Korupsi Ibarat Kakus

Korupsi itu kejahatan. Ia buruk dan bau. Tetapi mengapa banyak orang melakukannya?

Mungkin ini jawabannya:

Karena korupsi ibarat wc, kakus. Kakus tempat membuang kotoran itu bau menurut hidung orang-orang yang berada di luar wc. Tetapi bagi orang-orang yang sedang berada di dalamnya, (maaf) sedang berjongkok menuntaskan hajatnya, bau itu tidak dirasakannya, hidungnya tidak mengendus bau itu.

Awalnya mungkin tercium bau, tetapi lama-kelamaan bau itu seperti hilang. Atau, sekalipun masih tercium bau, bau itu diabaikan. Ia malah santai-santai saja dan menikmatinya. Kakus itu bau bagi orang yang di luar, tetapi tidak bagi orang yang di dalam.

Begitulah juga korupsi. Orang-orang berteriak dan mencela korupsi buruk, jahat, bau dan lain sebagainya. Itu ketika mereka tidak melakukannya. Namun, ketika mereka mulai memasuki suasana dan lingkungan koruptif, pertama kali mereka mengabaikan bau itu –sekalipun mereka tahu itu bau. Lalu mereka mencari pembenaran dan dalih bahwa tindakannya bukan korupsi, bukan penyimpangan, bukan kejahatan, dan seterusnya. Dan akhirnya mereka menikmatinya, kemudian berulang melakukannya.

Karenanya, agar tidak menjadi penikmat korupsi, jangan sekali-kali mendekati suasana dan perilaku koruptif. Sebab, begitu mulai mendekat, apalagi mulai memasukinya, maka nafsu akan mengabaikan keburukan-keburukannya bahkan mengupayakan membuatnya terkesan indah dan baik. Kemudian akhirnya ketagihan lagi melakukannya.

Jika pejabat atau penegak hukum sama-sama sudah memasuki kakus, maka mereka juga takkan lagi mencium bau kotoran. Orang-orang yang sama-sama berkubang dalam kotoran, sama-sama tak mencium atau mengabaikan aroma bau. Hanya orang yang berada di luarlah yang hidungnya masih normal bisa mencium bahwa yang bau itu bau.

Tetapi ada juga orang yang sedang mendekam di sebuah kakus, lalu berteriak marah kepada pendekam kakus lain yang baunya ia cium lebih menyengat ketimbang kotoran yang ia keluarkan.

Sebenarnya belum tentu juga kakus lain yang lebih bau. Bisa jadi malah kotorannya lebih bau, atau sama-sama bau. Tetapi mengapa ia bisa mengendus bau kotoran kakus lain sementara kotoran kakusnya sendiri tidak? Jawabnya adalah karena ia tidak berada dalam kakus sebelah yang ia sebut bau itu.

Begitu juga korupsi. Pelaku korupsi bisa jadi paling kencang teriakannya pada kasus-kasus korupsi orang lain yang ia tidak terlibat di dalamnya. Di depan publik ia bisa tampil seolah-olah tidak mengeluarkan bau –karena baunya sudah ditutupi minyak pengharum yang kuat. Ia seolah tampil bersih dan suci. Saat membuat aturan tentang korupsi, ia akan berjuang agar peraturan yang ia turut sahkan itu tidak mengusik perilaku koruptifnya.

Karena itulah tidak aneh jika tidak sedikit anggota DPR yang ingin melemahkan lembaga pemberantasan korupsi. Tentu saja mereka menggunakan logika-logika pembenaran yang dianggap baik dan masuk akal. Tetapi tujuan sebenarnya adalah untuk mengamankan perilaku buruk mereka agar tidak disentuh hukum.

Bagi orang-orang yang waras dan sehat, siapa pun yang korup, harus diproses dan diusut. Tidak pandang bulu, lawan atau teman, teman jauh atau teman dekat. Keburukan tetap keburukan, sekalipun teman yang melakukannya. Dan itu memalukan…! Kebaikan tetap kebaikan, kendatipun lawan yang mengerjakannya.

Bagi pemimpin yang waras, siapa pun boleh mendekat dan merapat. Sebab setiap orang masih dianggap baik selagi hukum belum menghukuminya jahat. Namun, begitu hukum sudah mulai mengidentifikasi dan memprosesnya, maka kedekatan apa pun tidak akan menghalangi hukum bekerja. Hukum adalah hukum, harus ditegakkan.

Pemimpin waras adalah orang yang berkata, “Saya serahkan pada hukum, biarkan hukum bekerja dan memproses.” Bukan orang yang berkata, “Tidak apa-apa kalau korupsinya sedikit.”

Sebagaimana kejahatan lainnya, korupsi adalah keburukan di tengah kemanusiaan. Mengganggu dan membahayakan. Karenanya, siapa pun pelakunya, proses…! Tidak pandang bulu…!

Bandung, 18 Maret 2019

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.