Kekayaan Sesungguhnya

Ada kalimat terbaik minggu ini, yang disuarakan Presiden Sederhana dari Republik Indonesia. Untuk semua orang, di mana pun. Di negeri ini, atau di negeri-negeri sana… Kita ucapkan terima kasih atas inspirasi terbaik ini.

Disampaikan di hadapan ribuan audiense, para kepala negara dan pelaku bisnis dari 190 negara, dalam acara Annual Meeting IMF-World Bank di Bali… Dan terus dikutip, dibicarakan dan diulas oleh jutaan orang di seluruh dunia, serta dibaca oleh lebih banyak lagi manusia.

Ini kalimatnya:

“Tidak ada artinya kemenangan yang dirayakan di tengah kehancuran. Tidak ada artinya menjadi kekuatan ekonomi yang terbesar, di tengah dunia yang tenggelam.”

Dengan kalimat luar biasa ini, Presiden kita, Joko Widodo, mengajarkan kepada dunia tentang politik kemanusiaan, ekonomi kemanusiaan, kemakmuran kemanusiaan. Pidato Jokowi ini telah membuat terperangah para pemimpin dunia yang hadir. Bahkan Presiden World Bank yang turut hadir merasa tidak perlu bicara apa-apa lagi di podium karena ia takkan mampu berbicara lebih baik dari Jokowi saat itu. Ia ingin pulang ke negaranya segera karena kata-katanya tidak lagi bermakna di hadapan pemimpin dunia.

Jokowi yang hanya tukang meubel itu seolah mengajari para pemimpin dunia bagaimana membangun relasi yang benar antar bangsa-bangsa, mendekontruksi cara pandang berekonomi, berkompetisi, berbangsa dan bernegara. Melalui pidato Jokowi, Indonesia kini ditatap dunia dengan muka tengadah. Oleh orang ndeso, para pemimpin dunia itu terkesima.

Kalimat Jokowi di atas luar biasa. Ia mewakili banyak bangsa yang sedang prihatin, namun tidak mampu menyuarakannya ke telinga dunia. Dan Jokowi mampu memperdengarkannya kepada mereka dengan berani, tanpa beban, menegakkan muka, dan berwibawa. Tidak mudah mendapatkan kesempatan seperti ini, dan lebih tidak mudah lagi untuk berani mengatakannya. Dan Jokowi melakukannya dengan leluasa.

Kalimat Jokowi itu “menegur dan mengkritik” negara-negara adikuasa yang sekarang tengah berperang dagang, yakni AS dan Tiongkok, yang berlomba-lomba dalam ekonomi tapi justru menghancurkan banyak negara berkembang.

Kalimat ini juga menggedor beberapa negara penebar horor, semisal Saudi Arabia dan sekutunya yang memporakporandakan Yaman yang berjuang mempertahankan kedaulatannya sendirian, dengan ribuan nyawa meregang, dengan rumah-rumah dihancurkan, dengan orang-orang yang berlarian mencari tempat pengungsian dan perlindungan.

Maka, dari kalimat di atas kita bisa mengungkapkan banyak kalimat turunan lainnya, yang menggugah dan menyadarkan. Seperti ungkapan berikut:

“Untuk apa menjadi negara termaju di tengah kehancuran negara-negara lain? ”

“Untuk apa menjadi orang terkaya di tengah orang-orang kelaparan?”

“Untuk apa menjadi bangsa paling makmur di tengah kehancuran negara-negara di dunia.”

“Untuk apa pintar sendirian di tengah kebodohan orang-orang sekitarnya?

Dan lain-lain.

Kemuliaan, kemakmuran, kekayaan dan kecerdasan yang sesungguhnya adalah ketika semua umat manusia ikut merasakan dan menikmatinya sama-sama. Tidak ada artinya perut Anda kenyang ketika perut-perut tetangga Anda kelaparan. Tidak ada maknanya Anda cerdas jika Anda membiarkan otak-otak di sekitar Anda bodoh dan kosong.

Inilah elaborasi dari sabda Nabi Saw yang layak kita renungkan, dan kita gali lagi.

“Tidak beriman orang yang tidur kekenyangan saat tetangganya merintih kelaparan,” Nabi Saw.

Kemanusiaan memang satu. Sekian milyar perbedaan yang nampak, namun sejatinya mereka semua sama: satu dan menuju Yang Satu. Mereka hanya akan menyempurna ketika menuju Zat Yang Satu, dan menyebarkan kebaikan untuk makhkuk-makhluk dari Zat Yang Satu itu, sebanyak-banyaknya.

Sebuah negara kaya bukan ketika ia berhasil memiskinkan negara-negara lain. Sebuah bangsa maju bukan ketika ia sukses memundurkan bangsa-bangsa di dunia. Sebuah bangsa makmur bukan ketika ia mampu melihat bangsa-bangsa lain sengsara dan menderita. Sebuah bangsa menang bukan saat bisa menghempaskan bangsa-bangsa lain dalam kekalahan. Apa gunanya muncul tinggi-tinggi ketika melihat orang-orang lain tenggelam lalu mati. Itu sama sekali kemunculan yang tidak berarti.

Sebuah bangsa maju, kaya, makmur dan menang ketika ia mampu mengangkat derajat yang tinggi bagi diri dan semua bangsa, mengajak makmur bersama, maju dan kaya bersama-sama.

Itulah kekayaan sesungguhnya, kecerdasan sebenarnya, kemakmuran sejatinya….

Bandung, 13 Oktober 2018

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.