Kata Indah yang Semula Menawan Kini Tertawan

Kata-kata indah itu sebenarnya menawan. Bisa menenangkan, menyejukkan, menyemangati, juga menggerakkan. Menenangkan yang gelisah, menyejukkan yang gersang, menyemangati yang malas, dan menggerakkan yang diam.

Kita pernah merasakannya, bahkan sering menikmatinya. Sekarang pun sebagian kita masih mengambil manfaat dari banyak kata indah yang bertebaran, tersebar bahkan tersodorkan dengan mudah tanpa diminta. Kita bisa mendapatkan dan menemukannya di banyak tempat dan media, apalagi media online.

Melalui medsos, banyak tangan yang membagikan kepada kita kata-kata bijak, tulisan bagus, dan ungkapan-ungkapan berkelas. Baik tulisan asli pengirimnya maupun tulisan orang lain. Dan kita tidak jarang pula membacanya dengan tuntas. Saat kita menilainya bagus dan bermanfaat, tangan kita juga tergerak untuk membagikannya kepada orang lain di media yang kita libati.

Sudah banyak kata-kata bagus dan tulisan bermanfaat yang kita baca dan bagikan. Setiap hari, setiap saat. Tetapi sekarang periksalah kendati sebentar saja, seberapa banyak yang masih kita ingat, dan seberapa kuat ia berpengaruh pada pembentukan watak yang sehat. Bahkan seberapa besar kita memahami isi dari yang kita baca dan bagikan. Jangan-jangan malah sebagian dari kita tidak mengerti apa yang dibaca, atau jangan-jangan pula kita belum membacanya namun terburu semangat membagikannya.

Ada contoh kasus begini. Ada sejumlah orang yang benci bahkan menyesatkan sebuah golongan atau kelompok. Dalam mindsetnya, golongan itu dikesani buruk sebegitu rupa. Suatu saat ada tulisan bagus yang dibagikan oleh para pembenci tadi dengan kekaguman dan kebanggaan. Mereka tidak tahu bahwa tulidan bagus itu ditulis oleh golongan yang mereka anggap sesat. Mengapa mereka membagikannya? Karena sebenarnya tidak mengerti apa itu sesat dan petunjuk, mereka hanya mendengar kata orang tanpa berpikir dan menganalisa.

Di satu sisi, fitrah manusia itu sebenarnya mencintai kebenaran. Namun di sisi lain mereka juga bergaul dengan lingkungannya, baik lingkungan nyata maupun lingkungan maya. Dan lingkungan tidak selamanya pasti baik bagi perkembangan fitrah mereka. Sudah begitu, mereka menelan mentah-mentah berita-berita bohong yang mereka dengar atau baca, tanpa kemampuan ilmu untuk memikirkannya.

Akibatnya, fitrah kebaikan itu ditenggelamkan oleh kebodohan. Dan ketika kebodohan itu disofistifikasi dengan bumbu dan simbol agama, maka di hadapan publik mereka memamerkan kebodohannya dengan mengatasnamakan agama. Yang mengenaskan, orang-orang yang tidak menyetujui kebodohan yang berbungkus agama itu akan dianggap sebagai penolak agama, penista agama, hingga sebutan liberal, munafik, sesat dan kafir, bahkan disuruh bertaubat.

Jadi, tidak sedikit orang yang membagikan tuilsan yang tidak mereka pahami, bahkan tidak sempat mereka baca.

Ada juga kasus lainnya. Orang-orang memahami suatu kebaikan dan kebenaran yang sudah menjadi common sense yang tidak diingkari siapa pun. Misalnya, kebenaran tentang larangan memfitnah, membuat berita bohong, mengkafirkan sesama Muslim, atau lainnya.

Tetapi perhatikankah, di media sosial kita banyak menemukan tulisan atau sekadar status yang melanggar kebenaran itu. Memfitnah seolah menjadi gaya hidup. Membuat dan menyebarkan berita bohong seolah sudah menjadi kebiasaan. Mengkafirkan sesama Muslim seperti sudah menjadi ritual yang tak terlewatkan.

Yang memuakkan, itu semua dilakukan dengan membawa-bawa agama, : menyeret-nyeret Islam. agama dipakai untuk memfitnah, menyebarkan kebohongan, dan mengkafirkan sesama Muslim. Lalu siapakah pelakunya? Banyak, dari kalangan awam yang tak berilmu hingga sekelompok orang yang berbaju putih, orang yang bersorban, orang yang sering berceramah, orang yang fasih membacakan ayat-ayat suci, orang yang dianggap ustadz atau mengerti agama.

Mungkinkah akal sehat menerima ucapan dari mereka yang menyuruh bunuh kepada sesama manusia tanpa hak, menghina orang lain (padahal ia marah ketika pemahamannya ia anggap dihina), memprovokasi orang berbuat rusuh? Mungkinkah akal sehat ini menerima kalimat dari mereka yang menyebar fitnah ini dan fitnah itu?

Menyedihkannya lagi, banyak orang yang mengikuti jejak fitnah yang ditebarkan mereka. Padahal, jika sedikit saja akal sehat mereka gunakan, lakukan tabayun, komparasi, analisa, dan belajar menyimpulkan secara benar, mereka segera tersadar bahwa omongan orang-orang itu fitnah dan mengada-ada.

Biar konkret, tidak usah jauh-jauh, kita ambil contoh aktual. Kita sudah mendapatkan uang pecahan baru khan, walaupun selembar? Kemarin-kemarin heboh isu logo palu arit di uang pecahan rupiah. Lalu disebarkanlah isu PKI dalam mata uang. Sekarang silakan perhatikan logo itu, lalu bandingkan dengan pecahan rupiah emisi pada pemerintahan sebelumnya. Masihkan kita percaya isu palu arit dan PKI pada pecahan rupiah pemerintahan ini, siapa pun orang-orang yang menghembuskannya?

Yang sangat terbaru adalah mulai ada pihak yang menyebarkan foto dan tulisan yang menceritakan bahwa jamaah salat idul fitri 1438 di Masjid Istiqlal hanya diikuti oleh beberapa orang saja. Foto itu menyebutkan bahwa ini karena khatibnya adalah Pak Quraish Shihab pakar tafsir Indonesia itu, yang oleh orang-orang tertentu dianggap sesat. Lebih-lebih karena di mesjid ini Presiden Jokowi yang mereka benci turut salat id pula.

Bahkan sebelumnya ada si anu yang banyak penyukanya yang menulis (ia mungkin merasa sedang berfatwa) agar umat Islam tidak salat ied di Masjid Istiqlal. Dan foto itu seolah menggambarkan betapa fatwa dari produsen fitnah itu diikuti oleh umat Muslim di Jakarta.

Padahal salat idul fitri di Istiqlal itu disiarkan langsung oleh sejumlah TV, dan diperlihatkan bagaimana sisi-sisi sudutnya dan shafnya yang berjubel dan penuh, hingga luber ke halaman bahkan hingga bagian-bagian agak jauh dari masjid. Diperkirakan lebih dari 100 ribuan jamaah yang ikut salat. Dan publik bisa melihat dan menyaksikannya.

Lalu, jika untuk sesuatu yang terang benderang saja ada segelintir orang yang berani memutarbalikkan fakta karena hobinya memfitnah dan menghasut, membenci dan mendengki, dan ada saja yang mempercayainya bahkan turut membagikannya, maka bagaimana untuk sesuatu yang tidak terlihat oleh mata secara jelas.

Harus diakui, inilah potret suram umat di negeri ini. Kemudahan informasi ternyata tidak membuat sebagian mereka tambah cerdas, melainkan keras dan (maaf) kurang waras.

Lalu di manakah kata-kata bijak dan indah yang kerap mereka ucapkan, tuliskan dan bagikan itu…?

Kata-kata indah yang semula menawan, kini tertawan… Menjadi tawanan. Kekuatannya tercabut dan terkurung, karena ulah mereka yang telah memberangus dan mengerangkengnya dalam kebencinan dan kegelapan. Jika kata bijak itu keluar dari mulut para pendengki dan pendusta, kini ia tak lagi bermakna…

Maka, lepaskan kata-kata itu dari ketertawanannya, agar ia tetap menawan…***

Senin, 2 Syawwal 1438
26 Juni 2017

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.