Jokowi Pintar Mereka Gusar

Ia rakyat jelata, tukang kayu, orang desa (kampungan), bukan siapa-siapa, bukan keturunan darah biru politik di negeri ini. Berani-beraninya dia menjadi walikota Solo dua periode, lalu jadi gubernur DKI, dan akhirnya berhasil menjadi Presiden RI ketujuh.

Siapa lawannya? Mantan jenderal bintang tiga, mantan Pangkostrad, anak dari begawan ekonomi Orde Baru, menantu dari mantan presiden 32 tahun yang kuat pada masanya. Dan Jokowi yang tukang meubel itu berhasil mengunggulinya. Sejak Pilpres 2014 lalu. Dan kini berulang lagi pada Pilpres 2019.

Para pembencinya menyebut dia Presiden plango-plongo, boneka, tidak bisa bahasa Inggris, tidak bisa mengurus negara dan lainnya. Panah-panah fitnah terus diarahkan kepadanya tanpa henti. Mereka tidak mau, tidak ikhlas menerima fakta keunggulan Jokowi di atas calon yang mereka dukung.

Semalam, saat debat kedua Pilpres 2019, dengan telak Jokowi menunjukkan kelasnya sebagai capres yang menguasai permasalahan, bahan dan solusi. Jawaban lugas, tegas, cerdas, dan bernas. Sekalipun mungkin ada sebagiannya jawabannya yang hiperbolik (berlebihan), tetapi secara umum jawabannya adalah rekam jejak dari apa yang sudah ia kerjakan. Publik merasakan dan menyaksikannya –kecuali orang yang sudah tertutup kedengkian dan kebencian.

Kata orang-orang, debat semalam menggambarkan seorang dosen yang sedang mengkuliahi seorang mahasiswa penting. Setiap pertanyaan atau keberatan dari mahasiswa tadi ia jawab dengan efektif dan mudah dimengerti. Sampai mahasiswa itu tak kuasa untuk menyetujui langkah dan uraian dosen. “Kalau sudah sama dan sepakat, kenapa harus diadu-adu,” kata mahasiswa tersebut ingin mengakhiri tema debat. Dan si dosen bilang, “ya saya setuju saja.”

Tentu saja kondisi ini membuat tidak nyaman para pembenci Jokowi. Bagi mereka (yang terbiasa hidup dalam fiksi), Jokowi itu planga-plongo sehingga tidak boleh pintar. Karenanya mereka mulai mencari-cari alasan agar Jokowi dianggap bodoh sesuai halusinasi mereka.

Makanya, mereka memproduksi hoaks bahwa Jokowi menggunakan earpiece dan pulpen cerdas. Dengan kedua alat itu, kata daya khayal mereka, Jokowi hanya mengikuti arahan dari orang lain untuk menjawab sebegitu bagus dan telak.

Dan begitu mendengar hoaks itu keesokan harinya, Jokowi sendiri jelas sangat kaget. Tidak pernah terbayangkan ada orang yang mampu membuat-buat fitnah dan dusta murahan. Akal sehat tidak pernah terbayang ada kebohongan seperti itu dalam hidup. “Jangan diteruskanlah hoaks-hoaks seperti itu. Ini pulpen yang semalam saya bawa, pulpen biasa,” katanya.

Orang-orang itu seolah lupa bahwa Jokowi sudah jadi presiden selama empat tahun lebih, mengunjungi rakyat berbagai kalangan, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote. Ia sudah banyak mengalami berbagai pengalaman luar biasa, dan mengeksekusi berbagai kebijakan strategis hingga ke detil-detil. Dan itu membuatnya menguasai berbagai permasalahan dan solusi-solusinya. Belum lagi sebelumnya ia pernah menjadi kepala daerah yang berprestasi.

Jadi, wajar saja kalau Jokowi pintar, cerdas dan menguasai masalah. Tetapi rupanya mereka tidak rela kalau Jokowi tampil pintar melebihi calonnya. Saking sudah bingung langkah, kini malah badan pemenangan mereka hendak melaporkan Jokowi ke KPU dan Bawaslu.

Mau tahu apa alasan mereka melaporkan Jokowi? Ini dia. Karena Jokowi menanyakan kepada calon mereka tentang strategi memajukan UNICORN. Kata mereka, pertanyaan itu mempermalukan calon mereka, karena si calon sempat tidak paham istilah ini.

Ya begitulah. Rupanya dalam bayangan mereka, Jokowi boleh saja jadi Presiden, tetapi ya jangan terlihat pintar lah. Mereka lebih nyaman dengan ilusi tentang sosok planga-plongo yang mereka fiksikan.

Maklum, mereka adalah kaum pendukung fiksi. Bahkan hidupnya pun dalam fiksi, tidak mau menerima realitas yang begitu jelas di depan mata.

Sehingga kalau Jokowi pintar mereka gusar.

Kasihan…

Bandung, 18 Pebruari 2019

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.