Kami Bukan Orang Cacat, Kami Orang Berbeda

Sejak pembukaan Asian Para Games Oktober 2018 yang menampilkan anak gadis 10 tahun tanpa dua kaki di kursi roda bersama Presiden Jokowi, saya melihat beberapa lagi sosok-sosok difabel yang luar biasa.

Sebelumnya mungkin sebagian mereka sudah pernah diekspose, hanya saya saja yang kurang update informasi. Atau, mungkin juga karena sekarang ekspose tentang mereka lebih kerap lagi.

Bulan, anak gadis 10 tahun, tanpa dua kaki, adalahh sosok anak yang hebat. Bersamanya, saat pembukaan Asian Para Games, ada banyak orang sepertinya yang juga hebat. Keahlian kinestetik dan olah tubuhnya menakjubkan, mengalahkan orang-orang normal pada umumnya. Ada ribuan orang-orang berprestasi dan menakjubkan yang berhasil menghancurkan huruf “DIS” pada kata “DISABILITY”, hingga mereka menjadi sosok-sosok ABILITY. Mereka telah melampaui batas disabilitas dan menikmati ruang abilitas yang menyentak dan menyadarkan.

Prestasi mereka, inspirasi dan semangat menyala mereka, sangat pantas diganjar dengan bonus besar. Tak perlu ada perbedaan dengan para atlit normal. Bonus 1,5 milyar bagi peraih medali emas sangat pantas bagi mereka, bahkan mungkin seharusnya lebih. Karena mereka bukan saja meraih prestasi bergengsi, namun juga mentransmisikan semangat optimisme dan motivasi besar bagi jutaan orang yang mungkin saat ini tengah putus harapan –sekalipun tubuh mereka sempurna. Negara pantas menghargai orang-orang hebat yang telah membangkitkan spirit keunggulan bagi bangsa ini secara keseluruhan.

Ternyata spirit keunggulan dari kaum difabel tidak hanya ditemukan dari ajang Asian Para Games. Karena ia ternyata ada di mana-mana, dan acara para games telah memicunya muncul lagi, terekspos lagi.

Malam minggu ini, Sabtu 13 Oktober 2018, saya menemukan kembali inspirasi terbaik, juga quote-quote terbaik. Dari siapa? Dari sosok difabel bernama Zulkarnaen, orang Banyuwangi yang diwawancarai oleh sebuah stasiun TV, dengan host Ronald dan Oppi Andaresta.

Zul –nama panggilan Zulkarnaen– sekarang adalah seorang fotografer profesional, untuk acara prawedding dan lain-lain. Dalam acara Asian Games September 2018 lalu ia terpilih mewakili Banyuwangi membawa obor Asian Games. Dan dalam wawancaranya di TV itu, banyak pelajaran dan kalimat hebat keluar dari mulutnya. Wajah syukur dan bahagianya menularkan semangat syukur dan rasa haru siapa saja yang menyimaknya.

Jangan salah, Zul memang seorang fotografer profesional. Tetapi ia tidak mempunyai dua tangan. Lengannya hanya sampai siku, tanpa jari jemari dan kuku. Ia juga tidak memiliki dua kaki seperti kita pada umumnya. Dan dengan kondisi fisik itulah ia bisa menjadi fotografer profesional: dibayar karena memiliki keahlian sebagai fotografer yang bersaing dengan orang-orang normal.

Yang menakjubkan saya bukan semata-mata itu. Namun juga mindsetnya, cara pandangnya, wajah syukurnya, dan kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya, luar biasa. Mindsettingnya dahsyat. Dekonstruksi mentalnya mantap. Rekonstruksi jiwanya hebat.

Katanya saat bayi ia pernah dibuang orang tuanya. Saat anak-anak ia bahkan pernah mencoba mau bunuh diri beberapa kali. Namun sosoknya hari ini telah menjadi pribadi yang berbeda sangat kontras dengan masa lalunya.

Ada beberapa mindsetting bagus yang saya ingat keluar dari lidahnya. Ia meyakini bahwa setiap orang lahir dengan misi khusus dari Tuhan. Dan hasil kontemplasi hidupnya telah membuatnya mampu memproduksi cara pandang dan kalimat hebat yang harus diperhatikan oleh manusia secara keseluruhan. Misalnya sebagai berikut:

(1) “Kami bukan orang cacat. Kami orang berbeda.” Ia melihat disabilitas bukan sebagai cacat, melainkan sebagai pembeda. Ini cara pandang yang keren. Ingat, dalam teori kompetisi, perbedaan adalah keunggulan.

(2) “Sukses adalah menjadikan diri bermanfaat bagi orang lain.” Kalimat ini mungkin sudah biasa bagi kita. Tetapi menjadi luar biasa ketika diucapkan dengan hati yang mantap oleh sosok dengan tubuh yang tidak sempurna namun membuktikan dirinya eksis di tengah sesama.

(3) “Menjadi terbaik itu tidak butuh sempurna.” Wow, ini asli keren pisan. Jangan sampai kita lupa kalimat ini. Ini kalimat motivatif yang berkelas.

Maksud kalimat ini adalah bahwa untuk bisa menjadi manusia terbaik itu tidak harus dengan tubuh yang sempurna. Orang difabel bisa tumbuh menjadi manusia terbaik, bahkan mengalahkan orang sempurna.

Seperti kita tahu, sabda Nabi, manusia terbaik adalah orang yang paling bermanfaat bagi sesama manusia. Nah, dari Zul kita diberitahu bahwa menjadi manusia terbaik tidak butuh tubuh yang utuh. Banyak orang normal menyusahkan sesama. Karenanya kesempurnaan tubuh bukan syarat menjadi manusia terbaik.

Syarat menjadi manusia terbaik adalah menjadi sosok yang bermanfaat bagi sesama. Dan itu bisa dilakukan oleh siapa saja yang berjuang mewujudkannya. Tidak peduli normal atau difabel. Semua berpeluang sama.

Saya melihat Zul pantas menjadi motivator. Bukan saja bagi kaum difabel, tetapi juga bagi manusia secara keseluruhan. Dengan mengenakan iket di kepalanya, ia mampu berbicara dengan tenang, artikulatif, jelas, dengan diksi yang berkelas dan uraian yang mencerahkan. Kemampuan jenis ini masih langka bahkan di kalangan manusia yang normal.

Kini makin jelas bahwa prestasi itu berawal dari cara pandang yang benar. Dan orang-orang yang memiliki cara pandang yang benar itu bisa dari kalangan mana saja. Kesempurnaan tubuh bukan jaminan bagi lahirnya pikiran yang benar. Sebaliknya, pikiran yang benar bisa lahir dari tubuh yang tidak utuh.

Pelajaran bagus minggu ini dari Zul yang inspiratif: “Kami bukan orang cacat, kami orang berbeda.”

Jika orang tanpa dua tangan dan tanpa dua kaki saja bisa berkata begitu penuh syukur, maka apalagi orang-orang bertubuh utuh. Seharusnya lebih dari itu dalam melihat hidup.

Hari yang keren…!!!

Bandung, 14 Oktober 2018

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.