Kang Dedi Itu Lebih Jokowi

Kalau kita memperhatikan track record, gaya, dan narasi yang diusung Dedi Mulyadi, ia lebih Jokowi ketimbang figur yang lain.

Jokowi pernah jadi kepala daerah tingkat dua selama dua periode, begitu juga Kang Dedi. Jokowi memiliki kebiasaan blusukan saat jadi walikota, begitu pun Kang Dedi.

Jokowi tidak menjaga jarak dengan rakyat, demikian pula Kang Dedi. Keduanya sama-sama merakyat, bertindak tidak dibuat-buat dan natural. Keduanya sama-sama tidak jaim, juga tidak melakukan sesuatu berdasarkan pencitraan. Kebiasaan dekat dengan rakyat dengan akrab sudah biasa dijalani keduanya tanpa dibuat-buat. Sudah sangat sering, dan terjadi secara alami saja.

Jokowi bergaya ndeso, Kang Dedi urang lembur bau lisung. Jokowi bangga menyebut dirinya tukang meubel, Kang Dedi bangga menyebut dirinya budak angon, tukang ngarit, tukang ngala tutut.

Jokowi cenderung pada budaya lokal, mengangkat ekonomi kreatif, menghadap ke laut, membangun negeri dari pinggir. Begitu pun Kang Dedi, perhatiannya pada sungai, air, gunung, hutan, desa, sawah dan budaya, sangat luar biasa. “Gunung kudu awian, lengkong kudu balongan, lebak kudu sawahan” adalah ungkapan yang sangat populer khas Kang Dedi. “Rumah-rumah di bantaran sungai harus menghadap sungai, jangan membelakanginya,” kata Kang Dedi. Ini kurang lebih sama dengan kebijakan maritim ala Jokowi.

Jokowi sering difitnah dan dituduh tanpa dasar dan fakta. Serangan yang mengarah ke pribadi sering ia terima. Seperti tuduhan PKI, Kristen, keturunan Tionghoa, dan lain-lain. Begitu pula Kang Dedi, yang sering dituduh musyrik dan Sunda Wiwitan. Padahal keduanya sama-sama haji, sama-sama umrah, sama-sama dekat dengan ulama dan pesantren.

Perhatikan bagaimana keduanya menghadapi fitnah dan serangan itu? Keduanya sama-sama santai, tidak baperan, tidak sensian, tidak reaktif, serta tetap tersenyum dan tertawa lepas. Keduanya malah fokus pada kerja-kerja pelayanan dan pencapaian prestasi kepemimpinan.

Ketika bertemu dengan orang-orang sepuh yang dihormati, keduanya sama-sama rengkuh, handap asor, dan tawadhu. Gestur dan bahasa tubuh keduanya sama-sama mencerminkan cara budaya yang hormat pada yang tua. Yang satu memegang budaya Jawa, yang satu mengimplementasikan budaya Sunda. Dalam nilai-nilai luhur budaya, keduanya bertemu dalam perhormatan dan kasih sayang pada sesama.

Jadi, banyak hal yang mempersamakan keduanya. Karenanya wajar jika keduanya ada chemistry dan kesesuaian dalam tindakan dan pilihan. Dulu pada tahun 2014, Kang Dedi memang mendukung figur lain. Tetapi kalau kita perhatikan itu lebih karena fatsun kepada partainya, Golkar, yang memang mendukung figur tersebut. Apalagi saat itu kiprah dan jejak Jokowi belum terlihat, karena baru menjadi capres.

Namun sekarang pada tahun 2019 ini, Kang Dedi berada dalam barisan Jokowi, karena sudah terlihat seperti apa prestasi dan visi Jokowi. Dan bandingkanlah peran Kang Dedi saat pilpres 2014 dengan pilpres 2019 sekarang ini. Untuk Jokowi sekarang, Kang Dedi berperan sangat sentral khususnya di Jawa Barat, bahkan menjadi ketua tim kampanye daerah (TKD) Jokowi-KyaiMa’ruf untuk wilayah Jabar.

Memang suasana dan posisi struktutal Kang Dedi berbeda antara Pilpres 2014 dan 2019. Sekarang ia lebih powerful ketimbang lima tahun lalu. Dulu ia hanya ketua DPD Golkar Kabupaten Purwakarta, sekarang ketua DPD Golkar Provinsi Jabar. Dulu ia “hanya” bupati, kini namanya sudah menasional.

Namun, bukan karena itu yang mendekatkan keduanya. Secara personalitas dan gagasan visioner politik, saat ini Kang Dedi lebih menemukan chemistry yang tepat, bersama Jokowi. Karenanya kiprah dan peran yang dilakukan Kang Dedi juga memiliki intensitas dan akselerasi yang jauh lebih tinggi. Ini lebih karena kesamaan visi dan narasi, juga kedekatan personalitas.

Itulah sebabnya, dari banyak segi, Kang Dedi memang lebih Jokowi, ketimbang sosok yang lain. Hal paling menonjol yang membedakan keduanya adalah bahwa Kang Dedi seorang orator yang mampu merangkai dan mengolah kata-kata magis dan menggerakkan, dan banyak kalimatnya yang bagus dikutip jadi quote. Sedangkan Jokowi bukan seorang orator. Tetapi jangan salah, sekalipun bukan seorang orator, banyak kalimat Jokowi yang bisa dikutip dan dijadikan quote bagus dan inspiratif.

Sebagai orang yang cukup intensif mengamati dan mempelajari sosok Kang Dedi, saya cukup mengenalinya. Sehingga apa yang Kang Dedi lakukan saat ini tidak lepas dari visi, narasi dan langkah yang selama ini ia perjuangkan dan ayunkan. Misalnya, narasi budaya dan desa, kecintaan pada tanah air, kepedulian pada rakyat kecil, toleransi dan penghormatan pada sesama, dan lain sebagainya.

Langkah Ki Sunda akan tetap terayun. Ia akan tetap menjelajah dan menemui banyak orang. Apa pun peran dan ruang yang ia miliki, ia konsisten memperjuangkan visi. Visi Jabar Sajati, visi Pajajaran Anyar dan lain-lain akan tetap menjadi acuan gerak dan langkah. Dengan domain dan ruang yang berbeda, visi tersebut adalah motor penggerak yang mengarahkan.

Dan bagi para Dedimania atau KDM- mania, visi tersebut juga telah menjadi milik bersama. Karenanya perjuangan Kang Dedi adalah perjuangan mereka semua.

Sampurasun, Indonesia Maju…!!!

Bandung, 25 September 2018

Bagea

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.