yang menikmatinya, hidup itu indah, bahkan terasa sangat indah. Keindahannya sangat memikat, mempesona, dan menggoda. Ia menyenangkan, dan sangat sayang bila berlalu begitu saja. Begitu memikat dan menyenangkan, sehingga ia seringkali melenakan dan melalaikan.

Akibatnya, banyak orang yang terpedaya oleh kesenangan hidup yang memabukkan. Wa ma al-hayat al-dunya illa mata`u al-ghurur. “Dan tidaklah kehidupan dunia itu kecuali kesenangan yang mempedaya.”

Keindahan dan kesenangan hidup telah membuat banyak manusia lupa bahwa hidup mereka pasti akan berakhir. Cepat atau lambat, kenikmatan hidup itu akan ditinggalkan dan meninggalkan mereka. Kehidupan hanya dibentangkan sampai batas waktu yang telah ditentukan saja.

Batas itulah yang disebut dengan ajal. Jika ajal itu telah tiba, maka kehidupan dengan segala keindahannya itu akan berganti kematian. Dan kematian akan dirasakan oleh setiap yang bernyawa.

Kematian adalah fase perjalanan ketika setiap yang bernyawa harus kembali kepada Tuhannya. Pada saat itulah ia harus menemui Pencipta dan Penguasanya yang telah memberinya kesempatan hidup.

Orang yang menikmati hidup dengan mudah dan indah, akan kembali kepada Tuhan. Orang yang menjalani hidup dengan susah, juga tetap akan kembali kepada-Nya. Kematian pasti akan menjemput siapa pun, sekalipun ia bersembunyi di dalam benteng yang amat kokoh, “Aynamaa takuunu yudrikkumul mawt walau kuntum fi buruujin musyayyadah.”

Sebagaimana hidup. Ada orang yang menjalani hidup dengan susah. Ada yang juga yang menikmatinya dengan indah. Demikian pula kematian. Ada orang yang melihat kematian sebagai hal yang menakutkan. Tetapi ada juga yang melihatnya indah belaka. Baginya, bukan hanya hidup saja yang indah. Bahkan kematian pun indah. Bukan hanya Life is beautiful, tetapi juga Death is beautiful.

Ketika seorang janin terlahir, ia menangis. Menangis karena telah terpisah dari alam rahim yang telah dinikmatinya berbulan-bulan. Baginya rahim adalah alam terindah, terbaik, dan paling menyenangkan. Sehingga kelahirannya ke dunia ia kira sebagai berakhirnya kenikmatan dan keindahan yang telah ia alami dalam rahim. Menangis, karena ia mengira bahwa kelahiran takkan membuatnya kembali merasakan keindahan dan kenikmatan seperti di dalam rahim dulu.

Padahal, setelah bertahun-tahun hidup di dunia, ia segera tahu bahwa kenikmatan dan keindahan alam rahim tidak sebutir pun bila dibandingkan dengan keindahan dan kenikmatan di alam dunia. Begitu pun keluasannya. Kini ia sangat menikmati dunia yang indah dan menyenangkan, sangat luas seolah tanpa batas.

Akhirnya kehidupan telah membuatnya betah dan mencintai dunia. Ketika tahu bahwa suatu saat nanti ia pasti harus meninggalkan dunia ini, ia takut. Ia membayangkan kematian sebagai hal yang menakutkan, yang akan merampas semua kenikmatannya di dunia. Kematian ditakuti. Kematian dibenci. Padahal kematian akan menjemputnya, pasti.

Sama dengan masa dulu ketika ia baru terlahir, menangis meninggalkan rahim, dan kaget merasakan dunia. Sekarang pun sama. Ia menangis karena akan meninggalkan dunia yang indah itu, dan segera memasuki alam baru yang asing dan hanya misteri.

Padahal bagi sebagian orang, kematian adalah keindahan dan kenikmatan. Kelak di alam ukhrawi, mereka akan menemukan keindahan dan kenikmatan yang belum pernah terlihat mata, belum pernah terdengar telinga, bahkan belum pernah terlintas dalam pikiran manusia mana pun. Maa laa `ayn ra’at, wa laa udzun sami`at, wa laa khathara fi qalbi basyar.

Sehingga bagi mereka, kematian adalah indah belaka, gerbang awal yang akan mengantarkan mereka kepada berbagai kenikmatan yang tak terbayangkan. Kenikmatan yang tak ada bandingannya dengan semua kenikmatan dunia, sebagaimana kenikmatan dunia pun tak terbandingkan dengan kenikmatan di alam rahim.

Jika kehidupan di dunia jauh lebih indah dan luas dibandingkan kehidupan di alam rahim, maka begitulah kehidupan di alam akhirat jauh lebih luas dan indah dibandingkan kehidupan di dunia. Jika alam janin tidak sebesar tai kukunya dunia, maka dunia pun tidak sebesar tai kukunya akhirat. Bahkan lebih kecl lagi.

Maka janganlan berputus asa dari rahmat-Nya. Karena ampunan-Nya lebih luas dari semua dosa. Dan rahmat-Nya jauh lebih luas dari segala-galanya. Tinggal memilih, kembali kepada-Nya dengan sukarela, ataukah terpaksa….?!!!

Bandung, 11 Mei 2014

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.