Kalau Mau Beragama, Gunakan Akal

Ashoff Murtadha
Direktur Studi Islam Bandung

Al-Diinu ‘aqlun, laa diina liman laa ‘aqla lahu…

Agama itu akal. Tidak ada agama bagi orang yg tidak berakal.

Agama mensyaratkan akal. Orang yang tidak berakal takkan sanggup mencapai agama. Agama hanya bisa dijalani dengan akal, oleh orang-orang yang berakal.

Dalam fiqih, kewajiban-kewajiban taklifi bersyarat adanya akal. Berakal menjadi satu dari syarat wajib (syuruth wujub) sebuah tindakan ibadah (ta’abbud). Orang yg hilang akal tidak wajib salat, jika pun ia melakukan gerakan2 salat, salatnya tidak sah.

Dalam beragama, setiap orang harus menggunakan akalnya. Sekalipun tidak setiap amalan ibadah menjadi objek akal, namun mengapa suatu ibadah harus dilakukan adalah rasional, ma’qul.

Contohnya begini:

Salat subuh berjumlah dua rakaat. Alasan mengapa jumlahnya dua rakaat, bukan objek akal. Tetapi bahwa kita harus tunduk patuh mengikuti ketetapan-Nya ini dg ikhlas dn cinta, adalah rasional. Ketundukan kepada Allah adalah rasional. Mencintai-Nya adalah rasional. Menaati-Nya adalah rasional.

Dan rasionalitas cinta adalah mengikuti apa pun yang diinginkan Kekasih, sekalipun tidak dimengerti saat ini alasannya. Agama tanpa akal takkan melahirkan keberagamaan yang kuat, melainkan mudah digoyang, naif bahkan merusak.

Disebutkan bahwa Iblis lebih takut kepada orang alim yg sedang tidur ketimbang kepada orang bodoh yg sedang salat.

Ada banyak riwayat yg menyebutkan ttg pentingnya berpikir. Misalnya, “Berpikir sesaat lebih baik daripada beribadah setahun.” “Keutamaan seorang alim di atas abid bagaikan keutamaan matahari di atas bulan saat purnama.”

Orang yg selalu menggunakan akalnya dengan benar, dan tulus mengikuti konsekuensi2 logisnya, bisa sampai kepada Kebenaran. Ia tinggal perlu syariat agar bisa bertindak thd Kebenaran sesuai tuntunan.

Sebaliknya, pengaku beragama yg tidak mengaktifkan akalnya, ia akan gagal mencapai kebenaran agama. Ia akan tetap bodoh. Akidahnya rapuh dan semu. Dan jika kebodohannya digerakkan oleh emosi yg ekstrem, dg tenaga fisik yg kuat, ia bisa membuat kerusakan. Kendatipun mulutnya berbusa dg jargon-jargon agama, tetapi tangannya malah bisa merusak agama…

Semangat beragama harus terus dikembangkan dan dihidupkan. Tetapi semangat tsb harus dijalankan dg akal. Semangat sj tdk cukup. Utk menguatkannya diperlukan akal yg diaktifkan.

Majlis-majlis (termasuk medsos) tidak hanya menyampaikan informasi2 keagamaan, apalagi isu2 keagamaan yg tidak faktual, tetapi yg tidak kalah penting adalah men-sharing-kan bagaimana cara mengaktifkan akal dalam memahami agama.

Sebuah kebenaran takkan tertolak oleh akal, tidak kontradiktif dengan prinsip-prinsip kerja akal. Jika ada sebuah “informasi tentang kebenaran” bertentangan dengan akal (misalnya saling kontradiktif), maka diduga kuat ia bukan kebenaran. Ia bisa hanya mitos yg dipublikasikan.

Akal dn wahyu sama-sama bersumber dari Zat yang satu, agar keduanya bisa mengantarkan manusia kepada-Nya. Karena berasal dari Yang Satu, maka keduanya takkan saling bertentangan, apalagi meniadakan.

Jika manusia menggunakan keduanya dg benar, mereka akan sampai kepada-Nya. Jika mereka salah menggunakan keduanya, mereka takkan pernah sampai: mereka hanya merasa seolah-olah sampai, apalagi jika disertai dg keangkuhan, kesombongan dan perasaan bahwa hanya diri mereka yg paling benar..

Jadi, kalau mau beragama, gunakanlah akal. Karena agama dianugerahkan bagi makhluk yang berakal… Bukan untuk makhluk yang hanya bisa makan, tidur dan kawin…

17 Agustus 2015

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.