Langgam dan Qiraat Al-Quran

Dalam membaca Al-Quran, ada ragam qiraat (cara baca) untuk sebagian ayat tertentu. Maksudnya, untuk sebagian kata dalam ayat Al-Quran, cara bacanya tidak tunggal. Misal, kata “maalik” dalam “maaliki yawmiddiin”, ada yang membaca huruf mim dengan panjang (maaliki) ada juga pendek (maliki). Tentang ini saya sudah pernah menuliskan goresan khusus, yang berjudul “Ilmu Al-Quran Tidak Hanya Tajwid”.

Selain dalam cara baca kata dalam sebagian ayat-ayatnya, keragaman juga terjadi dalam langgamnya. Misalnya, dalam ilmu qiraat kita mengenal langgam Bayyati, Bayyati Husaini, Shaba, Syiika, Jiharkah, Nahawand, dan lain-lain. Bagi yang pernah belajar ini, pasti mengenal istilah-istilah tersebut.

Contoh kongkretnya bisa kita simak bagaimana seorang qari membaca Al-Quran dengan indah. Sebut saja misalnya Muammar ZA, qori internasional kebanggaan Indonesia. Kalau ia membaca Al-Quran, ia menggunakan berbagai langgam tadi. Terkadang datar, kadang meninggi, kadang merendah. Kadang seperti sedih, kadang seperti ceria, dan lain-lain.

Mengapa bisa demikian? Karena langgam-langgam tadi mendeskripsikan kandungan dan suasana ayat. Di kalangan qori, hal-hal seperti ini diperhatikan. Mereka tidak sembarang membaca ayat dengan sembarang langgam. Karena langgam itu juga mencerminkan kandungan dan suasana ayat itu sendiri. Artinya, membaca ayat juga mesti mengerti makna ayat agar merasakan suasananya.

Ilmu qiraat yang melahirkan nama-nama seperti bayyati, nahawand dan lain-lain itu bukan dari Arab. Itu merupakan pengembangan ilmu yang dilakukan oleh orang-orang Persia (Iran). Dan ilmu hasil temuan bangsa Iran itu kemudian menjadi ilmu Islam tentang qiraat Al-Quran. Khususnya saat membaca Al-Quran secara mujawwad (indah).

Ilmu qiraat yang luar biasa itu bukan hasil dari pengembangan orang-orang Arab sendiri. Ilmu ini lahir dari kalangan non Arab (ajam), dalam hal ini Persia (Iran). Hal ini tidak diketahui oleh kebanyakan orang Muslim. Sama halnya jenis khat (kaligrafi Arab), ada sebagian yang bukan dari Arab khususnya daerah Hijaz (sekarang Saudi dan sekitarnya). Seperti khat Kufi berasal dari Kufah (sekarang Irak) dan khat Farisi berasal dari Persia (sekarang Iran).

Selain itu, yang perlu kita ketahui adalah cara membaca Al-Quran merupakan hasil ijtihadi (kreasi manusia), bukan tawqifi (berdasarkan wahyu). Seperti halnya ilmu tajwid juga merupakan kreasi ijtihad manusia (ulama). Jadi ilmu tajwid dan qiraat itu merupakan hasil kreativitas manusia dalam berinteraksi dengan Al-Quran, khususnya mengenai tata dan cara membaca.

Lalu bagaimana dengan langgam Jawa dan lainnya seperti Sunda saat membaca Al-Quran? Ini setara dengan langgam qiraay gaya Persia itu. Bedanya, langgam Persia telah menjadi ilmu qiraat yang menjadi standar internasional dalam dunia Islam. Sementara langgam Jawa dan etnik lainnya tidak, hanya bersifat lokal dan digunakan oleh sebagian orang tertentu secara terbatas.

Jujur saja, orang tua kita dulu, bahkan sekarang masih kita temukan, mereka membaca Al-Quran dengan nada dan langgam yang khas. Orang tua Sunda membaca (ngaderes) Al-Quran dengan khas nada Sunda. Begitu juga orang tua Jawa. Sangat mungkin juga setiap etnis atau suku di negeri kita ini memiliki langgam khas dalam membaca Al-Quran. Jika kita masih memiliki orang tua yang cukup sepuh, simaklah cara dan nada yang sudah jadi kebiasaannya dalam membaca Al-Quran. Khas sekali.

Tidak usah jauh-jauh dan panjang-panjang. Dalam menyebut nama Allah saja setiap orang dari etnis berbeda membacanya berbeda-beda juga. Ada yang menyebut “Aloh” (orang Sunda), atau “Awloh” atau “Awwoh” (orang Jawa) dan lain-lain.

Apakah mereka salah? Ini hanya masalah pengucapan dalam lisan. Bisa jadi karena dialek, atau karena kesulitan mengucapkan seperti orang Arab, atau hal lainnya. Ketika mereka mengucapkan kata tersebut, yang mereka maksud tetap adalah Allah Rabbul aalamin. Jadi, yang berbeda hanya pengucapan, sedangkan maksudnya sama.

Coba juga simak bacaan shalawatan yang ada di masyarakat kita dari dulu hingga sekarang. Ada banyak langgam yang variatif. Ada yang bernada sedih, ada yang ceria, atau juga nada yang bersemangat. Telinga kita sudah akrab dengan keragaman tersebut di negeri ini. Dan, lagi-lagi, itu sama sekali tidak menyalahi makna dan maksud. Tetap saja semuanya adalah shalawatan atas Nabi Saw. Yang berbeda adalah lagu, nada, langgam, intonasi, irama dan lainnya. Itulah bagian dari kekayaan khazanah dalam Islam. Ketika Islam masuk dan diterima oleh berbagai budaya dan bangsa yang beragam, dengan lidah dan dialek yang beragam, maka tak ayal keragaman juga makin variatif dalam membaca Al-Quran. Seperti kita tahu, jangankan berbeda bangsa dan bahasa, bahkan sesama bangsa Arab yang sama-sama berbahasa Arab saja pun dialek dan cara pengucapan mereka berbeda.

Lalu bagaimana kaitannya dengan membaca Al-Quran dengan langgam etnik, semisal Jawa? Ya, sama dengan langgam Persia tadi. Selagi masih sesuai panjang pendek dan makhrajnya, ya tidak masalah. Jangan lupa, langgam itu merupakan domain ijtihadi, bukan tawqifi. Apalagi perbedaan langgam itu tidak mempengaruhi makna. Hanya berbeda langgam dan nada saja.

Terlebih kalau kita mengkaji Al-Quran dalam ragam ilmu tafsir, perbedaan langgam itu bukan hal yang mendasar. Keragaman tafsir malah lebih variatif lagi, dan tentu saja mengasyikkan –karena menunjukkan betapa luas dan kayanya ilmu Allah. Dari ilmu tafsir kita tahu betapa beragamnya para ulama menafsirkan suatu ayat yang sama.

Kesimpulannya, ilmu Al-Quran itu sangat luas. Metode dan cara membacanya juga luas. Bukan hanya maknanya saja yang luas. Sejak membacanya saja ada variasi yang beragam. Hanya saja, tentu, hal-hal seperti ini diketahui tidak oleh semua orang Muslim. Hanya orang yang mau belajar dan mengkajinya dengan ilmu dan lapang dada sajalah ilmu-ilmu tersebut bisa didaras dan dimengerti.

Segala sesuatu memang ada ilmunya. Sayangnya, banyak orang berpendapat hanya dengan ketidaktahuannya. Lalu mereka mencela ini dan itu, menuduh ini dan itu, tanpa ilmu.

Sesuatu pasti ada ilmunya, juga ahlinya. Dan ada tahapan-tahapan untuk mempelajarinya. Sehingga seseorang tidak bisa menyimpulkan ini dan itu tanpa proses-proses keilmuan yang memadai.

Islam dan Al-Quran jelas sangat luas. Dan kita hanya tahu setitik saja.

Wallahu a’lam

Bandung, 6 Nopember 2018

Ashoff Murtadha

(Saung Ngaji Quran)

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.