Jokowi dan Poranda Suriah

Masalah Suriah sudah sangat rumit dan eskalatif. Karena itu akarnya harus segera dicabut.

Sebelum para pemberontak (domestik dan mancanegara) itu muncul dan datang menghancurkan Suriah, negeri itu aman di bawah kendali Bassar. Karena itu, solusinya adalah memadamkan kekuatan pemberontak itu sampai akarnya.

Hanya saja, karena sudah ada framing dan propaganda, maka apa pun yg dilakukan Bassar akan disalahkan. Kekuatan luar masih membantu pemberontak, sementara kehancuran dan tragedi-tragedi Suriah terus dialamatkan kepada Bassar…

Dan di sini, di negeri ini, sekalipun sudah banyak informasi pembanding tentang Suriah, mainstream umat Islam Indonesia masih memfitnah Bassar sebagai Syiah dan pembuat tragedi di negeri sendiri. Sampai sekarang pun, kebanyakan umat Islam di sini masih menimpakan keburukan itu kepada Bassar.

Dulu, tahun 1980 an, terjadi perang Iran-Irak. Iran dikeroyok oleh semua negara Timur Tengah, dengan Irak sebagai pion. AS dan Barat mendukung Irak di bawah Saddam Husein secara penuh.

Semua negara Islam mendukung Irak dan berharap Irak menang. Alasannya apa? Karena, musuhnya Irak adalah Iran, lalu Iran itu Syiah, dan Syiah adalah bla bla bla (seperti biasa, tuduhan kafir dan sebagainya).. Saat itu saya yang masih anak-anak dan belum mengerti apa-apa, ikut-ikutan punya perasaan agar Irak menang melawan Iran. Mungkin Anda pun, yang saat itu sudah bisa menonton satu-satunya siaran TV dari TVRI, berpikir begitu.

Delapan tahun perang, Iran yang dikeroyok dan dikucilkan itu bukannya jatuh, justru malah menguat, dan terus kuat hingga sekarang. Sebagian umat Islam mulai menyadari persoalan, sehingga melihat Irak-Iran dengan kacamata berbeda. Apalagi kini Iran menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan di kawasan juga dunia.

Banyak orang yang “bertobat” dalam melihat Iran sekarang. Dulu mereka berpikir negatif dan menyerang Iran dengan kata-kata, sekarang banyak yang berubah menjadi positif. Mungkin saja, suatu saat, perubahan image itu akan terjadi pula kepada Bassar dan Suriah suatu saat. Tergantung kondisi Suriah dalam waktu-waktu mendatang.

Beberapa hari lalu, Presiden Jokowi berkunjung ke Iran, menemui Presiden Iran Hassan Rouhani, dan juga Rahbar Ayatullah Ali Khomenei. Ada orang yang bertanya, kira-kira dalam pertemuan kemarin itu, Jokowi memberi pesan tidak ke Iran agar memberikan desakan kepada Bassar yang dianggapnya sumber tragedi di Suriah. Bagi orang ini, Bassar adalah sumber masalah di Suriah. Karena Iran dekat dengan Assad, maka ia berharap agar Jokowi memberi pesan kepada Iran agar menekan Bassar Assad. Ia berharap agar Jokowi berperan dalam kemelut di Suriah. Begitu kira-kira.

Banyak kalangan yang berpendapat bahwa sumber kezaliman di berbagai belahan dunia saat ini masih berasal dari kekuatan hegemonik Barat (AS) dan sekutu-seukutuinya. Untuk menghentikan hegemoni tersebut, harus dibangun poros kekuatan baru. Di antara poros itu ada Iran, Rusia, India dan Cina.

Kita orang Indonesia sepakat untuk segera memutus ketergantungan kepada Barat, setidaknya mengurangi sampai batas wajar. Dan itu tentu saja harus ada alternatif kekuatan dunia, antar negara, baik menyangkut kerjasama ekonomi, politik, budaya, iptek, SDM, dan lain sebagainya.

Dan dengan kesadaran ini pulalah Jokowi menjalankan visi pemerintahannya. Maka, dia membangun hubungan yang intensif dan kongkrit dengan Iran dan Cina, juga India dan Rusia. Jokowi mulai menghilangkan ketergantungan kepada AS dan Eropa.

Tentu saja visi dan kebijakan politik ini mengganggu AS dan sekutunya. Mereka juga khawatir nasib keberlangsungan freeport di tangan Jokowi kelak. Karena itu mereka berupaya menghambat Jokowi, melalui tangan-tangan dan mulut-mulut di dalam negeri. Makanya Jokowi terus diungkit-ungkit, dengan sekian isu, propaganda dan fitnah. Seperti fitnah bahwa Jokowi itu Cina, Kristen, atau PKI dan lainnya. Huruf H di depan namanya pernah dituduh sebagai kepanjangan dari Herbertus, padahal itu singkatan dari Haji.

Isu asing aseng terus dihembuskan. Tol laut yang visinya adalah untuk memudahkan transportasi barang antar pulau-pulau, dituduh sebagai tol untuk memudahkan orang-orang Cina masuk ke Indonesia. Proyek Speed Train Jakarta-Bandung yang tendernya dimenangkan Tiongkok dilihat sebagai bukti upaya untuk menguatkan dominasi Cina atas Indonesia. Reklamasi Teluk Jakarta yang sudah digulirkan sejak zaman Fauzi Bowo dipropanganda oleh para pembencinya sebagai upaya pemerintah (dalam hal ini melalui Ahok di Jakarta) untuk memigrasikan warga Cina ke Jakarta, agar mereka menempati pulau-pulau reklamasi dan menjadi penduduk di sini. Tidak tanggung-tanggung, 25 juta warga Cina disebut-sebut akan tinggal di Indonesia.

Menanggapi isu-isu domestik seperti ini, kita tidak habis pikir, sebodoh itukah Jokowi dan pemerintahannya yang sekarang terlihat serius membangun infrastruktur? Oleh para pembencinya, kebijakan tax amnesty yang sukses dan gerakan saber pungli dilihat dengan kacamata hitam. Penenggelaman kapal-kapal asing pencuri kekayaan laut Indonesia juga ada yg belum ikhlas mengapresiasi.

Eksekusi napi jaringan narkoba yang sebelumnya tidak dilakukan oleh presiden sebelumnya, tidak diapresiasi. Ketika Crane jatuh di Saudi saat musim Haji 2015 yang menyebabkan banyak korban itu, sebagian mereke menyebutnya sebagai kesalahan Jokowi. Kata mereka, Jokowi pembawa sial, gara-gara Jokowi datang ke Saudi, Crane jatuh dan menewaskan banyak korban dari jamaah haji. Dan lain-lain…

Upaya Jokowi yang ingin mengurangi ketergantungan pada AS dan Barat pasti tidak mudah. Dan hubungan yang sekarang dijalin lebih konkrit dengan Cina, Rusia, India, dan Iran, seharusnya dipahami dalam konteks ini. Dan ketika kemarin Jokowi berkunjung ke Iran, bisa jadi pula merupakan peran Indonesia untuk mengurai benang kusut di Suriah yang porak poranda.

Semoga saja ini berpengaruh positif pada terciptanya keseimbangan kekuatan dunia. Dari Indonesia untuk kedamaian dunia.

Kitu…

17 Desember 2016

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.