Ki Guru yang Menyatu

Dedi Mulyadi bukan hanya seorang pemimpin yang visioner, inovatif, inspiratif, dan menggerakkan. Bukan hanya seorang budayawan yang memiliki narasi kuat dan memikat. Bukan hanya seorang orator magis dengan diksi hebat. Bukan hanya sosok yang suka tutulung dan tatalang (menolong dan membantu). Juga bukan sekadar pribadi yang merakyat, membaur dengan masyarakat tanpa sekat..

Akan tetapi, yang juga menonjol dalam dirinya adalah bahwa ia seorang guru. Guru yang memberitahu, mengarahkan, menunjukkan, dan menerangi. Kesimpulan ini saya dapatkan setelah menyimak beberapa kali orasi atau ceramahnya dalam berbagai kesempatan, yang saya simak dari video. Baik ketika ia berbicara dalam bahasa Sunda maupun Indonesia, kita bisa menemukan darinya banyak ilmu yang berisi. Kesan sebagai sosok guru, sangat kuat dan layak disematkan kepadanya.

Sebagai misal, Kang Dedi pernah menjelaskan makna spiritual gerhana bulan. Uraian ini ia sampaikan di atas panggung dalam acara safari budaya yang berbarengan dengan terjadinya gerhana bulan pada tanggal 31 Januari 2017 lalu. Ia menguraikan makna gerhana bulan sebagai gerhana diri: cahaya bulan tidak memancar karena bumi menghalangi sinar matahari sampai ke bulan. Akibatnya, cahaya bulan tidak memantul ke bumi. Bumi adalah diri kita. Jika kita menghalangi kebaikan seseorang kepada orang lain, maka itu juga berarti kita menghalangi kebaikan itu sampai kepada kita. Tentang ini saya sudah tuliskan dalam judul “Gerhana Diri: Makna Spiritual Gerhana Bulan”

Ketika menjelaskan sejarah santri dan pesantren di hadapan para kyai dan guru di Cigondewah Bandung, yang juga dihadiri oleh KH Ma`ruf Amin dan KH Sofyan Yahya, kita melihat Kang Dedi tak ubahnya seorang sejarawan yang menguasai sejarah bangsa sejak sebelum masa kolonial Belanda, dan mengaitkannya dengan keunggulan budaya Indonesia yang kokoh karena kepesantrenannya. Pesantren adalah sistem pendidikan yang mandiri sejak zaman penjajahan, yang mampu menjadi antitesis bagi sistem dan kondisi sosial Indonesia yang saat itu tengah terjajah. Begitu pun saat berbicara di hadapan para kyai, ustadz dan santri Ponpes Cipasung Tasikmalaya.

Saat menjadi pembicara dalam acara HMI dan juga KAHMI, ia mampu memaparkan dengan jelas perbedaan konsep pergerakan mahasiswa (khususnya HMI) era Cak Nur dan zaman ini. Ia mampu membukakan cakrawala pemikiran dan wawasan bagi para pemerhati keilmuan dan pemikiran, juga pergerakan dan aktivisme mahasiswa. Sebagai mantan aktivis mahasiswa dan pendiri HMI di Purwakarta, wajar jika ia memiliki kapasitas dalam hal ini. Namun, sebagai seorang kepala daerah, kemampuan ini sangat langka.

Coba saja simak dengan baik kalau ia berbicara, baik dalam durasi yang sebentar maupun lama. Selain akan kita temukan banyak diksi yang bagus dan bernas, kita juga bisa menemukan input pengetahuan, kearifan dan pencerahan. Itu bisa kita temukan baik saat ia sedang tampil sebagai orator yang menggebu-gebu, penceramah keagamaan yang menyejukkan, maupun budayawan yang menghibur.

Masih ingat kisah Yudi dari Cianjur yang berjalan kaki tanpa alas dari Cianjur ke Purwakarta, selama 3 hari empat malam hanya ingin bertemu Dedi Mulyadi di Pendopo? Ketika ditanya mengapa ia melakukan hal itu, ia menjawab bahwa selain karena kekaguman pada sosok Kang Dedi, juga karena ia telah menganggap Kang Dedi sebagai gurunya. Mungkin ia sudah sering mendengar dan menyimak Kang Dedi berbicara, dan ia merasakan mendapat banyak input ilmu atau lainnya dari Ki Sunda ini. Itulah sebabnya ia memandangnya sebagai guru.

Lewat media sosial atau chatting pribadi, saya juga menemukan beberapa orang yang juga menganggap Kang Dedi sebagai guru mereka. Anda, para pembaca semua, juga mungkin merasakan dan menganggap hal yang sama. Kalau kita memperhatikan Kang Dedi berbicara, secara pribadi, saya juga sering menemukan berbagai hal yang bisa diambil. Loba pulungeun. Banyak hal yang bisa diambil dari kalimat-kalimatnya.

Secara formal-akademis, Kang Dedi sebenarnya “hanya” seorang lulusan fakultas hukum dari sekolah tinggi hukum yang ada di daerah, yakni di Purwakarta. Tetapi wawasan, pemikiran, konsep dan kemampuannya jauh melampaui pendidikan formalnya.

Pertanyaannya, mengapa Kang Dedi bisa memiliki kemampuan melampaui pendidikan formalnya? Dalam analisa saya, tentu saja karena dulu saat mahasiswa ia adalah seorang pembaca buku, pecinta ilmu, sering terlibat dalam berbagai diskusi, diskursus , filsafat, dan pemikiran, baik tema keindonesiaan, keislaman, maupun kemoderenan. Banyak tokoh dunia dan Indonesia yang ia baca dan pelajari, sekaligus mempengaruhi kepribadian dan pemikirannya. Plus, pengalaman, perjalanan  dan kepeduliannya pada narasi besarnya (yakni budaya, desa dan kemanusiaan) makin membuatnya menggali banyak pengetahuan dan kearifan.

Saya teringat suatu saat Kang Dedi pernah berkomentar tentang kepala daerah atau politisi yang memiliki gelar akademik banyak dan tinggi. Kurang lebih ia menyatakan bahwa pemimpin tidak boleh bangga dan terpaku pada gelar akademiknya. Seorang pemimpin seharusnya malu menjejerkan gelar di depan atau belakang namanya. Mengapa? Karena, seharusnya pemimpin memiliki kemampuan yang melampaui itu semua. Sebab, pemimpin itu memimpin semua rakyat yang beraneka ragam, yang ada dalam wilayah kepemimpinannya. Karenanya pemimpin harus menguasai ilmu-ilmu mendasar yang dimiliki semua rakyatnya yang beragam latar belakang dan kemampuan.

Kang Dedi bukan seseorang yang berlatar belakang insinyur atau arsitek. Tetapi buah karyanya membangun Purwakarta membuat decak kagum. Saat diwawancari oleh Inews TV, yang mengaku kagum terhadap keindahan pendopo di Purwakarta, Kang Dedi menjawab bahwa ia berguru pada alam dan lingkungan. Asal kita mencintai alam dan lingkungan kita, maka kita bisa mendapatkan banyak ilmu dan inspirasi dari alam sekitar. Arsitektur pembangunan di Purwakarta bersumber dari alam itu sendiri.

Yang tidak kalah menarik dari sosoknya yang guru ini adalah ia dengan leluasa dan ringan berbaur dengan masyarakat kecil. Tidak ada kecanggungan atau kepura-puraan. Ia bersikap dan bertingkah secara alami, dan tidak dibuat-buat. Sehingga, mungkin ini juga salah satu rahasianya, ia mampu berbicara tanpa beban dan bisa memproduksi banyak obrolan dengan lepas dan membekas.

Kang Dedi tampil bukan sekadar guru yang hanya pandai berbicara, beretorika, dan menyampaikan ilmu pengetahuan secara verbal. Tetapi ia terlihat ingin mewujudkannya dalam perilaku dan keteladanan. Sebagai contoh, tentang sikap lapang dada dan legawa. Bagi orang lain, mungkin tidak mudah menerima posisi sebagai cawagub pada saat modal politiknya besar. Namun, dengan ringan Kang Dedi justru menerimanya dan berjuang lebih keras dari calon gubernur kebanyakan.

Saat takdir belum menempatkannya pada posisi sebagai pemenang dalam pilgub kemarin, ia sangat berlapang dada dan legawa menerima keadaan. Dan ia tetap menebar cinta dan membantu sesama, langsung sejak sore hari itu juga, yakni tanggal 27 Juni 2018, saat Quick Count menyatakan kemenangan untuk paslon lain. Di akun facebooknya ia menyampaikan, “Hidup itu harus siap menerima keadaan.” Ia juga menegaskan, “Kekuasaan itu kesempatan, berbuat baik adalah kewajiban.”

Sebagai guru, di sini ia sedang mendidikkan sikap lapang dada dan keikhlasan.

Di situlah kita melihat integritas Kang Dedi sebagai guru bagi masyarakat luas. Guru yang menyatu dengan rakyat dan alamnya. Ia bukan hanya pemimpin, tetapi juga guru yang memberikan keteladanan….

Salam rahayu, Ki Guru… Guru yang menyatu…!

Bandung, 1 Agustus 2018

Mahya Lengka

 

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.