Jokowi, Manifestasi Politik dan Karakteristik Gus Dur

Sikap politik yang paling ditunggu-tunggu publik untuk kontestasi Pilpres 2019 adalah sikap politik kaum Gusdurian. Yang dimaksud dengan kaum Gusdurian, mencakup keluarga besar Gus Dur sendiri, para murid, pengagum, pecinta, dan orang-orang yang telah menjadikan Gus Dur sebagai guru dan inspirasi mereka.

Mereka tidak merepresentasikan kalangan NU secara structural, melainkan kalangan Nahdliyin dan Gusdurian secara kultural dan ideologis. Mereka bukan saja terdiri dari kalangan Nahdliyin semata, tetapi juga mencakup lintas golongan, etnis, agama, dan lain sebagainya, yang mengagumi KH Abdurrahman Wahid.

Sebelum ini, secara structural, PBNU memang tidak mengeluarkan pernyataan pers dukungan pada salah satu capres. Namun, ucapan Ketum PBNU KH Said Aqil Siradj bisa menjadi acuan dan bisa dimengerti ke mana arahnya. Saat itu Kyai Said Aqil menyatakan bahwa organisasinya tidak mendukung pasangan Jokowi-Ma`ruf, tetapi mensukseskannya. Seperti kita ketahui, Kyai Ma`ruf yang menjadi calon wakil presiden bagi capres Jokowi adalah Rois Am PBNU. Tentu saja, adalah proporsional jika PBNU mensukseskan pasangan Jokowi-Ma`ruf.

Kini, Rabu 26 September 2018 sore, sikap politik kaum Gusdurian telah diambil. Dibacakan langsung oleh Yenny Wahid, puteri kedua Gus Dur, kaum Gusdurian menyatakan sikap untuk mendukung pasangan Jokowi-Ma`ruf. Ada beberapa alasan, di antaranya adalah karena kaum Gusdurian menghendaki sosok pemimpin yang tidak menjaga jarak dengan rakyat, menghadirkan keadilan sosial bagi rakyat tanpa pandang bulu, sosok pemimpin yang sederhana, mampu memenuhi basic need, basic rights dari rakyat yang dulu tidak terjamah. Pemimpin itu sosok yang sederhana, dan kaya dengan karya.

Beberapa detik sebelum nama pasangan Jokowi-Ma`ruf disebutkan oleh Yenny Wahid, public sudah bisa menebak kemana sebenarnya arah dukungan Gusdurian itu diberikan. Diksi dan kriteria yang disampaikan oleh Yenny sudah mengindikasikannya. Hanya saja, memang di awal-awal pembicaraan, saat bercerita tentang masa kecil Gus Dur, Yenny sempat menyebut bahwa Gus Dur kecil pernah tinggal bertetangga dengan Margono, kakek dari Prabowo.

Penyebutan nama Prabowo di awal-awal sambutan Yenny bisa dipahami seolah-olah Gusdurian akan mendukung Prabowo. Tetapi narasi tentang kriteria pemimpin yang disampaikan pada kalimat-kalimat sesudahnya terbaca jelas sekali merujuk pada sosok Jokowi. Dan, di akhir, Yenny menyampaikan, “Kami memilih pasangan nomor urut 1. Bismillah, Jokowi akan kembali pemimpin Indonesia. Wallahul muwaffiq ilaa aqwam al-thariq.”

Mengapa Gusdurian akhirnya menetapkan pilihan untuk mendukung pasangan Jokowi-Ma`ruf? Apa yang disampaikan Yenny sudah sangat jelas. Tetapi secara track record memang Jokowi paling merepresentasikan sosok Gus Dur yang kita kenal selama ini. Populisitas Gus Dur sangat terlihat pada sosok Jokowi.

Serangan fitnah yang dulu pernah dialami oleh Gus Dur, juga mengenai Jokowi sejak lima tahun lalu. Goyangan politik yang dulu pernah dialami oleh Gus Dur saat menjadi Presiden RI ke-4, juga pernah menerpa Jokowi di awal-awal pemerintahannya. Dan, ini yang tidak kalah menarik, sikap cuek dan tidak baper Gus Dur juga diwarisi oleh Jokowi.

Masih ingat ucapan yang menjadi ciri khas Gus Dur? Tentu saja, kita semua yang mengenal Gus Dur ingat dan sering menjadikan ciri khas itu sebagai salah satu gaya pembicaraan. “Gitu aja kok repot,” kata Gus Dur. Kalimat ini Gus Dur ucapkan dalam rangka merespon berbagai sikap dan perilaku orang-orang kepadanya, yang konteksnya bisa beragam. Orang-orang banyak yang meminta apa komentar Gus Dur terhadap sikap orang-orang itu, dan Gus Dur cukup mengatakan “Gitu aja kok repot.” Inti dari kalimat ini adalah bahwa Gus Dur tidak merasa direpotkan oleh sikap orang-orang itu.

Nah, ucapan khas Gus Dur itu juga diwarisi oleh Jokowi, dengan diksi yang berbeda tetapi maksud dan nuansanya sama. Saat Jokowi dulu sering menerima serangan dari berbagai kalangan, wartawan pernah menanyakan komentarnya. Apa jawaban Jokowi? Ia bilang, “Aku rapopo.” Aku tidak apa-apa, alias baik-baik saja, dan tidak merasa direpotkan oleh serangan orang-orang kepadanya. Dan memang kita melihat Jokowi adalah sosok yang sangat kebal menghadapi berbagai serangan dan nyinyiran berbagai kalangan yang tidak pernah berhenti sampai sekarang.

Karenanya rasional dan proporsional jika kalangan Gusdurian menjatuhkan pilihan kepada sosok Jokowi yang secara bersamaan wapresnya adalah KH Ma`ruf Amin, Rois Am PBNU, salah seorang ulama sepuh di kalangan NU. Bagi kalangan NU, ini akan menjadi sejarah baru yang sulit terulang di kemudian hari. Dulu, Ketum Umum PBNU pernah menjadi Presiden RI, yakni Gus Dur sendiri, dan kini, Rois Am PBNU akan menjadi Wakil Presiden untuk periode 2019-2024. Dua posisi tertinggi di PBNU menempati dua posisi tertinggi di NKRI.

Jadi, mengapa Gusdurian mantap menjatuhkan pilihan kepada Jokowi? Jelas, karena Jokowi adalah manifestasi dari politik dan karakteristik Gus Dur.

Bandung, 26 September 2018

Bagea

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.