Lelaki Berpakaian Perempuan

Ashoff Murtadha
Direktur Studi Islam Bandung

Kita mungkin pernah mendengar pesan dari hadits di bawah ini, namun tidak tahu persis redaksinya seperti apa. Barangkali ini diperlukan, setidaknya sebagai rujukan.

Rasul Saw bersabda, “Allah melaknat lelaki yang berpakaian seperti pakaian perempuan, dan melaknat perempuan yang berpakaian seperti pakaian lelaki.”

“La`anallaahu al-rajula yalbasu libsata al-mar`ati, wa al-mar`ata talbasu libsata al-rajuli.”

Hadis ini terdapat dalam Musnad Ahmad bin Hanbal, karya Ahmad bin Hanbal, jilid 2 hlm. 325, dan al-Mustadrak `ala al-Shahihayn, karya al-Hakim, jilid 4 hlm. 194.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah.

Kita gerah melihat lelaki yang berpakaian dan berpenampilan seperti perempuan, termasuk yang kita lihat di TV. Sampai pada peringatan HUT RI pun, di sebagian tempat, ada saja penampilan lelaki yang mengenakan pakaian perempuan, seperti kebaya, rok dan (maaf) BH tanpa baju, dengan gestur dan sikap tubuh yang diperempuan-perempuankan.

Apa sih manfaatnya dari penampilan seperti itu? Lucu tidak, nyeni pun tidak. Lebih tepatnya ini justru menunjukkan minimnya kreativitas. Dan ketika Allah melaknat tindakan seperti itu, tentu bukan tanpa maksud. Salah satunya, bisa jadi karena pakaian juga bisa membentuk perilaku seseorang. Karenanya Rasul mewanti-wanti agar umatnya menjauhkan diri dari tindakan seperti itu, agar tidak terjadi kerusakan sosial di kemudian hari.

Muncul pertanyaan: Kalau perempuan menggunakan celana jean, apakah itu termasuk dalam sorotan hadits di atas?

Apa yang disebut dengan pakaian lelaki dan pakaian perempuan itu, menurut saya, harus menggunakan pendekatan sosiologis. Sebuah bentuk pakaian bisa jadi disepakati sebagai pakaian perempuan di suatu masyarakat, tetapi disepakati sebagai pakaian laki-laki di masyarakat lain, atau disepakati sebagai pakaian netral: bisa laki-laki, bisa juga perempuan.

Contoh, jenis rok. Di masyarakat kita, rok disepakati sebagai pakaian perempuan. Tetapi di masyarakat Inggris dan Skotlandia pada abad 18 dan 19, rok digunakan sebagai seragam pakaian laki-laki terutama tentara mereka.

Kerudung. Di masyarakat kita, kerudung adalah pakaian perempuan. Tetapi masyarakat Arab biasa mengenakan kain sebagai tutup kepala mereka, ya seperti kerudung itu. Lukisan Firaun di Mesir juga digambarkan menggunakan tutup kepala seperti kerudung.

Lalu bagaimana dengan celana (model pakaian bawah dengan kaki kanan dan kiri berbeda ruas)? Dalam konteks sosiologis masyarakat kita, celana dipandang sebagai pakaian netral, bisa digunakan oleh laki-laki, bisa juga oleh perempuan. Kecuali jika celana itu berbentuk kulot atau lejin.

Alhasil, silakan simpulkan sendiri…

Kamis, 20 Agustus 2015

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.